27.1 C
Semarang
Senin, 27 April 2026

Pito Doannesta, Musisi Kabupaten Semarang dari Buruh Mebel ke Panggung Digital




JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Nama panggilannya Pito atau Itok (43) warga Jalan Arwana Dusun Rowosari, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Bergas, di kalangan musisi Kabupaten Semarang, nama itu bukan sekadar sosok gitaris andal. Ia adalah potret perjalanan musisi daerah yang naik-turun antara idealisme bermusik dan realitas dapur yang harus tetap ngebul.

Kisahnya dimulai jauh setelah lulus sekolah tahun 1998. Awalnya Pito justru akrab dengan stik drum. Ia jadi drummer sekaligus vokalis di grup band lokal. Masalah muncul saat bertemu grup band sering tak punya gitaris.

ā€œAkhirnya mau enggak mau belajar gitar secara otodidak,ā€ kenangnya.


Titik balik justru datang saat merantau ke Gresik, Jawa Timur pada tahun 1998. Empat tahun ia bekerja jadi buruh pabrik mebel di daerah Menganti. Hidup mendesak, gitar pun belum punya.

ā€œSaat itu belum kepikiran menentukan musik sebagai langkah hidup,ā€ ujarnya.

Di sela kerja pabrik, ia sempat belajar gitar pada seniman lokal bernama Syamsi, meski hanya dua kali. Pertemuan singkat itu cukup menyalakan api semangatnya. Dari Gresik, Pito mulai serius. Ia membeli buku Hot Chord untuk belajar partitur dan not balok.

Skill gitarnya terasah, tawaran manggung datang dari grup musik lokal setempat. Meski sering tak dibayar, ia rela cuti, bolos kerja, bahkan pakai surat dokter demi bisa tampil.

ā€œKeinginan menjadi gitaris semakin menguat,ā€ katanya kepada Jateng Pos, kemarin.

Jenuh di Gresik, tahun 2005 ia pulang ke Kabupaten Semarang. Dua tahun kemudian menikah. Ironis, setelah menikah justru menganggur. Ia sempat jadi kuli serabutan bangunan ikut ayahnya. Di titik itu, Pito mulai memilih jalan yang tak bisa ditawar:

ā€œAkhirnya saya memilih bermusik, kemudian musik harus bertanggung jawab pada hidup saya. Bukan mati-matian tetapi saya nikmati setiap prosesnya,ā€ tuturnya saat ditemui seusai mengisi acara di Radio Serasi Kabupaten Semarang.

Pito membentuk band baru dengan teman-teman dekat. Iseng ikut festival, ia menemukan pola unik. Beberapa kali juara di perlombaan musik yang konteksnya sosial. Salah satu yang paling membekas adalah festival penggalangan dana untuk korban tsunami Aceh tahun 2005 di Sumowono, Kabupaten Semarang.

Baca juga:  DPD PKS Kabupaten Semarang Launching Sekolah Tani

Grup musiknya juara dan momen itu dijalaninya saat itu sambil menggendong anak yang masih bayi naik motor.

ā€œWah seru,ā€ kenangnya tertawa.

 

LIVE RADIO: Pito and Friends saat tampil mengisi acara di Radio Serasi Kabupaten Semarang. FOTO:IST

Doa yang Terjawab

Puncak ikhtiar terjadi akhir 2009 saat istri mengandung anak ketiga usia 6 bulan, Pito nekat membawa materinya ke Jakarta bersama teman satu band. Ada yang rela cuti kuliah, bahkan yang keluar kerja. Harapannya ada label yang melirik. Dua bulan di ibu kota, hasilnya nihil. Modal habis, uang habis.

ā€œSaya tidak tega ninggalin istri mengandung anak saya yang ketiga dan nomor dua masih kecil,ā€ ucapnya lirih.

Pito memutuskan pulang. Teman-temannya yang kecewa pun menyusul pulang. Kegagalan itu membuatnya berhenti total dari musik.

Demi pemasukan, ia kerja serabutan, ikut jadi tukang dekorasi, jaga alat musik, tapi tidak lagi manggung. Di masa berhenti dari dunia musik itu Pito merenung.

ā€œSaya malu sama Tuhan. Dulu saya tidak bisa apa-apa. Saya kenal musik juga siapa yang mengenalkan? Siapa yang menggerakkan? Saya pikir tidak ada yang lepas dari petunjuk-Nya,ā€ ungkapnya.

Ia ingat doanya dulu: ā€œSaya pengin bisa, ya Tuhan tolong bimbing saya untuk bisa. Kenapa orang itu bisa, idola saya bisa, kok saya enggak bisa?,ā€ lanjutnya.

Ia memutuskan kembali bermusik, meski tak tahu caranya. Beberapa hari kemudian, Pito mendadak ditawari temannya ada job di berapa acara. Padahal teman-teman bandnya sudah bubar.

Merasa doanya terjawab, Pito ambil job itu. Ia kumpulkan lagi personel, lalu kembali latihan. ā€œAlhamdulillah musik kembali menjadi panggilan jiwa saya. Sejak itu jadi jalan hidup, dan jalan terus sampai sekarang,ā€ jelasnya.

Bak gayung bersambut, di 2010-an kafe di Kabupaten Semarang mulai tumbuh menjamur, seperti Londo Jowo, The Bims, Susuku, hingga Setia Cafe di Karangjati.

Baca juga:  Hadapi Kondisi Chaos, Kapolres Semarang Tekankan Junjung Tinggi HAM

ā€œKita main dari kafe ke kafe, keluarin alat-alat kita nge-jam di situ,ā€ tandasnya.

Band kafe-nya dulu bernama Expired, dan jam terbangnya tinggi. Namun, karena usia, ia lelah dengan jadwal kafe yang menguras tenaga. Pito memutuskan resign dari band. Tahun 2020 ia sempat bingung menentukan arah.

Solusinya, kembali ke akar. Ia kumpulkan materi lagu yang ditulis sejak sekolah. Lantas belajar recording di rumah. Merekam sendiri dengan aransemen akustik sederhana.

ā€œSejak pertama kali ngeband itu saya pernah nulis lagu, meski catatannya hilang, tapi saya masih ingat. Lagu-lagu itu saya rekam sendiri, yang penting masih ingat lagunya,ā€ jelasnya.

JALAN HIDUP: Pito saat mendapat arahan dari Sujiwo Tejo di sela penampilannya, pencapaian di panggung tokoh seniman besar ini dirasakan sebagai jawaban panggilan hidupnya. FOTO:IST

Gitaris Sujiwo Tejo

Lagu produksinya dirilis lewat channel YouTube dengan nama Pito Doannesta. Eksis bermusik memanfaatkan platform media sosial, semua lagunya didaftarkan ke LMKN, dan kini ia tercatat sebagai anggota WAMI.

Nama Doannesta pun punya cerita. Bukan ā€œdoa tangisanā€, melainkan gabungan dari nama anak dan istri; Ado, Anis, Hanes, dan Setia. Sedangkan Pito adalah nama akrab dari panggilan kecilnya, Itok. Kini ia sudah merilis 6 album dan bersiap ke album ke-7.

ā€œDari album pertama sampai enam ini mau menginjak tujuh, saya masih bertahan di musik. Yang penting harus bergerak. Sampai saat ini saya dipercaya menjadi gitaris pengiring penampilan Sujiwo Tejo,ā€ tegasnya.

Pesan untuk seniman daerah, disampaikan Pito, agar terus bergerak meski menganggur. Bagi Pito, berkarya adalah cara melawan sebutan pengangguran.

ā€œJadi minimal ketika saya pengangguran itu saya enggak nganggur, saya tetap bergiat. Bergiat ngumpulin karya, enggak tahu juga nanti mau jadi apa, mau bikin apa, mau laku atau tidak yang penting bergerak,ā€ tuturnya.

Dari drummer yang terpaksa belajar gitar, buruh pabrik mebel, kuli serabutan, sampai ā€œgantung gitarā€ karena gagal di Jakarta, Pito membuktikan bahwa jalan seniman daerah tak pernah lurus. Tapi selama masih mau bergerak, nada itu tak akan pernah benar-benar mati. (muz)




TERKINI




Rekomendasi

...