JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Lingkungan sekolah yang semestinya menjadi tempat anak belajar dan bermain justru menyisakan trauma bagi seorang siswa kelas 4 SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran, Kabupaten Semarang. Siswa berinisial R itu diduga menjadi korban perundungan (bullying) oleh teman sekelasnya pada Rabu (23/9/2026).

Peristiwa tersebut disebut meninggalkan sejumlah luka pada tubuh korban hingga membuatnya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Tidak hanya itu, korban juga mengalami trauma hingga tidak mau masuk sekolah.
Orang tua korban, Arief Prasetyo, mengatakan anaknya mengalami sejumlah luka setelah kejadian. Di antaranya memar pada tubuh, luka di belakang telinga, hingga bibir bagian bawah pecah. Kondisi korban juga disebut menurun pada malam harinya karena mengalami demam tinggi hingga 41,8 derajat celsius.
“Jumat, kami bawa ke Rumah Sakit Hermina Banyumanik. Di sana menurut dokter IGD, anak saya trauma dengan kejadian yang terjadi di sekolahnya,” kata Arief, Senin (28/9/2026).
Arief menuturkan, setelah kejadian, kondisi anaknya bukan hanya mengalami luka secara fisik. Secara psikologis, R disebut berubah menjadi lebih banyak diam dan termenung. Bahkan, menurut dia, anaknya sering mengigau dan kesulitan tidur.
Kekhawatiran orang tua semakin besar setelah korban disebut masih mengalami mimisan. Arief mengatakan pihaknya kembali berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi anaknya dan mengetahui penyebab keluhan tersebut.
“Artinya apa pun situasinya yang sudah terjadi dengan anak saya adalah perundungan mengakibatkan korban, kemudian adanya cedera yang cukup serius karena ada di kepala menimbulkan mimisan, kemudian pecah bibir, kemudian memar kanan kiri di dada,” ujarnya.
Arief mengatakan pihak keluarga telah bertemu dengan Kepala Sekolah dan sejumlah guru pada Sabtu (26/9). Dalam pertemuan tersebut, pihak sekolah disebut menyampaikan permintaan maaf dan akan melakukan evaluasi.
Namun, Arief berharap evaluasi tidak berhenti pada permintaan maaf. Menurutnya, sistem pengawasan dan keamanan di lingkungan sekolah perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Keamanan dulu, kenyamanan baru kita bicara kualitas pendidikan,” katanya.
Ia menyoroti pengawasan siswa ketika pergantian pelajaran maupun saat guru tidak berada di dalam kelas. Selain itu, Arief juga mempertanyakan pengawasan keamanan serta rekaman CCTV yang menurutnya belum diperlihatkan kepada keluarga.
Arief juga mengaku menerima sejumlah pesan dari orang tua lain yang menyampaikan pernah terjadi kejadian serupa. Namun, informasi tersebut merupakan cerita dari pihak lain yang diterima keluarga korban dan belum dijelaskan secara rinci oleh pihak sekolah.
Menurut Arief, anaknya masih akan bersekolah di SD tersebut. Ia memilih melihat terlebih dahulu perubahan yang dilakukan sekolah setelah kejadian.
“Saya berharap anak saya masih akan tetap sekolah di situ. Saya akan melihat perkembangannya seperti apa, apakah ada perubahan atau masih sama,” ujarnya.

Sekolah Beri Sanksi Pelaku
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Hj Isriati Moenadi, Yosita Kumalasari, memberikan penjelasan mengenai kronologi kejadian.
Menurutnya, peristiwa bermula ketika siswa mengikuti pembelajaran PJOK. Saat itu, siswa dibagi menjadi dua tim untuk pengambilan nilai. Tim yang memperoleh nilai lebih tinggi kemudian melakukan selebrasi di depan tim yang kalah.
Situasi tersebut, kata Yosita, kemudian memunculkan rasa jengkel dari tim yang kalah dan berlanjut pada hari-hari berikutnya.
Pada Rabu (23/9), siswa mengikuti salat zuhur berjamaah di musala. Setelah itu, para siswa dijadwalkan mengikuti kegiatan literasi di perpustakaan.
Saat sebagian siswa masih mengikuti kegiatan tersebut bersama wali kelas, sejumlah siswa laki-laki lebih dahulu kembali ke ruang kelas. Ketika wali kelas kembali, kejadian tersebut sudah berlangsung.
Yosita menyebut awalnya anak-anak mengajak bermain perang-perangan. Namun, permainan tersebut kemudian berubah menjadi tindakan fisik.
“Perang-perangan, terus akhirnya dari perang-perangan ini kemudian jadi beneran atau apa,” jelas Yosita.
Pihak sekolah kemudian melakukan penelusuran dengan mengumpulkan siswa yang terlibat untuk mengetahui kronologi kejadian.
Pada Kamis, pihak sekolah juga mendatangi rumah korban. Saat itu, sekolah melihat korban mengalami sejumlah cedera, termasuk luka lebam dan bibir yang terlihat bengkak.
Pada Jumat, sekolah mendapat informasi bahwa korban dibawa ke IGD Rumah Sakit Hermina karena mengalami demam.
Yosita mengatakan sekolah telah memberikan konsekuensi kepada siswa yang terlibat. Bentuk konsekuensi yang diberikan bukan hukuman fisik, melainkan pembinaan melalui program yang disebut “bengkel akhlak”.
Siswa yang terlibat dalam kejadian tersebut pada Jumat tidak mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasa. Mereka diarahkan untuk mengikuti kegiatan pembinaan, termasuk membaca Al-Qur’an.
Pihak sekolah juga menyebut orang tua salah satu siswa yang terlibat telah meminta agar difasilitasi untuk bertemu dan meminta maaf kepada keluarga korban. Namun, hingga keterangan tersebut disampaikan, pertemuan itu belum mendapat respons dari keluarga korban.
Yosita juga tidak menampik bahwa siswa yang terlibat merupakan anak Ketua Yayasan dan Ketua Paguyuban Kelas. Ia mengatakan siswa tersebut tetap mendapatkan konsekuensi dan bahkan disebut memperoleh hukuman berat dari pihak sekolah. Anak-anak itu diminta ke ruangan untuk membaca Al-Qur’an dari awal berangkat sampai dengan pulang.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian antara keluarga korban dan pihak sekolah. Di satu sisi, keluarga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan keamanan siswa. Di sisi lain, sekolah menyatakan telah melakukan penelusuran, memberikan konsekuensi kepada siswa yang terlibat, serta melakukan pembinaan.
Bagi keluarga korban, persoalan tersebut bukan hanya tentang luka yang terlihat pada tubuh anak. Trauma yang disebut masih dirasakan korban menjadi alasan agar kejadian tersebut tidak berhenti sebagai persoalan antarsiswa.
Harapannya, evaluasi yang dilakukan sekolah benar-benar mampu memastikan lingkungan belajar tetap menjadi tempat yang aman bagi seluruh siswa. (muz)





