Oleh Gunoto Saparie (Alumni Pesantren Lansia At-Taqwa, Ngaliyan, Semarang)
JATENGPOS. CO. ID, Perjalanan selalu mempunyai kebiasaan yang aneh: kita berangkat dengan menyebut nama sebuah tempat, tetapi sering pulang membawa nama yang lain: nama sesuatu yang tidak ada di peta.
Sabtu, 5 September 2026, kami berangkat dari halaman Museum Ranggawarsita, Semarang. Tujuan kami Yogyakarta. Rihlah, demikian kami menyebutnya. Kata yang terdengar lebih tua daripada kata “wisata”, seolah perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan juga berpindah cara memandang hidup.
Saya bersama istri, Sri Multi Fatmawati, ikut dalam rombongan. Kami jamaah At-Taqwa, dan juga alumni Pesantren Lansia At-Taqwa, program yang diselenggarakan sebulan sekali oleh masjid kami.
Pesertanya puluhan. Kebanyakan lansia.
Ada ironi kecil di sini. Kita biasanya mengajak anak-anak berwisata agar mereka mengenal dunia. Tetapi pada usia lanjut, kita justru kembali melakukan perjalanan untuk mengenal dunia, dan mungkin untuk mengenal diri sendiri yang selama ini terlalu sibuk kita tinggalkan.
Kami dipimpin Prof. Dr. Ahwan Fanani.
Perjalanan pun dimulai.
Di Klaten, kami singgah di Masjid Al-Aqsha. Nama itu membawa gema yang jauh. Al-Aqsha yang lain berada ribuan kilometer dari sana, di sebuah kota yang sejak berabad-abad diperebutkan manusia atas nama iman, sejarah, dan tanah.
Tetapi pagi itu kami tidak sedang memikirkan geopolitik.
Kami melihat bangunan yang megah. Kami mengagumi arsitekturnya. Lalu kami mengambil wudu dan salat dhuha berjamaah.
Mungkin inilah salah satu kelebihan masjid: ia dapat membuat bangunan yang besar menjadi kecil. Kubah, tiang, ornamen, halaman; semuanya pada akhirnya tunduk kepada satu gerakan sederhana: dahi menyentuh tempat sujud.
Manusia yang tadi sibuk menjadi wisatawan kembali menjadi hamba. Sesudah doa, perjalanan diteruskan ke Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.
Di Masjid Islamic Centre UAD, kami mendengarkan ceramah Munawir Haris tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai lansia, sebelum salat zuhur berjamaah. Saya pun teringat bahwa manusia mempunyai banyak cara menghitung umur.
Ada yang menghitungnya dengan tahun. Ada yang dengan uban. Ada yang dengan obat-obatan yang mulai memenuhi laci. Ada yang dengan cucu.
Tetapi mungkin Tuhan menghitung umur dengan cara lain: berapa banyak kebaikan yang masih dapat kita lakukan. Sebab menjadi tua sebenarnya bukan soal angka. Angka hanya angka. Yang lebih sulit adalah menerima bahwa waktu telah berubah menjadi sesuatu yang terasa semakin mahal.
Ketika muda, satu hari terasa seperti barang murah. Ketika tua, satu hari dapat terasa seperti hadiah.
Dan karena itu, mungkin seorang lansia tidak perlu ditanya, “Apa yang masih bisa Anda lakukan?” Pertanyaan yang lebih layak barangkali: “Kebaikan apa yang masih ingin Anda lakukan?”
Di Masjid Jogokaryan, Yogyakarta, kami pun kembali belajar.
Masjid ini terkenal karena manajemennya. Tetapi istilah “manajemen masjid” terdengar agak ganjil bila kita ingat bahwa masjid pada dasarnya adalah tempat manusia belajar melepaskan kesombongan.
Namun barangkali justru di situlah persoalannya.
Masjid yang baik bukan hanya memerlukan orang yang khusyuk beribadah, tetapi juga orang yang tahu bagaimana mengurus kehidupan jamaah. Ada jadwal. Ada administrasi. Ada pelayanan. Ada komunikasi. Ada strategi. Bahkan ada semacam kecerdasan sosial yang membuat orang merasa bahwa masjid bukan bangunan yang mereka kunjungi, tetapi rumah yang mereka miliki bersama.
Kami salat asar. Lalu belajar tentang pengelolaan Masjid Jogokaryan.
Saya membayangkan bahwa sebuah masjid menjadi hidup bukan karena pengeras suaranya paling keras, melainkan karena suara jamaahnya didengar.
Mungkin itu pula yang membuat program Pesantren Lansia At-Taqwa terasa penting bagi kami. Sebulan sekali kami datang untuk belajar. Tetapi sesungguhnya kami juga datang untuk saling mengingatkan bahwa umur panjang bukan alasan untuk berhenti menjadi murid.
Bukankah manusia baru benar-benar tua ketika ia tidak lagi mau belajar?
Sore pun berlalu.
Perjalanan membawa kami ke Gunungkidul, ke Heha. Di sana kami menunaikan salat magrib berjamaah. Sesudah itu, pemandangan malam terbuka di hadapan kami.
Kota-kota di bawah tampak sebagai titik-titik cahaya. Lampu-lampu itu seperti kunang-kunang.
Tetapi kunang-kunang mempunyai tubuh kecil dan cahaya yang singkat. Ia tidak bercita-cita menerangi seluruh dunia. Ia hanya bercahaya secukupnya agar kegelapan tidak sepenuhnya menang.
Mungkin hidup manusia memang seperti itu.
Kita sering terlalu ingin menjadi matahari. Padahal barangkali Tuhan tidak meminta kita menjadi matahari. Cukup menjadi cahaya kecil bagi seseorang. Bagi pasangan. Bagi anak. Bagi tetangga. Bagi jamaah. Bagi orang yang kebetulan sedang berada dalam gelap.
Di Heha malam itu, saya melihat puluhan orang yang sebagian besar sudah melewati usia muda. Mereka tertawa, berbincang, memandang pemandangan, mungkin mengambil gambar.
Dan saya tiba-tiba merasa bahwa usia lanjut tidak selalu berarti menunggu akhir. Ia juga bisa berarti merayakan sisa perjalanan.
Bukankah kita semua sebenarnya sedang menuju malam? Perbedaannya hanya pada seberapa jauh kita telah berjalan ketika malam itu datang.
Rihlah ini pun akhirnya menjadi semacam pelajaran yang tidak tertulis. Pagi: dhuha. Siang: nasihat. Sore: belajar mengurus masjid. Malam: memandang cahaya. Empat bab kecil tentang kehidupan.
Berdoa ketika hari masih terang. Belajar ketika umur telah senja. Melayani ketika tenaga masih tersisa. Dan akhirnya memandang cahaya-cahaya kecil yang mungkin selama ini kita anggap sepele.
Saya tidak tahu apakah perjalanan ini membuat kami lebih mengenal Yogyakarta. Mungkin tidak. Tetapi saya merasa kami sedikit lebih mengenal diri sendiri.
Kami berangkat sebagai jamaah yang hendak berwisata. Kami pulang sebagai orang-orang yang diingatkan kembali bahwa hidup adalah rihlah: perjalanan yang tidak pernah memberi tahu kita dengan pasti di mana titik akhirnya.
Dan ketika kendaraan akhirnya membawa kami kembali ke Semarang, saya teringat lampu-lampu di Gunungkidul. Kunang-kunang itu masih menyala dalam ingatan. Kecil. Jauh. Hampir tidak berarti.
Tetapi justru karena kecil dan jauh itulah ia mengajarkan sesuatu yang besar: bahwa dalam perjalanan menuju gelap, manusia tidak selalu membutuhkan cahaya yang banyak.
Kadang-kadang, satu cahaya kecil sudah cukup untuk membuat kita terus berjalan. Dan mungkin, itulah arti sebuah rihlah. Bukan menemukan tempat baru. Melainkan menemukan alasan baru untuk melanjutkan perjalanan.(*)




