JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN– Perhelatan akbar Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026 resmi ditutup. Kontingen tuan rumah, Kabupaten Semarang, menutup panggung olahraga regional ini dengan catatan membanggakan sekaligus evaluasi berharga. Berhasil mengamankan total 87 medali yang terdiri atas 25 emas, 30 perak, dan 32 perunggu, kontingen Bumi Serasi sukses mengunci peringkat ke-10 klasemen akhir.
Meski angka tersebut belum sepenuhnya menyentuh target ambisius awal yakni 30 medali emas dan merangsek ke jajaran delapan besar, capaian ini tetap disambut rasa lega dan syukur. Pasalnya, jika dibandingkan dengan perhelatan Porprov 2023 di wilayah Pati Raya, grafik prestasi Kabupaten Semarang mengalami lonjakan signifikan, baik dari segi perolehan total medali maupun posisi peringkat klasemen.
Ketua Umum KONI Kabupaten Semarang, Dody Prasetyo, mengungkapkan rasa syukur dan kelegaannya setelah para atlet berjuang habis-habisan selama enam bulan masa persiapan terakhir.
“Saya cukup lega dan bahagia karena melihat hasil saat ini dibanding tahun 2023 Porprov sebelumnya di Pati Raya, secara hasil medali kita ada peningkatan dan peringkat pun kita naik,” ujar Dody saat menggelar konferensi pers di GOR Pandanaran, Wujil, akhir pekan kemarin.
Secara keseluruhan, raihan 25 medali emas ini telah memenuhi sekitar 85 persen dari target yang dicanangkan. Dody tidak menampik bahwa dinamika di lapangan berlangsung sangat ketat. Persaingan antar-kabupaten/kota kini dirasakan semakin merata, menandakan bahwa kualitas pembinaan atlet di berbagai daerah di Jawa Tengah kian kompetitif dan tidak lagi tersentralisasi pada satu atau dua wilayah saja.

Karate Jadi Bintang Lapangan, Tenis Meja Jadi Evaluasi
Di tengah persaingan sengit tersebut, cabang olahraga karate menjelma menjadi pahlawan paling bersinar bagi kontingen tuan rumah. Sesuai dengan prediksi tim pemantau sejak empat bulan lalu, cabor karate sukses mendulang penghargaan fantastis dengan menyumbangkan 7 medali emas, di samping sederet koleksi medali perak dan perunggu.
Kendati demikian, sejumlah kejutan dan target yang meleset turut mewarnai perjalanan kontingen. Sorotan utama tertuju pada cabang olahraga tenis meja. Berstatus sebagai tuan rumah, KONI Kabupaten Semarang awalnya menargetkan minimal 2 medali dari arena ini. Namun, ketatnya tekanan dan performa kontingen lawan yang tampil luar biasa membuat target tersebut belum dapat terealisasi.
“Untuk cabor tenis meja, karena memang persiapannya sebagai tuan rumah sudah maksimal, kenyataannya kontingen lain tampil jauh lebih siap sehingga hasilnya lebih baik dibanding kita,” jelas Dody mengevaluasi.
Selain dinamika teknis pertandingan, jalannya Porprov tahun ini juga diwarnai oleh tantangan jadwal yang tergolong sangat padat. Dody menilai, tingkat kelonggaran jadwal bertanding sangat bergantung pada kesiapan masing-masing daerah dalam menyiapkan kedalaman skuad atletnya.
Meski dihadapkan pada tensi tinggi dan jadwal yang ketat, Kabupaten Semarang patut berbangga karena mampu menjaga standar penyelenggaraan dengan baik. Berdasarkan laporan di lapangan, tidak ditemukan adanya insiden berat di venue-venue pertandingan berkat penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan dan kesehatan yang ketat sejak hari pertama.
Kabar baik lainnya yang menjadi angin segar bagi masa depan olahraga Kabupaten Semarang adalah munculnya para atlet muda berbakat. Kehadiran bibit-bibit muda ini terbukti mampu bersaing ketat dengan atlet senior dari kabupaten/kota lain, meskipun beberapa cabor masih memberlakukan regulasi usia terbuka (loss regulation).
Bagi KONI Kabupaten Semarang, pencapaian di Porprov Jateng XVII 2026 bukanlah sebuah garis akhir, melainkan batu loncatan yang bernilai strategis. Peningkatan posisi ke peringkat 10 besar nasional/regional ini membuktikan bahwa program pembinaan yang berjalan selama setengah tahun terakhir berada di jalur yang benar. (muz)





