Diversifikasi PPK Ormawa HMD Pertanian Undip, Tak Ada Terbuang dari Tanaman Pisang


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Pisang selama ini identik hanya diolah dari buahnya saja, sementara kulit dan batangnya (gedebog) kerap berakhir menjadi limbah tak terpakai. Namun di Kelurahan Pongangan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, anggapan itu mulai terpatahkan.

Dengan luas lahan pisang yang meningkat dari sekitar 7 hektare pada 2025 menjadi 10,9 hektare pada 2026, serta produktivitas yang melonjak dari 2 ton menjadi 4,2 ton per bulan, potensi pisang di kelurahan ini bukan lagi sekadar komoditas biasa, melainkan sumber daya yang bisa diolah secara menyeluruh.

Melalui program pemberdayaan “SRIKANDI Naik Kelas: Transformasi Kelembagaan dan Ekspansi Pasar PisPong Kelurahan Pongangan Menuju Unit Usaha Berdampak dan Berkelanjutan”, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Pertanian, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro (UNDIP), dengan Dr. Tutik Dalmiyatun, S.Pt., M.Sc. sebagai dosen pendamping, mengajak warga mengolah nyaris seluruh bagian pisang menjadi produk bernilai ekonomi bernama PisPong.

Di tahun pertama, program ini berhasil membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) SRIKANDI sebagai wadah usaha bersama warga, lengkap dengan sejumlah legalitas resmi seperti sertifikat halal, izin P-IRT, hingga Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi dan pemasaran.

Baca juga:  Penembakan Siswa, Zainal Petir Desak Kapolrestabes Semarang di Copot 

Sejumlah produk olahan pisang lahir dan mulai dipasarkan pada tahun ini, mulai dari banana chips, abon jantung pisang, hingga Gedebog Chips; cemilan renyah dari batang pisang yang selama ini jarang dilirik, namun kini justru menjadi salah satu produk andalan PisPong. Kehadiran Gedebog Chips membuktikan bahwa bagian pisang yang biasanya dibuang percuma dapat diolah menjadi camilan yang layak jual dan digemari pasar.

DIVERSIFIKASI PRODUK PANGAN: Produk pangan dari tanaman pisang kreasi Ormawa HMD Pertanian Fakultas Peternakan dan Pertanian, UNDIP menembus pasar bebas. FOTO: IST/JATENGPOS

Dari sisi ekonomi, dampaknya terasa langsung di kantong warga. Pendapatan pelaku usaha meningkat sekitar 30 persen, dari Rp1,3 juta menjadi Rp1,7 juta per bulan, dengan total penjualan menembus 1.738 kemasan hanya dalam kurun waktu lima bulan terakhir. Capaian ini turut didukung kemitraan strategis dengan Dinas Perindustrian, Dinas Kesehatan, PLUT KUMKM, Mercy Corps Indonesia, dan DBS Foundation. Produk PisPong pun mulai menghiasi rak-rak ritel lokal seperti Shunan Mart, Ole-Ole Semarangan, dan Localoka BRI, membuka jalan menuju penetrasi pasar ritel nasional seperti Alfamart dan Indomaret.

Baca juga:  Mendadak Sungai di Pati Penuh Busa Tebal, Warga Resah 

Memasuki tahun kedua, tim menajamkan fokus pada optimalisasi sisa produksi agar semakin sedikit bagian pisang yang terbuang. Kulit pisang yang selama ini dibuang akan diolah menjadi cookies kulit pisang, sementara limbah gedebog lainnya dikembangkan menjadi pupuk organik cair (POC) untuk mendukung pertanian warga. Selain itu, tim juga membentuk unit subproduksi berbasis RW agar produksi bisa merata ke lebih banyak warga, memperkuat standar kemasan dan mutu produk, serta mempersiapkan sertifikat HKI untuk melindungi merek PisPong.

Sebagai target jangka panjang, PisPong disiapkan untuk menembus pasar ekspor pada 2027, didukung fasilitas pendampingan dan laboratorium UNDIP serta sinergi bersama Dinas Perindustrian, Dinas Kesehatan, dan sejumlah dinas Pemerintah Kota Semarang maupun Provinsi Jawa Tengah. Lewat prinsip tak ada bagian pisang yang terbuang ini, program SRIKANDI Naik Kelas membuktikan bahwa pengelolaan limbah yang tepat bisa sekaligus menjadi jalan peningkatan kesejahteraan warga Kelurahan Pongangan. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...