Forkot KORMI Hidupkan Kembali Permainan Tradisional


JATENGPOS.CO.ID,  SEMARANG – Puluhan siswa dari berbagai sekolah di Kota Semarang adu keterampilan dan ketangkasan bermain egrang dalam Festival Olahraga Masyarakat Kota (Forkot) 2026 di halaman Balai Kota Semarang, Minggu (4/9/2026).

Permainan tradisional berbahan bambu tersebut menjadi salah satu perlombaan yang menarik perhatian. Para siswa harus menjaga keseimbangan sekaligus bekerja sama dengan anggota tim untuk menyelesaikan lintasan.

Lomba egrang dimainkan secara estafet. Setiap tim terdiri dari empat orang yang secara bergantian melintasi lintasan hingga menyelesaikan empat kali perjalanan. Peserta yang telah mencapai ujung lintasan kemudian menyerahkan giliran kepada anggota tim berikutnya untuk kembali ke garis awal.

Perlombaan berlangsung meriah. Sejumlah peserta beberapa kali terjatuh saat berusaha menjaga keseimbangan di atas egrang. Namun, mereka segera bangkit dan kembali melanjutkan perlombaan. Aksi tersebut membuat penonton bersorak hingga tertawa menyaksikan keseruan pertandingan.

Salah satu peserta, Cantika Triyanda Gifti, mengaku sempat mengalami kaki kapalan dan beberapa kali terjatuh selama perlombaan. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menyelesaikan lintasan.

Menurut siswi kelas 8 SMP Negeri 39 Kota Semarang tersebut, tantangan utama dalam perlombaan egrang adalah menjaga keseimbangan sekaligus membangun koordinasi dengan anggota tim.

Baca juga:  Saksi TPS PDI-P Sukoharjo Resah, Uang Saksi Diduga Disunat Rp 1 Miliar 

“Kegiatan ini tuh seru banget karena ini melatih daya kita kayak percaya diri sama kita bisa lebih mengenal permainan tradisional di Indonesia,” ujar Cantika.

Ia mengapresiasi Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Semarang atas gelaran ini. Menurutnya, Forkot tidak hanya menjadi ajang untuk melatih kemampuan dan kepercayaan diri, tetapi juga mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.

Peserta lainnya, Rasyadan Zunur Thirafi, mengaku memiliki pengalaman bermain egrang sejak duduk di kelas empat SD di kampungnya, Kelurahan Krobokan. Namun, menurutnya, permainan tersebut kini semakin jarang ditemui.

Untuk mempersiapkan diri mengikuti Forkot 2026, siswa kelas 9 SMP Negeri 30 Semarang tersebut berlatih bersama teman-temannya setiap pulang sekolah hingga magrib.

“Harapannya untuk kegiatan kali ini lebih sering diadakan agar ramai juga ada kegiatan olahraga di Kota Semarang dan biar tidak terlupakan permainan tradisionalnya,” ungkap Rasyadan.

Forkot 2026 diikuti sekitar tiga ribu pegiat olahraga masyarakat yang tergabung dalam 43 induk organisasi olahraga (Inorga) KORMI Kota Semarang. Peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga lansia.

Baca juga:  DPC PDIP Salatiga Tanam 5000 Bibit Tanaman

Berbagai perlombaan digelar di sejumlah lokasi di Kota Semarang, mulai dari halaman Balai Kota Semarang, lapangan olahraga sekolah, gedung olahraga, hingga sejumlah fasilitas publik. Ketua KORMI Kota Semarang, Dyah Tunjung Pudyawati mengatakan, Forkot menjadi ruang bagi masyarakat untuk aktif berolahraga sekaligus mengembangkan potensi dan keterampilan.

Ia mengatakan, perlombaan egrang diwadahi oleh Inorga Fortina (Federasi Olahraga Tradisional Indonesia). Melalui kegiatan tersebut, olahraga tradisional juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya yang mulai jarang dimainkan.

“Inorganya namanya Fortina, jadi itu kumpulan olahraga tradisional. Salah satunya ada egrang, ada bakiak, ya. Jadi, ini juga salah satu upaya untuk melestarikan budaya yang ada di Kota Semarang,” ungkap Mbak Tunjung, sapaan akrabnya.

Selain menjadi ajang olahraga masyarakat, Forkot juga menjadi bagian dari proses pembinaan pegiat olahraga masyarakat. Para juara dari masing-masing Inorga nantinya akan dipersiapkan untuk mengikuti Festival Olahraga Masyarakat Daerah (Forda) Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang. (sgt)


TERKINI

Rekomendasi

...