Memasuki bulan Muharram dan Sura


Oleh: Gunoto Saparie (Fungsionaris ICMI Orwil Jawa Tengah)

JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Tahun baru selalu datang dengan cara yang ganjil. Ia tidak mengetuk pintu. Tidak pula memberi tanda yang pasti bahwa manusia telah menjadi lebih bijaksana dibanding setahun sebelumnya. Yang berubah hanya angka. Selebihnya, manusia tetap membawa kecemasan yang sama, harapan yang sama, dan sering kali kesalahan yang sama.

Pada Selasa, 16 Juni 2026, umat Islam memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah. Di Jawa, hari yang sama disebut 1 Sura. Dua nama bertemu dalam satu waktu, seperti dua sungai yang mengalir dari sumber berbeda lalu bersua di sebuah muara yang tenang.

Muharram berasal dari akar kata yang menunjukkan kemuliaan. Ia termasuk bulan yang dimuliakan dalam Islam. Namun menariknya, kalender Islam tidak dimulai oleh sebuah kemenangan militer, bukan pula oleh kelahiran seorang tokoh besar. Awal penanggalan Hijriah ditandai oleh hijrah: sebuah perpindahan.


Sejarah sering mengingat peristiwa besar sebagai derap pasukan atau runtuhnya kerajaan. Tetapi Islam memilih perjalanan.

Mungkin karena kehidupan memang pada dasarnya adalah perpindahan yang tak selesai. Dari kanak-kanak menuju usia tua. Dari kekuatan menuju kelemahan. Dari keyakinan menuju keraguan, lalu kembali lagi menuju keyakinan yang lain. Manusia bergerak tanpa pernah benar-benar menetap.

Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan hanya perpindahan tempat. Ia adalah perpindahan makna. Sebuah keputusan meninggalkan sesuatu yang akrab demi sesuatu yang diyakini lebih benar.

Karena itu, setiap Muharram membawa pertanyaan yang sederhana tetapi tidak mudah dijawab: dari apa kita hendak berhijrah? Dari kesombongan menuju kerendahan hati? Dari kemalasan menuju ikhtiar? Dari kebencian menuju keluasan hati?

Pertanyaan itu terdengar pribadi. Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Baca juga:  Keren! KPU Jateng Fasilitasi Jumpa Pers Khusus Selama Pendaftaran Paslon Pilkada

Sementara itu, di tanah Jawa, datangnya 1 Sura memiliki gema yang berbeda. Malam Sura sering disambut dengan tirakatan, doa bersama, kirab pusaka, tapa bisu, atau laku prihatin. Jalan-jalan menjadi lebih sunyi. Orang-orang berbicara lebih pelan. Ada kesan bahwa waktu berjalan sedikit lebih lambat.

Di tengah masyarakat modern yang gemar berisik, kesunyian itu terasa hampir asing. Tetapi kesunyian mempunyai bahasanya sendiri.

Dalam tradisi Jawa, Sura bukan sekadar penanda kalender. Ia adalah ruang untuk menundukkan diri, mengurangi kegaduhan batin, dan mengingat bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari jagat yang luas. Ada unsur spiritual, ada unsur budaya, ada pula warisan sejarah yang berlapis-lapis.

Di sinilah muncul pertanyaan yang berulang setiap tahun: bagaimana Islam memandang tradisi menyambut 1 Sura? Jawaban yang sering muncul di ruang publik kadang terlalu sederhana. Ada yang menerimanya seluruhnya. Ada pula yang menolaknya seluruhnya.

Padahal kenyataan budaya hampir tidak pernah sesederhana itu.

Islam datang ke Nusantara tidak di ruang yang kosong. Ia bertemu dengan tradisi, bahasa, simbol, dan kebiasaan yang telah lebih dahulu hidup. Pertemuan itu melahirkan dialog yang panjang. Para penyebar Islam pada masa awal memahami bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang selalu harus dimusnahkan. Yang diperiksa adalah makna dan keyakinan yang terkandung di dalamnya.

Dalam perspektif Islam, sebuah tradisi dapat diterima selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Sebab inti ajaran Islam terletak pada pengesaan Allah. Segala bentuk penghormatan kepada budaya harus tetap berada dalam batas bahwa kekuasaan tertinggi hanya milik-Nya.

Karena itu, jika malam 1 Sura digunakan untuk berdoa, bermuhasabah, mempererat silaturahmi, atau mengingat kefanaan hidup, maka tidak ada pertentangan mendasar dengan nilai-nilai Islam. Bahkan sebagian semangatnya berdekatan dengan pesan Muharram sebagai momentum refleksi dan hijrah.

Baca juga:  Tradisi Unik 100 Tahun, Buka Puasa dengan Bubur India di Masjid Pekojan Semarang

Namun persoalannya menjadi berbeda ketika tradisi berubah menjadi keyakinan bahwa benda tertentu memiliki kekuatan gaib yang menentukan nasib, atau ketika muncul anggapan bahwa keselamatan bergantung pada ritual tertentu, bukan kepada Allah. Di titik itulah Islam mengajukan koreksi.

Sebab agama pada dasarnya berusaha membebaskan manusia dari ketergantungan kepada selain Tuhan.

Di Jawa sendiri, hubungan antara Islam dan tradisi tidak pernah benar-benar selesai. Ia seperti percakapan yang terus berlangsung dari generasi ke generasi. Kadang harmonis, kadang tegang, tetapi selalu menarik untuk diamati. Barangkali karena budaya adalah ingatan, sedangkan agama adalah petunjuk. Keduanya hidup dalam diri manusia yang sama.

Maka menyongsong 1 Muharram 1448 Hijriah, yang penting bukanlah mempertentangkan Muharram dan Sura seolah keduanya berdiri di dua kutub yang saling meniadakan. Yang lebih penting adalah menemukan makna yang dapat memperkaya keduanya.

Muharram mengingatkan kita tentang hijrah. Sura mengingatkan kita tentang keheningan.

Hijrah tanpa keheningan sering berubah menjadi slogan. Keheningan tanpa hijrah sering berubah menjadi nostalgia.

Keduanya memerlukan satu sama lain.

Pada akhirnya, pergantian tahun tidak mengubah dunia secara ajaib. Matahari tetap terbit. Pasar tetap ramai. Jalan-jalan tetap dipenuhi kendaraan. Tetapi di antara semua rutinitas itu, selalu ada kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita masih berada di jalan yang benar.

Pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah selesai dijawab.

Namun seperti tahun yang terus berputar, ia akan selalu kembali. Dan setiap Muharram, setiap Sura, manusia diberi kesempatan untuk mendengarkannya sekali lagi.(*)

 


TERKINI

Rekomendasi

...