JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG — Kepedulian terhadap lingkungan dan ketahanan pangan mendorong Kombes Pol Slamet Loesiono, menghadirkan inovasi Ekspresi Hijau (Ekosistem Ekonomi Kurikulum Presisi Hijau).
Gagasan tersebut merupakan proyek perubahan yang digagas dalam rangka mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI LAN RI Tahun 2026.
Proyek perubahan itu berangkat dari persoalan limbah organik yang dihasilkan setiap hari di lingkungan ksatrian dan asrama satuan pendidikan Polri.
“Ekspresi Hijau ini, merupakan gagasan proyek perubahan yang saya dorong untuk mengubah cara pandang kita terhadap limbah. Jangan sampai limbah hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang. Kita ingin mengubahnya menjadi sumber daya yang bermanfaat sekaligus membangun kesadaran lingkungan di kalangan peserta didik Polri,” ujar Slamet di Akpol Semarang, belum lama ini.
Menurutnya, perubahan pola pikir atau mindset change menjadi sasaran utama program tersebut. Pembentukan personel Polri masa depan, tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan profesional di bidang kepolisian, tetapi juga harus dibekali kemampuan menghadapi persoalan strategis, termasuk isu lingkungan dan ketahanan pangan.
“Target utamanya adalah mindset change. Saya ingin masyarakat memiliki cara pandang baru bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari kepemimpinan. Dari sinilah green leadership harus dibangun sejak mereka berada di lembaga pendidikan,” terangnya.
Sebagai langkah awal, Ekspresi Hijau diterapkan melalui pilot project di tiga satuan pendidikan Polri, yakni Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Pusat Pendidikan Binmas (Pusdik Binmas) Banyubiru, dan Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto.
Dalam implementasinya, limbah organik dari dapur umum, ruang makan, dan kantin dimanfaatkan sebagai bahan baku Eco Enzyme melalui proses fermentasi menggunakan limbah organik, gula, dan air.
“Saya ingin proyek perubahan ini memiliki keberlanjutan. Artinya, tidak hanya menghasilkan produk Eco Enzyme, tetapi membangun ekosistem dari hulu sampai hilir, mulai dari perubahan perilaku, pengelolaan limbah, proses produksi, sampai bagaimana hasilnya dapat dimanfaatkan dan memberikan nilai ekonomi,” pungkas Kombes Slamet.
Manfaat program tersebut, juga diarahkan ke luar lingkungan pendidikan Polri, khususnya bagi petani dan pelaku perkebunan.
Produk pupuk organik cair diharapkan dapat menjadi alternatif pupuk yang lebih terjangkau sekaligus mendukung ketahanan pangan. (ucl/rit)





