JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Mikroplastik (partikel plastik) bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga ancaman bagi kesehatan masyarakat. Paparan bahan sintetis ini dapat memicu stres oksidatif, inflamasi kronis, dan gangguan endokrin yang berdampak pada sistem metabolik tubuh.
Edukasi dan kesadaran masyarakat tentang bahaya mikroplastik, terutama melalui konsumsi minuman kemasan plastik, merupakan langkah strategis dalam mendukung pencegahan penyakit Jantung dan Pembuluh Darah serta Diabetes Melitus (DM), terutama untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2040 mendatang.
Hal demikian disampaikan Tim Pengabdian Masyarakat Prodi D3 Fakultas Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran saat menyampaikan kegiatan Edukasi KuMuRi (Kurangi Minuman Berperisa) dan Kemasan Mengandung Mikroplastik di Madrasah Aliyah (MA) Roudlotul Jannah dan SMK Perintis 29 Ungaran, pekan kemarin.
Pemilihan materi tersebut didasari makin meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular, khususnya penyakit Jantung, Pembuluh Darah dan DM di masyarakat. Data terbaru menyebut bahwa di Indonesia, pada kelompok usia 20–79 tahun, prevalensi diperkirakan mencapai 10,6 % atau sekitar 19,5 juta orang. Situasi ini menunjukkan bahwa DM bukan hanya masalah kesehatan individual tetapi juga berimplikasi sosial-ekonomi yang luas.
“Selaras dengan visi Indonesia Emas tahun 2040 yang menekankan pembangunan manusia yang sehat, unggul dan berdaya saing, perlu adanya upaya pencegahan penyakit DM, penyakit Jantung, dan Pembuluh Darah dengan merubah gaya hidup masyarakat,” ujarnya.
Dijelaskan, kemudahan akses pangan dan minuman siap konsumsi, salah satunya minuman manis atau berperisa, menjadi faktor peningkatan risiko signifikan terhadap penyebab banyaknya kasus penyakit tersebut.
“Minuman berperisa gula (sugar-sweetened beverages) merupakan kelompok minuman yang ditambahkan gula atau pemanis buatan dalam jumlah tinggi, seperti soft drink, minuman energi, teh manis kemasan, kopi susu siap saji, minuman boba, serta minuman serbuk berperisa,” paparnya.
Jenis minuman tersebut umumnya mengandung sukrosa, fruktosa, glukosa, atau sirup jagung fruktosa tinggi (high-fructose corn syrup) yang memiliki nilai kalori tinggi tetapi rendah zat gizi (empty calories).
Anggota Tim Prodi D3 Keperawatan UNW, Dewi Siyamti, S.Kep., Ns., M.Kep menambahkan, penyebab timbulnya penyakit tersebut selain faktor gaya hidup, juga terkait isu lingkungan-kesehatan yang memunculkan perhatian baru, terhadap paparan mikroplastik (partikel plastik kurang dari 5 mm).
Menurutnya, studi menunjukkan bahwa mikroplastik dapat memasuki tubuh lewat konsumsi makanan dan minuman, udara, dan bahkan melalui kemasan plastik.
Lebih lanjut, penelitian literatur mencatat bahwa mikroplastik memiliki potensi memberikan dampak negatif terhadap sistem metabolic termasuk gangguan hormon, inflamasi kronis, dan potensi gangguan metabolik lainnya.
“Meskipun hubungan langsung antara mikroplastik dengan penyakit Jantung, Pembuluh Darah dan DM masih dalam tahap penelitian, kombinasi faktor gaya hidup mengkonsumsi minuman manis, dengan paparan lingkungan seperti mikroplastik membuka kerangka baru kita untuk melakukan intervensi preventif,” jelasnya.
Dijelaskan lebih lanjut, perubahan gaya hidup masyarakat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda, telah meningkatkan konsumsi minuman manis secara signifikan.
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, sebanyak 61,27% penduduk Indonesia usia kurang dari 3 tahun mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali per hari. Selain itu, data Riskesdas 2023 menyebutkan tren peningkatan sebesar 6–8% dibandingkan tahun 2018.
“Hal itu seiring pertumbuhan industri minuman siap konsumsi. Konsumsi berlebih ini berkaitan langsung dengan peningkatan prevalensi kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas sentral, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya resistensi insulin dan DM tipe 2,” ungkapnya.
Anggota Tim Prodi D3 Keperawatan UNW Eka Adimayanti, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa paparan mikroplastik menstimulasi produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang menyebabkan kerusakan sel dan peradangan kronis.
Kondisi inflamasi ini berkontribusi pada gangguan metabolik termasuk resistensi insulin, faktor penting dalam diabetes melitus tipe 2. Perlu dihindari beberapa mikroplastik mengandung bahan kimia aditif seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates, yang bersifat endocrine disruptor.
“Zat-zat ini meniru atau menghambat kerja hormon, terutama estrogen, insulin, dan hormon tiroid, yang dapat memicu gangguan metabolik, obesitas, dan DM tipe 2. Selain itu menyebabkan kerusakan jaringan dan organ, terjadi penumpukan mikroplastik di hati menyebabkan stres oksidatif dan gangguan detoksifikasi,” paparnya.
Dijelaskan lebih lanjut, risiko di ginjal, mikroplastik dapat mengganggu filtrasi dan meningkatkan risiko nefropati. Sedangkan, di sistem saraf, mikroplastik mikro dapat menembus sawar darah-otak (blood-brain barrier) dan memicu gangguan neuroinflamasi. Selain, dapat menyebabkan gangguan imunitas dan inflamasi usus.
“Mikroplastik mengubah keseimbangan mikrobiota usus, menurunkan imunitas mukosa, dan meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut syndrome). Kondisi ini memicu inflamasi sistemik yang berperan dalam patogenesis penyakit metabolik kronis seperti penyakit Jantung dan Pembuluh Darah serta DM dan aterosklerosis,” tandasnya.
Sementara itu, turut hadir dalam kegiatan mahasiswa dari Tim, Nissa Ussakinah dan Sharfina ‘Arsyi Hafizhah. Dalam kegiatan ini disampaikan materi berjudul “Menuju Indonesia Emas 2040 Bebas Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah serta DM: Edukasi Bahaya Minuman Berperisa dan Mikroplastik sebagai Srategi Preventif pada Generas Muda”. (muz)



