JATENGPOS.CO.ID, PURWOREJO – Bantuan pendidikan tidak boleh berhenti pada urusan pencairan dana. Program Indonesia Pintar (PIP) Madrasah harus menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tetap bersekolah, menyelesaikan pendidikan, dan memiliki kesempatan memperbaiki kehidupan keluarganya.
Hal tersebut ditegaskan Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, H. Wibowo Prasetyo, dalam pertemuan dan silaturahmi bersama orang tua siswa penerima PIP Madrasah se-Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, yang berlangsung di Gedung MWC NU Kecamatan Bener, Senin (12/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 200 orang tua siswa, para kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), serta guru. Hadir sebagai narasumber Wibowo Prasetyo dan Ketua Perkumpulan Guru Madrasah Mandiri (PGMM) Kabupaten Purworejo, Ahmad Tolbie, yang juga menjabat Kepala MI Cacaban Kidul.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan sertifikat kepada para siswa penerima PIP Madrasah melalui jalur aspirasi.
Wibowo mengatakan, persoalan pendidikan bagi keluarga kurang mampu tidak selalu berkaitan dengan biaya sekolah. Kebutuhan seragam, sepatu, buku, perlengkapan belajar, hingga transportasi sering kali menjadi beban tersendiri bagi orang tua, terutama ketika harus dipenuhi bersamaan dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
“Barangkali bagi sebagian orang biaya membeli sepatu atau perlengkapan sekolah tidak terlalu besar. Tetapi bagi keluarga yang penghasilannya terbatas, pengeluaran seperti itu bisa menjadi persoalan. Karena itulah negara harus hadir memastikan anak-anak tidak kehilangan kesempatan belajar hanya karena keadaan ekonomi orang tuanya,” ujar Wibowo.
Menurutnya, PIP merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam menjamin akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan miskin. Karena itu, pelaksanaannya harus terus diawasi agar bantuan benar-benar diterima oleh mereka yang berhak.
Wibowo mengingatkan bahwa PIP bukan bantuan pribadi anggota DPR ataupun hadiah politik, melainkan program pemerintah yang dibiayai melalui anggaran negara. Adapun jalur aspirasi merupakan salah satu mekanisme pengusulan calon penerima sesuai ketentuan yang berlaku.
“Yang paling penting bukan siapa yang mengusulkan, tetapi apakah bantuan tersebut benar-benar diterima anak yang membutuhkan. Saya ingin PIP tepat sasaran, tepat manfaat, dan tidak ada pungutan atau pemotongan yang tidak sesuai ketentuan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembaruan data siswa penerima bantuan. Menurut Wibowo, masih terbuka kemungkinan adanya anak dari keluarga kurang mampu yang belum terjangkau program karena persoalan administrasi maupun ketidaksesuaian data.
Karena itu, pihak madrasah diharapkan aktif melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan Kementerian Agama agar siswa yang memenuhi persyaratan memperoleh kesempatan yang sama untuk diusulkan sebagai penerima bantuan.
Lebih jauh, Wibowo mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya ditopang bantuan pemerintah. Keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak belajar, membangun karakter, serta memberikan dorongan untuk melanjutkan pendidikan merupakan faktor yang tidak kalah penting.
“Jangan pernah membuat anak merasa rendah diri karena keluarganya menerima bantuan pendidikan. Anak penerima PIP bukan berarti kurang mampu dalam prestasi. Justru bantuan ini diberikan agar keterbatasan ekonomi tidak menghalangi kemampuan dan cita-cita mereka,” katanya.
Wibowo berharap anak-anak madrasah di Kecamatan Bener memiliki keberanian untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Menurutnya, latar belakang ekonomi keluarga tidak boleh menjadi ukuran untuk membatasi masa depan seseorang.
“Anak petani, buruh, maupun pekerja dengan penghasilan terbatas mempunyai hak yang sama untuk bercita-cita menjadi dokter, guru, insinyur, ulama, atau pemimpin bangsa. Tugas kita bersama adalah menjaga agar jalan menuju cita-cita itu tidak terputus,” ujarnya.
Selain memperjuangkan keberlanjutan PIP, Wibowo menyatakan akan terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan madrasah melalui fungsi pengawasan dan kemitraan Komisi VIII DPR RI dengan Kementerian Agama.
Perhatian tersebut mencakup kebutuhan ruang kelas yang layak, sarana pembelajaran, peningkatan kualitas guru, serta pemerataan akses pendidikan, termasuk bagi siswa yang tinggal di wilayah perdesaan dan perbukitan.
Sementara itu, Ketua PGMM Kabupaten Purworejo, Ahmad Tolbie, menekankan pentingnya kerja sama antara madrasah dan orang tua dalam memastikan bantuan PIP memberikan manfaat nyata bagi keberlangsungan pendidikan siswa.
Menurutnya, madrasah memiliki tanggung jawab bukan hanya memberikan pembelajaran akademik dan keagamaan, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial ekonomi peserta didiknya.
Ahmad Tolbie memandang keberadaan PIP sangat membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Namun, bantuan tersebut perlu disertai pendampingan agar penggunaannya benar-benar mendukung kegiatan belajar.
Ia juga menekankan pentingnya ketelitian administrasi dan pembaruan data siswa, sehingga proses pengusulan maupun penyaluran bantuan dapat berjalan lebih baik.
Sebagai Kepala MI Cacaban Kidul, Ahmad Tolbie berharap perhatian terhadap pendidikan madrasah tidak terbatas pada bantuan kepada siswa, tetapi juga mencakup peningkatan fasilitas belajar dan penguatan kapasitas tenaga pendidik.
Madrasah, menurutnya, mempunyai peran strategis dalam membentuk generasi yang menguasai ilmu pengetahuan sekaligus memiliki landasan akhlak dan nilai-nilai keagamaan yang kuat.
Pada akhir pertemuan, Wibowo mengajak para orang tua dan guru menjadikan bantuan PIP sebagai dorongan untuk semakin memperhatikan keberlanjutan pendidikan anak.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya penerima bantuan, melainkan dari kemampuan program tersebut menjaga anak-anak tetap bersekolah hingga menyelesaikan pendidikannya.
“Harapan saya sederhana. Jangan sampai ada anak di Kecamatan Bener yang putus sekolah karena kemiskinan. Kalau kelak mereka berhasil meraih pendidikan tinggi, memperoleh pekerjaan yang baik, dan mampu mengangkat kehidupan keluarganya, di situlah kita melihat manfaat sesungguhnya dari PIP,” pungkas Wibowo.







