28 C
Semarang
Rabu, 21 Januari 2026

Isra Mikraj: Hadiah dari Langit

Oleh: Gunoto Saparie (Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah)

JATENGPOS.CO.ID,SEMARANG – Ada malam yang tak selesai dibicarakan oleh sejarah. Ia selalu datang kembali, setiap tahun, dengan langit yang sama gelapnya dan cahaya yang sama misteriusnya. Malam Isra Mikraj. Sebuah perjalanan yang oleh sebagian orang diringkus dalam definisi: dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus tujuh lapis langit. Tetapi definisi selalu terlalu kecil bagi sebuah peristiwa yang, sejak mula, memang melampaui ukuran.

Tesis-tesis tentang Isra Mikraj umumnya rapi. Mereka memetakan: makna, hikmah, tujuan, perdebatan tentang jasad dan ruh, relevansi bagi manusia modern. Seperti peta yang dibuat untuk menuntun pelancong agar tak tersesat. Namun barangkali justru di situlah kita kehilangan sesuatu: bahwa peristiwa ini bukan sekadar rute perjalanan, melainkan guncangan batin. Bukan hanya cerita tentang Nabi yang naik ke langit, melainkan kisah manusia yang diangkat dari kebiasaan menuju kesadaran lain.

Kita mulai selalu dari teks. Ayat pertama Surah Al-Isra yang menyebut perjalanan malam itu. Hadis-hadis yang merinci bagaimana Buraq melangkah, bagaimana pintu langit dibuka satu per satu. Ulama tafsir menyisir kata demi kata, mengukur makna “asra bi abdihi”—apakah “abdihi” itu jasad dan ruh, atau ruh semata. Sebagian mengatakan: peristiwa itu nyata secara fisik. Sebagian lain memilih: itu pengalaman spiritual. Perdebatan berlangsung berabad-abad, seakan kebenaran bisa diputuskan oleh notulensi rapat.

Namun peristiwa itu, bila kita ikuti dengan jujur, memang menolak dimasukkan sepenuhnya ke dalam kotak rasional. Ia berdiri di tepi yang tak pasti antara sejarah dan misteri. Di situlah iman diuji. Sebab sejak awal, Isra Mikraj adalah ujian. Kaum Quraisy menertawakan Nabi: bagaimana mungkin perjalanan ke Palestina ditempuh dalam semalam? Abu Bakar menjawab sederhana: jika Muhammad mengatakan, maka itu benar. Bukan karena ia punya bukti empiris, tetapi karena ia percaya pada kejujuran seorang manusia.

Keimanan, pada akhirnya, selalu melibatkan keberanian untuk melangkah tanpa jaminan penuh. Kita sering lupa bahwa iman bukan kepastian matematika; ia adalah keberanian eksistensial. Isra Mikraj mengajarkan itu: bahwa ada wilayah realitas yang tak tunduk sepenuhnya pada logika sehari-hari. Dalam dunia modern yang mengultuskan data, angka, dan kalkulasi, pelajaran ini menjadi asing, bahkan dianggap berbahaya. Kita ingin segala sesuatu terukur, terverifikasi, tersertifikasi. Padahal manusia sendiri tidak seluruhnya terukur.

Lalu Nabi sampai di Sidratul Muntaha. Di sana, dalam bahasa simbolik yang hanya bisa disentuh oleh puisi, ia menerima perintah salat. Lima puluh waktu, lalu dikurangi menjadi lima. Sebuah negosiasi yang sering kita ceritakan dengan ringan, kadang bahkan dengan humor: Nabi Musa menyarankan agar kembali meminta keringanan. Tetapi di balik kisah itu, ada pesan penting: salat bukan beban administratif. Ia adalah pengingat ritmis bahwa manusia perlu berhenti, bersujud, dan mengingat asalnya.

Baca juga:  Undip Resmikan Gedung Raksasa Muladi Dome

Dalam tesis-tesis keislaman, salat disebut inti spiritual Isra Mikraj. Ia menjadi hadiah dari langit. Tetapi barangkali lebih tepat: salat adalah jembatan yang diletakkan agar manusia bisa mengalami Mikraj kecil setiap hari. Ketika dahi menyentuh bumi, manusia diingatkan bahwa yang tinggi tak selalu berarti dekat, dan yang rendah tak selalu berarti hina. Dalam sujud, tubuh merendah, tetapi batin terangkat.

Di kampung-kampung, peringatan Isra Mikraj sering diisi dengan pembacaan Barzanji, ceramah, hidangan sederhana, dan anak-anak yang mengantuk di saf belakang. Sebuah ritual sosial. Kita boleh bertanya: apakah kita masih merasakan keguncangan malam itu, atau hanya mengulangnya sebagai kalender tahunan? Kita mendengar ceramah tentang sejarah perjalanan Nabi, tentang tanggal kejadiannya—tahun kesebelas atau kedua belas kenabian—tentang perbedaan riwayat. Semua informatif, semua berguna. Tetapi sering kita pulang tanpa pertanyaan yang mengusik, “Apakah arti Mikraj bagi batinku hari ini?

Modernitas memberi kita kecepatan. Kita bisa menempuh jarak jauh dalam hitungan jam. Kita bisa “naik” ke angkasa dengan roket. Kita bisa melihat bumi dari satelit. Maka kisah Nabi yang naik ke langit sering dibandingkan dengan prestasi teknologi. Ada yang mencoba menafsirkan Mikraj secara ilmiah, mengaitkannya dengan relativitas waktu, wormhole, atau dimensi lain. Upaya itu menarik, tetapi berisiko: menjadikan wahyu bergantung pada validasi sains. Padahal sains sendiri berubah, sementara makna spiritual tidak menunggu hasil laboratorium.

Relevansi kontemporer Isra Mikraj justru terletak pada kegelisahan manusia modern. Kita hidup di zaman yang penuh distraksi. Kita jarang benar-benar hadir. Salat pun kadang dilakukan seperti kewajiban administratif: cepat, ringkas, tanpa jeda batin. Mikraj mengingatkan bahwa ada perjalanan yang tak bisa ditempuh dengan kendaraan apa pun: perjalanan ke dalam diri. Dan salat adalah undangan harian untuk melakukan perjalanan itu.

Hikmah yang sering disebut: ketakwaan, kesabaran, keimanan, penghambaan diri kepada Allah. Kata-kata besar. Tapi ketakwaan bukan sekadar takut berbuat dosa; ia adalah kesadaran bahwa setiap tindakan punya resonansi moral. Kesabaran bukan pasif; ia adalah keteguhan di tengah ketidakpastian. Keimanan bukan hanya percaya; ia adalah komitmen untuk hidup sesuai keyakinan itu. Dan penghambaan bukan perendahan diri yang mematikan martabat, melainkan kesadaran bahwa manusia tidak absolut.

Baca juga:  Pertamina Tanam 12.000 Bibit di Pantai Mangunharjo Semarang

Isra Mikraj terjadi pada masa sulit Nabi Muhammad: tahun kesedihan, wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, penolakan di Thaif. Sebelum perjalanan ke langit, ada luka di bumi. Ini sering kita lupakan. Mi’raj bukan hadiah bagi manusia yang nyaman, tetapi penghiburan bagi manusia yang terluka. Di sini, ada pesan halus: bahwa spiritualitas tidak lahir dari kemapanan, melainkan dari pergulatan.

Maka setiap peringatan Isra Mikraj seharusnya bukan hanya perayaan, tetapi kesempatan bertanya: luka apa yang kita bawa? Dan bagaimana salat menjadi jalan untuk menanggung luka itu tanpa berubah menjadi pahit?

Perdebatan tentang jasad dan ruh yang naik ke langit mungkin tak akan selesai. Sebagian akan terus mengatakan: Nabi benar-benar pergi secara fisik. Sebagian lain: itu perjalanan rohani. Tetapi mungkin, di luar debat itu, ada kebenaran lain: bahwa yang penting bukan bagaimana Nabi naik, melainkan bagaimana manusia hari ini mau bergerak. Dari lalai menuju sadar. Dari sombong menuju rendah hati. Dari sibuk menuju hening.

Dalam dunia yang makin keras, kita memerlukan Mikraj bukan sebagai kisah spektakuler, tetapi sebagai etika harian. Lima kali sehari, jeda. Lima kali sehari, pengakuan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari agenda pribadi. Lima kali sehari, latihan merdeka dari tirani ego.

Di akhir peringatan, lampu masjid dipadamkan. Jamaah pulang. Anak-anak menguap. Sisa aroma teh dan kue di sudut ruangan. Malam kembali biasa. Tetapi seharusnya tidak ada yang benar-benar selesai. Sebab Mikraj bukan peristiwa sekali dalam sejarah, melainkan undangan terus-menerus: untuk naik, walau hanya setinggi satu sujud yang jujur.

Dan mungkin di situlah makna terdalamnya: bahwa jalan ke langit selalu dimulai dari bumi, dari dahi yang bersentuhan dengan lantai masjid, dari hati yang mau hening sesaat, dari manusia yang berani percaya bahwa hidup ini lebih dari sekadar yang terlihat.

Isra Mikraj, pada akhirnya, adalah kisah tentang harapan: bahwa manusia tidak dikurung sepenuhnya oleh gravitasi dunia. Ada kemungkinan lain. Ada ketinggian yang bisa disentuh. Bukan dengan mesin, bukan dengan teknologi, tetapi dengan kesadaran.

Setiap kali azan berkumandang, undangan itu datang kembali. Lima kali sehari. Tanpa tiket. Tanpa syarat kecuali satu: mau berhenti sejenak, dan mengingat. Mengingat Allah. (*)


TERKINI

John Herdman Perlu Belajar dari Guus Hiddink

Drama Pahit Keluarga Beckham

Ancaman Serius The Reds

Rekomendasi

...