28.9 C
Semarang
Jumat, 1 Mei 2026

Efisiensi Anggaran Lahirkan Ekosistem Olahraga Kompetitif




JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, khususnya di bidang olahraga, sering kali dipersepsikan sebagai langkah yang membatasi ruang gerak pembinaan. Namun, kebijakan ini justru membuka peluang transformasi yang lebih sehat, terstruktur, dan berkelanjutan dalam ekosistem olahraga nasional.

Dengan berkurangnya sentralisasi pendanaan, atlet didorong untuk kembali ke daerah masing-masing. Kondisi ini memperkuat peran daerah sebagai basis pembinaan utama.

“Atlet tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pusat, melainkan tumbuh dalam ekosistem yang lebih dekat dengan akar komunitasnya,” kata Pelatih Kepala Taekwondo Jawa Tengah untuk PON XXI Aceh-Sumut Dr. (Cand) David Hasian Barutu Sinaga.

Menurutnya, efisiensi akan berdampak pada pemerataan kualitas atlet di berbagai daerah semakin terbuka. Sekaligus menghidupkan kembali kompetisi lokal sebagai fondasi prestasi nasional.

Efisiensi anggaran, lanjutnya, mendorong pemerintah dan organisasi olahraga untuk tidak hanya fokus pada kuantitas pelatih, tetapi juga kualitas dan distribusinya.

Baca juga:  Liverpool Nyaman di Puncak

Program pelatihan, sertifikasi, serta peningkatan kapasitas pelatih perlu diarahkan secara merata agar tidak terjadi kesenjangan antara daerah maju dan daerah berkembang.

“Setiap daerah memiliki pelatih yang kompeten, adaptif, dan mampu mengembangkan atlet secara optimal sesuai potensi lokal,” kata pemilik dan pelatih Indranaga Fighter Team Taekwondo Semarang ini.

Dia menambahkan, penerapan DOD (Desain Olahraga Daerah) menjadi instrumen strategis dalam memastikan arah pembinaan yang jelas dan berbasis potensi wilayah. Melalui DOD, setiap daerah dapat memetakan cabang olahraga unggulan, ketersediaan sumber daya, serta kebutuhan pengembangan jangka panjang.

Di sisi lain, para pelatih menghadapi tantangan baru yang menuntut profesionalisme lebih tinggi. Tidak ada lagi ruang nyaman tanpa kompetisi. Pelatih kini harus bersaing secara terbuka, mulai dari level daerah hingga nasional bahkan elite. Mereka dituntut menunjukkan kualitas melalui hasil nyata—peningkatan performa atlet, inovasi metode latihan, hingga kemampuan membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan.

Baca juga:  Port FC Perpanjang Kontrak

Situasi ini menciptakan ekosistem olahraga yang lebih kompetitif, objektif, dan meritokratis.

Pelatih yang adaptif dan berprestasi akan terus berkembang, sementara sistem secara alami akan menyaring yang kurang kompetitif. Dalam jangka panjang, hal ini akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia olahraga secara menyeluruh.

“Efisiensi anggaran bukan sekadar pengurangan, melainkan reposisi strategi pembangunan olahraga. Fokusnya bergeser menuju penguatan fondasi, pemerataan kompetensi pelatih, pembinaan berjenjang yang sistematis, serta implementasi DOD sebagai arah kebijakan daerah. Dari sinilah diharapkan lahir sistem olahraga yang lebih mandiri, merata, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. (rit)




TERKINI




Rekomendasi

...

Jalan Terjal Italia ke Pildun 2026

Bek Timnas Indonesia Hadapi Chelsea

Pelampung Penyelamat The Reds

Rebut Puncak Klasemen