26 C
Semarang
Rabu, 28 Januari 2026

Situs Watu Nganten Spirit KDMP Watuagung Tuntang Wujudkan Kawasan Wisata Kuliner-UMKM

JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Berlokasi di area situs Watu Nganten (Batu Pengantin) yang dikeramatkan, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Watuagung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, dirancang bakal menjadi pusat pergerakan perekonomian masyarakat setempat.

Dipilih lokasi yang dulunya kerap dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah itu diharapkan menjadi pemantik spirit KDMP Watuagung dapat berkembang dan maju pesat. Berada di pinggir jalan yang menghubungkan Watuagung dan Kota Salatiga bakal menjadi jujugan warga setempat juga warga dari luar desa.

Ya, kita memilih lokasi KDMP Watuagung di area situs Watu Nganten atas pertimbangan lokasinya strategis. Berada di pinggir jalan utama penghubung ke Kota Salatiga. View-nya juga bagus di kaki bukit dengan pemandangan hamparan sawah,” ujar Kepala Pengurus KDMP Watuagung, Untung Suwinarno kepada Jateng Pos, kemarin.

Dijelaskan, pembangunan KDMP menempati tanah kas desa dengan luas area keseluruhan sekitar 2 hektar. Diprogramkan kawasan di sekitarnya akan dikembangkan menjadi destinasi wisata kuliner dan UMKM. Menilik lokasinya berada di kawasan perbukitan berhawa sejuk, dipandang bakal menarik banyak wisatawan khususnya warga Kota Salatiga.

Didukung potensi Desa Watuagung memiliki banyak kelompok perajin UMKM camilan dan jajanan tradisional. Selain produk unggulan yang sudah dikemas dan dipasarkan luas, seperti rengginang waluh, keripik tempe, ceriping pisang, aneka jenis olahan krupuk dan lainnya.

Baca juga:  Penerapan SSA Jalan Sudirman Ambarawa Menunggu Izin Menkeu

“Potensi unggulan kita angkat kita ambil dari unit usaha yang sudah ditekuni warga, seperti UMKM camilan dan jajanan. Begitu juga produk pertanian padi yang menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Watuagung, beras hasil pertanian akan tingkatkan nilai keenomiannya kita kemas dengan merek nama desa kita,” jelasnya.

Persiapan awal pengurus KDMP telah mensosialisasikan kepada warga tentang program dan perputaran ekonomi dipusatkan di KDMP. Pengurus dalam kesempatan ini sekaligus merekrut warga yang bergabung menjadi anggota.

“Saat ini anggota sudah berjumlah 101 orang. Setelah regulasi turun kita akan merekrut lebih banyak warga menjadi anggota. Potensi KDMP sangat luar biasa, semua keperluan masyarakat akan terlayani,” tandasnya.

Ketua Pengurus KDMP Watuagung, Untung Suwinarno di depan pembangunan KDMP yang dalam pengerjaan. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Cerita awal penentuan lokasi di Watu Nganten, lanjut Suwinarno, keberadaan situs ini memiliki keistimewaan terkait asal-usul berdirinya Desa Watuagung. Pemberian nama desa tidak lepas dari keberadaan dua situs batu besar yang dikeramatkan sejak jaman para pendahulu desa.

Ada dua batu keramat di Watuagung yakni Watu Nganten laki-laki dan Watu Nganten perempuan. Lokasi sepasang situs tersebut terpisah, satunya berada di kaki bukit Situ Petak, satunya lagi berada di dusun Dukoh yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi bukit.

Baca juga:  Giat Pentas Kolaborasi Siswa PAUD Korwil Dindikbud Demak Kota

“Kalau yang kita jadikan lokasi KDMP berada situs Watu Nganten perempuan. Sedangkan, Watu Nganten laki-laki berada di seberang tepatnya di dusun Dukoh,” jelasnya.

Dipilih lokasi ini karena sejak dulu sering dijadikan tempat warga berkumpul, khususnya saat kegiatan nyadran yang diadakan setiap Selasa Kliwon di bulan Rajab. Warga berdatangan di lokasi ini sejak pukul 03.30 WIB untuk menggelar selamatan dan doa bersama.

Kini, area situs dijadikan KDMP sekaligus sebagai penjaga benda warisan nenek moyang itu. Di atas batu berukuran dua kali truk dump itu terdapat tulisan “Dilarang Naik” sebagai wujud pelestarian agar tidak dirusak.

Cerita asal-usul Watu Nganten, dituturkan Suwinarno, berasal dari legenda sepasang pengantin yang konon berselisih paham hingga tidak saling bicara di jalan. Bersamaan itu lewat seorang wali yang bertanya kepada keduanya, namun tidak dijawab keduanya hanya diam membisu.

“Kemudian wali itu berkata kepada keduanya ‘Wong kok ditakoni meneng wae, wong opo watu (orang ditanya kok dia saja, orang apa batu, red)’ ternyata omongan itu menjadi kutukan. Sepasang pengantin itu kemudian sama-sama jadi batu,” pungkasnya. (muz)



TERKINI

Menuju Fase Gugur

Siap Bela Timnas Indonesia

Penyerang Incaran MU

Ada Perubahan di MU Era Carrick

Rekomendasi

...