JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Ribuan mahasiswa baru Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran memulai babak baru perjalanan pendidikannya. Dalam pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di GOR Mandala Arogya Sanskriti, Kampus Farmasi, Senin (7/9/2026) pagi, Rektor UNW Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum mengajak mahasiswa baru tidak sekadar menjadi insan akademik, tetapi tumbuh sebagai pribadi berkarakter unggul dan berani mengejar prestasi tanpa batas.

Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Prof. Subyantoro yang akrab disapa Prof Bi menegaskan bahwa memasuki perguruan tinggi bukan sekadar berpindah dari bangku sekolah ke ruang kuliah. Lebih dari itu, mahasiswa sedang memasuki gerbang transformasi kehidupan.
“Pencapaian itu kuncinya adalah gerbang dan transformasi. Hari ini Saudara tidak sekadar melewati garis batas fisik pintu kampus di lereng Gunung Ungaran yang asri ini. Hari ini Saudara sedang menyeberangi sebuah ambang batas kehidupan,” tegasnya dalam sambutan PKKMB yang kali ini bertema GET-U MABA (Gerbang Edukasi dan Transformasi untuk Mahasiswa Baru).
Menurut Prof Bi, mahasiswa baru kini bertransformasi dari seorang pelajar yang selama ini banyak mendapat arahan menjadi seorang mahasiswa yang dituntut mampu menentukan arah perjalanan akademiknya sendiri.
“Saudara sedang bertransformasi dari seorang pelajar yang dituntun menjadi seorang mahasiswa—sang penjelajah mandiri di belantara ilmu pengetahuan,” ujarnya.
UNW sebagai Kawah Candradimuka
Prof Bi menggambarkan dunia perguruan tinggi sebagai samudera luas yang menuntut keberanian, kemandirian, dan ketangguhan.
Jika sekolah menengah diibaratkan sebagai kolam tempat siswa belajar berenang dengan pelampung, maka universitas adalah samudera luas tanpa tepi. Di dalamnya, mahasiswa bukan lagi sekadar perenang yang mengikuti arus, melainkan nahkoda yang harus menentukan arah kapalnya sendiri.
Karena itu, ia meminta mahasiswa baru tidak menjalani kehidupan kampus secara monoton.
“Universitas ini adalah kawah candradimuka. Kami tidak ingin Saudara menjadi mahasiswa ‘kupu-kupu’—kuliah pulang, kuliah pulang—yang hanya mengejar selembar kertas ijazah tanpa meninggalkan jejak karya,” katanya.
Menurut dia, kampus harus menjadi laboratorium kehidupan. Tempat mahasiswa bukan hanya mengasah kemampuan intelektual, tetapi juga membangun kepekaan sosial dan kepemimpinan.
Mahasiswa, lanjutnya, harus berani terlibat dalam berbagai aktivitas, organisasi, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun kegiatan pengembangan diri yang dapat memperkaya pengalaman dan membentuk karakter.

Karakter Unggul sebagai Akar
Prof Bi kemudian mengajak mahasiswa baru membayangkan perjalanan akademik mereka seperti pertumbuhan sebuah pohon.
Pohon yang menjulang tinggi, katanya, tidak berdiri kokoh hanya karena memiliki daun yang rindang atau bunga yang indah. Kekuatan sejatinya berada pada akar yang menghujam jauh ke dalam tanah.
“Dalam perjalanan akademik Saudara, kecerdasan kognitif adalah daun dan bunganya, namun Sinergi Karakter Unggul adalah akarnya,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa kecerdasan tanpa integritas dan etika dapat kehilangan arah. Karena itu, mahasiswa UNW ditempa untuk memegang empat pilar utama, yakni keintegritasan, kevisioneran, kepedulian, dan kebersamaan.
“Jadilah pribadi yang jujur dalam berpikir, santun dalam bertindak, dan teguh dalam menjaga prinsip spiritualitas serta kemanusiaan,” pesannya.
Bagi Prof Bi, keberhasilan seorang mahasiswa tidak semata-mata diukur dari nilai akademik. Keberhasilan juga tercermin dari karakter, cara bersikap, kemampuan bekerja bersama, serta kontribusi yang diberikan kepada lingkungan dan masyarakat.
Berbudaya Sehat, Bukan Sekadar Bebas Penyakit
Pesan berikutnya berkaitan dengan identitas UNW sebagai kampus Berbudaya Sehat. Prof Bi mengajak mahasiswa memaknai sehat secara lebih luas. Sehat, menurutnya, bukan sekadar terbebas dari penyakit fisik, melainkan menciptakan ekosistem kehidupan kampus yang harmonis.
“Sehat fisiknya, kuat menahan lelahnya proses belajar. Sehat mental dan pikirannya, jernih dari prasangka, tangguh menghadapi tekanan, serta terbuka pada pemikiran kritis dan inovasi baru,” katanya.
Selain kesehatan fisik dan mental, mahasiswa juga harus membangun lingkungan sosial yang sehat. Kampus harus menjadi ruang yang saling menguatkan, bebas dari perundungan, dan dipenuhi empati.
Ia mengibaratkan perjalanan mahasiswa seperti kapal yang hendak mengarungi samudera. Kapal sebesar dan semegah apa pun tidak akan mampu berlayar jika lambungnya bocor.
“Jagalah kesehatan diri Saudara secara holistik agar Saudara memiliki stamina jangka panjang dalam menyelesaikan maraton akademik ini,” pesannya.
Dari UNW Menuju Prestasi Global
Di bagian akhir pesannya, Prof Bi meminta mahasiswa baru tidak memasang batas terlalu rendah untuk mimpi mereka.
Menurutnya, perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, dan dinamika global telah membuat dunia semakin terbuka. Kondisi tersebut menuntut generasi muda memiliki kelincahan berpikir sekaligus keberanian untuk beradaptasi.
“Tataplah garis cakrawala! Dunia hari ini berkembang dengan kecepatan yang luar biasa melintasi batas-batas negara,” ujarnya.
Ia mengingatkan mahasiswa UNW agar tidak cukup puas menjadi “jagoan lokal”. Kampus harus menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh dan menembus panggung global.
“Jadikan UNW sebagai pijakan peluncuran atau launchpad untuk mengepakkan sayap Prestasi Global Tanpa Batas! Jangan pernah takut bermimpi besar,” tegasnya.
Prof Bi juga mendorong mahasiswa memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di kampus. Mulai dari belajar bersama dosen, menggunakan fasilitas laboratorium, mengikuti program pertukaran, terlibat dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, hingga mengejar prestasi di tingkat nasional dan internasional.
“Ukirlah prestasi hingga ke kancah internasional!” serunya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa PKKMB GET-U MABA bukan sekadar seremoni penyambutan mahasiswa baru. Momentum itu menjadi titik awal bagi ribuan mahasiswa UNW untuk membuka gerbang baru dalam hidupnya: meninggalkan zona nyaman, membangun karakter, menjaga kesehatan, dan berani mengepakkan sayap menuju prestasi global.
Dari gerbang kampus di lereng Gunung Ungaran, perjalanan ribuan mahasiswa baru UNW pun dimulai—bukan untuk sekadar mendapatkan ijazah, tetapi untuk meninggalkan jejak karya dan menembus batas-batas prestasi.

Mimpi Besar Mahasiswa Baru UNW
Memasuki perguruan tinggi bagi sebagian mahasiswa baru bukan sekadar mencari gelar. Di balik langkah mereka menuju kampus, tersimpan bakat, pengalaman, dan mimpi yang ingin dikembangkan menjadi masa depan.
Hal itu tergambar dari ungkapan Yoga Aditya, mahasiswa baru Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran. Lulusan SMKN Jatipuro, Karanganyar, ini mengaku langsung tertarik dengan beragam pilihan program studi yang tersedia di UNW.
Dari sekian banyak pilihan, Yoga memilih S1 Pendidikan Vokasional Desain Fashion. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Ia ingin membawa bakat desain yang telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar ke jenjang yang lebih serius.
Bagi Yoga, kuliah bukan hanya tentang mengasah kemampuan sebagai desainer. Ada cita-cita lain yang ingin diwujudkannya, yakni menjadi seorang guru.
“Jurusan yang saya ambil tidak sekadar mengembangkan bakat saya, tapi juga bisa mengembangkan menjadi guru jurusan desain. Saya ingin menjadi guru, bisa mendidik murid-murid. Intinya jadi guru,” ungkap Yoga.
Ketertarikannya terhadap dunia desain semakin kuat ketika memasuki SMKN Jatipuro, Kabupaten Karanganyar. Di sekolah tersebut, ia mengambil jurusan Tata Busana sekaligus mulai mengembangkan kemampuan yang sudah dimilikinya sejak kecil.
Kini, Yoga ingin memadukan dua hal yang ia sukai—dunia desain dan dunia pendidikan. Menurutnya, kesempatan untuk mengembangkan kompetensi desain sekaligus memiliki jalur untuk menjadi guru menjadi salah satu alasan kuat memilih UNW. Ia mengaku peluang tersebut menjadi daya tarik tersendiri dibandingkan kampus lain yang sempat menjadi pertimbangannya.
“Peluang menjadi guru itu yang saya sukai. Di kampus lain tidak ada,” tandasnya.
Cerita lain datang dari Pundi Adi Al Manar, mahasiswa baru asal Bandungan, Kabupaten Semarang. Jika Yoga membawa bakat desain ke ruang kuliah, Pundi membawa semangat dari lapangan hijau. Ketertarikannya melanjutkan pendidikan di UNW semakin mantap setelah mengetahui adanya program studi olahraga di lingkungan Fakultas Kesehatan.
Pilihan itu terasa tepat bagi Pundi. Sepak bola bukan sekadar hobi baginya, melainkan bagian dari perjalanan yang telah ia jalani selama beberapa tahun.
Ia bahkan telah malang melintang mengikuti berbagai liga sepak bola di desanya, Sidomukti, Kecamatan Bandungan. Berposisi sebagai gelandang, Pundi turut mengantarkan Sidomukti FC meraih juara Liga Pakopen Bandungan.
Pengalaman tersebut justru membuatnya semakin yakin untuk membawa sepak bola ke jenjang yang lebih tinggi.
“Saya ingin mendapatkan ilmu di bangku kuliah di UNW sekaligus mengembangkan bakat sebagai atlet sepak bola,” ujarnya.
Bagi Pundi, kuliah dan sepak bola bukan dua pilihan yang harus dipisahkan. Keduanya ingin ia jalani secara beriringan. Pendidikan menjadi bekal untuk memperluas wawasan, sementara lapangan hijau tetap menjadi ruang untuk mengasah kemampuan dan mengejar prestasi.
Spirit Yoga dan Pundi menunjukkan bahwa mahasiswa baru datang ke UNW dengan latar belakang dan mimpi yang beragam. Keduanya tidak sekadar mengembangkan bakat, lebih itu mengasah kemampuan ilmu di bidangnya untuk ekspektasi dan berprestasi lebih tinggi. (muz)




