Menilik Cerita Generasi Ketiga Lentog Tanjung Pak Ndek , Menjaga Kuliner Otentik Kudus di Tengah Pasang Surut Musim


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Panci besar mengepulkan aroma gurih santan di sebuah warung sederhana di Kudus. Di balik kepulan asap itu, jemari Asfiatun dengan cekatan memotong lentong-lontong berukuran jumbo khas Desa Tanjungkarang.

Mbah Asfiatun (sapa akrabnya) adalah generasi ketiga yang kini memegang kendali atas cita rasa legendaris Lentog ‘Pak Ndek’. Perjalanannya memimpin warung ini tidak pernah direncanakan. Baginya, ini adalah takdir yang harus diteruskan demi menjaga warisan keluarga.

Menjadi penerus usaha kuliner keluarga adalah pilihan hidup yang penuh tanggung jawab bagi Asfiatun. Diceritakan, usaha ini awalnya dirintis dan dibesarkan oleh sang ayah, H Rohmad yang dikenal Pak Ndek. Mulanya berjualan dengan keliling dari desa ke desa pada 1952-1984. Kemudian pada 1985 mulai mangkal.

Setelah Pak Ndek wafat, usaha sempat turun ke kakak perempuan Asfiatun, Asmiati dari tahun 1989-2003. Lantaran sang kakak jatuh sakit, membuat Asfiatun harus turun tangan melanjutkan estafet bisnis ini.


Baca juga:  Sosialisasi IDAMAN, Wagub Jateng Taj Yasin Minta Pengembangan Jamu Tradisional Libatkan Ekonomi Kreatif dan Kaum Muda

‘’Jadi itu meneruskan Bapak. Bapak meninggal, terus mbak saya yang pegang. Karena mbak (kakak) saya sakit terus meninggal, kemudian beralih ke saya,’’ kenang Asfiatun sambil menata piring-piring pelanggan.

Bagi masyarakat awam, lentog sering kali disamakan dengan lontong biasa. Namun, Asfiatun menjelaskan ada perbedaan mendasar pada ukuran dan teksturnya. Menurutnya, lontong biasa berukuran kecil, sedangkan lentog berukuran sangat besar. Selain itu, proses memasak yang lama membuat lentog bertekstur sangat lembut namun tetap padat.

Saat disajikan, satu porsi Lentog Tanjung Pak Ndek menyajikan perpaduan rasa gurih dan manis yang khas. Di atas potongan lentog, Asfiatun menyiramkan sayur gori (nangka muda) selembut daging, tahu dan tempe masakan bacem, sambal khas, serta taburan bawang goreng.

Perbedaan mencolok dengan kuliner bersantan lainnya terletak pada kuah lodeh kental atau yang kerap disebut warga lokal sebagai opor, yang disiram melimpah di atas daun pisang sebagai alas piring.

Baca juga:  DPRD Karanganyar Terima Berkas Pemenang Pilkada dari KPU

Disinggung pendapatan, menjalankan usaha kuliner di era modern membawa tantangan tersendiri, terutama dalam menghadapi fluktuasi kunjungan pembeli. Kata Dia, kunjungan pembeli tidak menentu, kadang sangat ramai, kadang melandai pada hari biasa.

Meski kunjungan naik-turun, Asfiatun tetap mampu menjaga kestabilan bahan baku yang dihabiskan. Pembeli tidak hanya datang dari sekitar Kudus, tetapi juga pelancong luar kota yang rindu kuliner otentik Jawa Tengah.

Sejak tahun 2003 hingga hari ini, Lentog Pak Ndek di tangan Asfiatun tetap bertahan menjadi salah satu ikon kuliner yang diburu di Kudus. Di tengah gempuran makanan modern, Asfiatun membuktikan bahwa sepiring lentog bukan sekadar makanan pengenyang perut, melainkan sebuah lembaran sejarah keluarga yang terus hidup. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...