26 C
Semarang
Jumat, 30 Januari 2026

Jokowi Sebut  85 Juta Pekerja Hilang Akibat Otomatisasi

JATENGPOS.CO.ID,SOLO – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut bahwa saat ini di beberapa sektor industri telah menerapkan sistem otomasi, seperti otomasi mekanik, otomasi analitik, serta teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan teknologi-teknologi baru lainnya.

Berdasarkan hal tersebut, Presiden memperkirakan sejumlah pekerjaan akan hilang tergeser peningkatan otomasi yang telah berkembang dalam berbagai sektor.

“Kalau kita baca 2025 pekerjaan yang akan hilang itu ada 85 juta, pekerjaan akan hilang 85 juta, sebuah jumlah yang tidak kecil. Kita dituntut untuk membuka lapangan kerja, justru di 2025 85 juta pekerjaan akan hilang, karena tadi, adanya peningkatan otomasi di berbagai sektor,” kata Presiden, saat membuka secara resmi Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ke-XXII dan Seminar Nasional 2024 di Hotel Alila, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (19/09/2024)

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan terkait gig economy (ekonomi serabutan) yang saat ini tengah menjadi tren. Presiden mengingatkan bahwa sistem ini memungkinkan perusahaan memilih mempekerjakan karyawan paruh waktu untuk mengurangi risiko ketidakpastian global yang sedang terjadi.

Baca juga:  Setyo Budi Nasdem Sambut Juan Rama

“Ini trennya kita lihat menuju ke sana. Dan yang bekerja itu bisa bekerja di sini, bisa bekerja di negara lain. Sehingga sekali lagi, kesempatan kerja semakin sempit dan semakin berkurang,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, bonus demografi yang akan diperkirakan terjadi pada tahun 2030 membutuhkan kesempatan kerja yang luas. Namun, Presiden menjelaskan bahwa saat ini dunia dihadapkan pada tantangan yang berat, yaitu terjadinya perlambatan ekonomi global.

Pada kesempatan itu, Presiden meminta ISEI untuk menyiapkan strategi taktis dalam menangani persoalan-persoalan tersebut. Menurutnya, strategi-strategi taktis sangat dibutuhkan untuk diimplementasikan di tengah situasi global yang sedang sulit.

“Saya berharap dari ISEI tadi sudah menyampaikan kajiannya, ada sebuah desain tapi desain taktis, rencana tapi rencana taktis, strategi tapi strategi yang taktis dan detail. Kalau ada ini kita harus belok ke mana, kalau dicegat di sini kita harus menuju ke mana. Itu yang hal-hal yang taktis seperti ini yang kita perlukan, bukan rencana makro yang sulit diimplementasikan dalam situasi yang sangat-sangat sulit,” pungkas presiden.

Baca juga:  Pemkot Salatiga dan UKSW Kolaborasi Gelar Car Free Night dan Culture Night Carnival

Sementara itu Ketua ISEI, Perry Warjiyo mengatakan pemahaman ekonomi Indonesia 10 tahun terakhir ini termasuk yang terkuat di dunia bahkan pada saat konflik Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5%, tidak hanya stabilitas makro tapi juga kehadiran sosial merata kemiskinan turun,” ungkap Perry yang juga menjabat Gubernur BI.

Transformasi ekonomi dan reformasi yang kuat, didukung pembangunan infrastruktur bisa mendukung perekonomian, yang bisa mendorong masuknya penanaman modal asing.

“Salah satu inovasi perekonomian yang menggerakkan seluruh sektor termasuk UMKM, dengan QRIS. Saat ini tercatat lebih dari 55 juta pengguna dan bekerjasama dengan Singapura Malaysia Thailand dan Jepang,” imbuh Perry.

Ia berharap ISEI bisa memberikan kontribusi dalam kemajuan perekonomian Indonesia. Kongres akan berlangsung selama dua hari dengan tema memperkuat fondasi transformasi ekonomi dan kebijakan publik yang inklusif dan berkelanjutan. (dea/jan)



TERKINI

Rekomendasi

...