Fakta Mengenaskan Bayi Sejoli Dikubur di Perkebunan: Melahirkan Sendirian, Leher Ditarik Paksa hingga Meninggal


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Polisi mengungkap fakta baru terkait kasus sejoli mengubur bayi di area perkebunan Dusun Kropoh, Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Temuan mengenaskan, bayi berjenis perempuan itu ternyata tewas lantaran ditarik paksa saat proses kelahiran.

Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana mengungkapkan, bayi meninggal karena kehabisan napas saat proses kelahiran belum selesai. Dalam kondisi panik, sang ibu menarik bayi secara paksa.

ā€œPenyebab matinya itu ada habis napas. Habis napas karena ketika persalinan belum selesai berusaha ditarik. Ditarik itu kan megangnya leher, ya hasil autopsinya seperti itu,ā€ kata Bodia saat konferensi pers di Aula Condrowulan, Mapolres Semarang, Rabu (9/9/2026).

Di balik kasus tersebut terdapat kisah dua anak muda yang berstatus pacaran. Keduanya merupakan lulusan sekolah di SMA yang sama dan baru menyelesaikan pendidikan pada Maret 2026 Hubungan mereka kemudian berujung pada kehamilan yang disembunyikan dari keluarga.

Perempuan berinisial VA (17) tidak menceritakan kehamilannya kepada kedua orang tuanya. Begitu pula sang kekasih, WAP, yang kini berusia 19 tahun. Padahal, menurut polisi, keduanya sempat memiliki keinginan untuk memberitahukan kehamilan tersebut kepada keluarga.

Namun rasa malu dan ketakutan membuat rencana itu urung dilakukan. ā€œSetelah mengetahui kehamilan tersebut sebenarnya ingin memberi tahu orang tua. Namun karena merasa malu dan belum berani sehingga sampai terjadi proses persalinan sendiri,ā€ ujar Bodia.

Hingga akhirnya, pada suatu dini hari, VA melahirkan seorang diri di kamar mandi rumahnya. Tidak ada bidan. Tidak ada tenaga medis. Tidak ada keluarga yang mendampingi. Persalinan berlangsung sekitar pukul 02.30 WIB.

Menurut keterangan polisi, proses tersebut dilakukan dalam kondisi terburu-buru karena VA takut kehamilannya diketahui orang lain. Dalam keadaan panik, proses kelahiran kemudian dilakukan secara paksa.

ā€œMelahirkan seorang bayi berjenis kelamin perempuan tanpa bantuan medis. Proses persalinan dilaksanakan secara terburu-buru takut diketahui orang sehingga ketika belum tuntas persalinan pelaku anak menarik paksa bayi tersebut hingga keluar dari rahim,ā€ terang Bodia.

Baca juga:  Satu Masih Buron, Pelaku Begal di Simpang Java Mall Ditangkap

Ketika bayi akhirnya lahir, tidak terdengar tangisan. Bayi tersebut juga tidak bergerak. VA kemudian mengira anak yang baru dilahirkannya memang telah meninggal secara alami. Namun hasil pemeriksaan medis berkata lain.

ā€œDikira oleh pelaku anak bayi tersebut meninggal secara natural karena mungkin tidak bisa, tapi dari hasil autopsi itu bisa hidup di luar kandungan,ā€ kata Bodia.

Setelah bayi tidak menunjukkan tanda kehidupan, VA berusaha membersihkan sisa-sisa persalinan dan menyembunyikan keberadaan bayi tersebut. Menurut polisi, tali pusat dipotong menggunakan gunting. Ari-ari kemudian dibuang ke kloset.

Bayi dibungkus menggunakan daster, dimasukkan ke kantong plastik hitam, kemudian diletakkan di bawah gerobak di samping rumah. Semua dilakukan dalam kesunyian. Tak ada orang tua yang mengetahui bahwa pada dini hari itu telah terjadi sebuah persalinan di rumah mereka.

VA bahkan mengalami infeksi pada rahim setelah proses tersebut. Saat ini, polisi melakukan pembantaran penahanan terhadap VA karena harus menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Kabupaten Semarang.

ā€œSaat ini terhadap pelaku anak kami laksanakan pembantaran penahanan karena ada infeksi dalam di rahimnya. Jadi saat ini sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Kabupaten Semarang,ā€ ungkap Bodia.

Barang bukti dan pers rilis kasus dugaan pembunuhan dan penguburan bayi baru dilahirkan di aula Condrowulan Polres Semarang, Rabu (9/9/2026). FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Beberapa jam setelah persalinan, cerita itu berlanjut ke rumah WAP. WAP yang mengetahui keberadaan bayi tersebut kemudian mengambil jasadnya pada siang hari. Dengan menggunakan linggis, dia menggali tanah di area perkebunan belakang rumahnya. Bayi itu kemudian dikuburkan di lokasi yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Plastik yang sebelumnya digunakan untuk membungkus bayi juga dibakar. Tujuannya agar keberadaan bayi tersebut tidak diketahui orang lain. Ā WAP kemudian kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Hingga sebuah kejadian tak terduga membongkar semuanya.

Baca juga:  Gedung PGRI Kabupaten Semarang Diresmikan, Hasil Iuran Anggota

Jasad bayi tersebut akhirnya ditemukan bukan oleh polisi, melainkan ayah WAP sendiri. Saat itu sang ayah tengah mencari rumput di sekitar perkebunan belakang rumah. Ia melihat gundukan tanah yang mencurigakan. Rasa penasaran membuat gundukan tersebut diperiksa. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan jasad seorang bayi di dalamnya.

ā€œYang menemukan itu bapaknya orang tua dari tersangka yang laki-laki. Itu tidak sengaja, memang nyari rumput,ā€ ujar Bodia.

Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada perangkat desa dan kepolisian. Dari situlah penyelidikan dimulai. Namun polisi tidak serta-merta mencurigai keluarga yang menemukan bayi tersebut. Penyidik terlebih dahulu menyisir kemungkinan adanya tenaga medis atau bidan yang membantu proses persalinan.

ā€œKalau prosesnya yang pasti kita melihat di sekitar lingkungan tersebut. Dalam penyelidikan biasanya menarget kepada yang pertama, apakah ada bidan-bidan yang membantu kelahiran. Nah, dari situ tidak ada,ā€ jelas Bodia.

Penyelidikan kemudian diperluas. Polisi mencari informasi mengenai warga sekitar yang mengetahui adanya kehamilan atau menunjukkan gerak-gerik mencurigakan. Dari informasi yang dikumpulkan, nama WAP mulai muncul.

ā€œKita melaksanakan penyelidikan ke sekitar. Apakah ada orang-orang yang diduga atau gerak-geriknya mencurigakan. Dari situ kita dapat bahan keterangan,ā€ ujarnya.

Polisi akhirnya memperoleh informasi mengenai adanya pembicaraan terkait kehamilan yang mengarah kepada WAP. ā€œInformasi dari informan bahwa ada orang yang diduga ini dan ada pembicaraan-pembicaraan terkait masa kehamilan dan lain-lain. Akhirnya mengerucut kepada satu orang yang kita duga kuat,ā€ imbuhnya.

Ketika diamankan, WAP akhirnya mengakui perbuatannya. Pengakuan itu kemudian menjadi titik penting bagi penyidik untuk mengungkap siapa ibu bayi tersebut. ā€œDari situ ketika kita laksanakan pengamanan, dia mengakui. Mengakui baru dari situ kita kembangkan sampailah kepada pelaku anak,ā€ pungkas Bodia. (prast/muz)


TERKINI

Rekomendasi

...