KKN Keren, Mahasiswa USM Ciptakan Paving Block dari Sampah Plastik


JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Sampah plastik masyarakat yang mengganggu lingkungan ternyata bisa diolah menjadi paving block. Selain mengurangi pencemaran juga menghasilkan bahan bangunan alternatif pengganti paving block beton.

Itulah inovasi yang dikembangkan mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) PPM XXVII Universitas Semarang (USM), di kelurahan Purwosari kecamatan Semarang Utara. Selama 7 Juli hingga 5 Agustus, mereka terjun ke masyarakat untuk melakukan pengabdian.

Koordinator KKN mahasiswa USM di kelurahan Purwosari, Andre Faza Mahendra Sutaka, menjelaskan, jumlah penduduk yang mencapai 9.511 jiwa, menunjukkan kelurahan Purwosari memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Sehingga menyebabkan meningkatnya volume timbunan sampah rumah tangga setiap harinya.


“Karena itu diperlukan upaya inovatif dalam mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah plastik. Salah satu solusi yang kami diterapkan adalah pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan baku pembuatan paving block. Inovasi ini tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi jumlah sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Selain mendukung upaya pelestarian lingkungan, pembuatan paving block dari limbah plastik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah melalui konsep reduce, reuse, dan recycle (3R),”ucapnya.

Baca juga:  PT DI Ekspor Pesawat ke Senegal

Dia menjelaskan, proses pembuatan paving block diawali dengan mengumpulkan limbah plastik yang telah dipilah berdasarkan jenisnya. Jenis plastik yang umumn digunakan sebagai bahan baku yaitu High Density Polyethylene (HDPE/kode 2) yang banyak ditemukan pada botol deterjen, botol sampo, dan jeriken. Low Density Polyethylene (LDPE/kode 4), yang berasal dari kantong plastik, plastik pembungkus, atau shrink wrap. Serta Polypropylene (PP/kode 5), yang banyak dijumpai pada tutup botol, gelas plastik tertentu, dan wadah makanan.

Kemudian limbah plastik dibersihkan dari kotoran yang menempel dan dikeringkan agar tidak mengganggu proses pengolahan. Selanjutnya, limbah plastik dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil untuk mempermudah proses pelelehan. Limbah plastik kemudian dipanaskan hingga meleleh menggunakan alat pemanas dengan suhu yang disesuaikan dengan jenis plastik yang digunakan. Setelah plastik meleleh, material tersebut dicampurkan dengan pasir yang telah diayak dan dikeringkan.

Baca juga:  Kapolda Jateng Tekankan Pengasuhan Humanis Taruna PIP SemarangĀ 

“Perbandingan yang umum digunakan adalah 70% limbah plastik dan 30% pasir (70:30), berdasarkan berat. Komposisi tersebut dipilih karena mampu menghasilkan campuran yang lebih padat, memiliki daya ikat yang baik, serta memberikan kekuatan tekan yang memadai pada paving block,”imbuh Andre.

Campuran kemudian dituangkan ke dalam cetakan paving block dan dipadatkan menggunakan alat penekan agar memiliki kepadatan yang baik. Setelah proses pencetakan selesai, paving block didinginkan hingga mengeras, kemudian dilepas dari cetakan dan siap digunakan maupun diuji kualitasnya.

“Ini sekaligus mendukung upaya pengurangan pencemaran lingkungan dan penerapan konsep ekonomi sirkular di masyarakat,” kata Dr.Helen Intania S, S.H., M.H, dosen Pembimbing Lapangan KKN PPM XXVII mahasiswa USM. (*/jan)


TERKINI

Rekomendasi

...