JATENGPOS.CO.ID, LISBON – Fase liga Liga Champions 2025/2026 resmi berakhir lewat Matchday 8 yang berlangsung luar biasa dramatis. Seluruh 36 klub bertanding pada waktu bersamaan, menghadirkan malam penuh ketegangan dengan nasib lolos dan tersingkir ditentukan hingga detik terakhir.
Sejak peluit awal dibunyikan, perubahan posisi di klasemen terjadi silih berganti. Hasil dari satu stadion langsung berdampak pada laga lain, membuat Matchday pamungkas ini menjadi salah satu yang paling kacau dan tak terlupakan dalam sejarah format baru Liga Champions.
Drama terbesar datang dari Portugal. Sporting CP dan Benfica sama-sama menjadi pusat perhatian, mengguncang peta persaingan dan menyeret sejumlah raksasa Eropa ke posisi yang tidak diharapkan.
Anatoliy Trubin jadi kiper kelima dalam sejarah Liga Champions yang mampu mencetak gol. Pemain Benfica itu juga penentu keberhasiln timnya lolos ke fase play-off lewat golnya ke gawang Real Madrid.
Adapun empat kiper sebelumnya yang juga pernah mencetak gol adalah Hans-Jorg Butt (4 gol), Sinan Bolat, Vincent Enyeama, dan Ivan Povedel.
Gol gila Anatoliy Trubin tak cuma mengguncang Estadio da Luz saja. Di Lisbon, kegemparan menimpa beberapa lokasi lainnya.
Satu di antaranya adalah kantor berita. Saat itu, dalam sebuah siaran langsung yang digelar berbarengan dengan duel Benfica vs Real Madrid, seorang host dan narasumber dibuat kaget setelah gol Trubin tercipta.
Saat itu, sang narasumber sedang menjawab pertanyaan host. Tiba-tiba saja, ketika gol tercipta, pekerja lain di seberang studio berteriak kegirangan.
“Ahh tepat sekali. Oke. Sepertinya ada gol. Kita memiliki kantor redaksi yang terbuka, jadi…” ujar host yang ikutan kaget mendengar teriakan gembira staf.
“Ya jadi tadi itu Benfica mencetak gol. Sepertinya ada banyak pekerja di sini yang juga fans Benfica. Entah siapa yang mencetak gol.”
“Kita bermain di Liga Champions, kompetisi internasional, kita ingin Benfica menang, kalau Benfica menang Portugal menang. Kita menang 4-2,” sambung narasumber tersebut yang sebelumnya nyaris terjungkal karena saking terkejutnya.
Memang, Benfica menciptakan salah satu malam paling bersejarah di Liga Champions musim ini setelah menundukkan Real Madrid dengan skor 4-2, Kamis (29/01/2026) dini hari WIB. Kemenangan dramatis itu memastikan langkah klub Portugal tersebut ke fase play-off, sekaligus menorehkan cerita yang akan dikenang lama di Estadio da Luz.
Laga berjalan menegangkan hingga detik terakhir. Benfica berada dalam posisi rawan karena satu gol tambahan bagi Real Madrid bisa membuat mereka tersingkir. Namun, gol luar biasa penjaga gawang Anatoliy Trubin di masa injury time justru mengunci kemenangan sekaligus tiket ke fase berikutnya.
Pelatih Benfica, Jose Mourinho, mengakui pertandingan tersebut menuntut keberanian untuk mengambil risiko besar. Menurutnya, situasi di menit-menit akhir memaksa timnya untuk mengubah pendekatan demi mengejar kemenangan yang mutlak dibutuhkan.
Kemenangan atas Real Madrid, bagi Mourinho, bukan sekadar hasil pertandingan. Ada nilai prestise, sejarah, hingga dampak ekonomi yang menyertai sukses besar tersebut.
Jose Mourinho menegaskan bahwa kemenangan dramatis semacam ini hanya bisa diraih jika sebuah tim berani mengambil risiko di momen krusial.
“Menang atau kalah di momen terakhir sudah sering terjadi, tetapi untuk menang Anda harus berani mengambil risiko. Anda merasa gol itu akan datang, tetapi ternyata tidak, sehingga Anda harus mengubah beberapa hal,” ungkap Mourinho.
Ia mengakui Benfica sempat berada di ambang kegagalan karena satu peluang Real Madrid saja bisa mengubah segalanya.
“Pada akhirnya, satu bola untuk mereka bisa membuat skor menjadi 3-3 dan dengan hasil itu kami tetap tersingkir. Mengalahkan Real Madrid punya arti besar dan sangat signifikan. Pada momen itu kami harus memberikan segalanya,” ujarnya.
Gol Anatoliy Trubin menjadi sorotan utama. Bukan hanya karena dicetak oleh seorang penjaga gawang, tetapi juga karena momen dan dampaknya yang menentukan nasib Benfica.
Mourinho menegaskan bahwa situasi tersebut bukan hal spontan. Ia mengungkapkan bahwa Trubin memang sudah dipersiapkan untuk maju dalam situasi tertentu.
“Kami tahu dia bisa melakukannya. Pada laga di Dragao dua minggu lalu, Trubin juga berada di situasi terakhir dan menyundul bola, hanya saja saat itu diblok pemain Porto,” cetus Mourinho.
“Anda harus mengirim bola ke sana. Itu adalah gol yang spektakuler dan terlepas dari apa yang terjadi selanjutnya di kompetisi ini, gol tersebut membawa kami ke babak berikutnya dan menjadi momen bersejarah melawan Real Madrid,” lanjutnya.
Mourinho juga menekankan pentingnya gol tersebut bagi klub secara keseluruhan. “Itu penting untuk beberapa alasan, penting secara ekonomi bagi Benfica, dan bahkan lebih penting lagi dari sudut pandang prestise,” kata Mourinho.
Mourinho turut menjelaskan keputusan-keputusan krusial yang ia ambil pada babak kedua. Saat skor 3-2, ia mengaku belum yakin apakah keunggulan itu cukup untuk meloloskan timnya.
“Saya melakukan pergantian pemain ketika skor 3-2 dan saya tidak tahu apakah itu sudah cukup. Para pemain yang masuk jelas untuk mencoba memenangkan pertandingan,” tukasnya.
Ketika Real Madrid bermain dengan sepuluh pemain dan Benfica kehabisan jatah pergantian, Mourinho mengambil langkah tak biasa.
“Ketika itu tidak juga datang, dan mereka bermain dengan satu pemain lebih sedikit, saya mengirim Nico Otamendi ke depan karena kami tidak punya lagi pergantian,” tuturnya.
Instruksi terakhir sebelum gol penentu pun diungkap Mourinho dengan detail. “Ketika tendangan bebas diberikan, saya menyuruh Trubin maju dan meminta Dahl berdiri di garis tengah jika mereka memenangkan bola, sehingga kami masih bisa bertahan. Meski mereka dari sebelas menjadi sepuluh pemain, menjaga lini belakang tetap penting karena menang selalu yang paling utama,” kata Mourinho.
“Namun momen itu datang, dan kami kembali menciptakan sejarah di Estadio da Luz,” pungkasnya. (bol/riz)




