Investasi Rp 9,7 Triliun Desember Masuk Jateng


JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG – Jawa Tengah bersiap menerima gelombang investasi senilai sekitar Rp 9,7 triliun dari sejumlah perusahaan asing. Komitmen tersebut mencakup ekspansi industri yang sudah beroperasi di Jateng hingga rencana relokasi perusahaan dari luar negeri. Sejumlah proyek bahkan ditargetkan mulai dibangun pada Desember 2026.

 

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang memimpin Jateng bersama Wagub Taj Yasin, mengatakan, rencana investasi tersebut menjadi sinyal kepercayaan investor terhadap iklim usaha di wilayahnya. Menurut dia, kepastian perizinan, kondusivitas daerah, kesiapan infrastruktur, dan ketersediaan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menarik modal asing.

 

“Kami mendapatkan sekitar Rp 9,7 triliun investasi yang akan masuk ke Jawa Tengah, juga kerja sama sister province dengan provinsi di Vietnam,” kata Ahmad Luthfi, Senin (2/11/2026).

 

Ia menilai, besarnya nilai investasi yang berhasil dijajaki dalam waktu relatif singkat tidak lepas dari kepercayaan calon investor terhadap potensi Jawa Tengah. Ahmad Luthfi meminta seluruh pemangku kepentingan menjaga iklim usaha agar komitmen tersebut dapat direalisasikan.

 

“Tidak mudah mendapatkan Rp 9,7 triliun dalam beberapa hari. Investasi ini bisa didapatkan karena ada trust atau kepercayaan. Jadi, kami mengajak seluruh stakeholder untuk ikut mendukung pengembangan Jawa Tengah sebagai salah satu tujuan investasi,” ujar Luthfi.

 

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Urip Sihabudin, menjelaskan, penjajakan investasi tersebut merupakan hasil dari agenda promosi perdagangan, pariwisata, dan investasi (trade, tourism, and investment/TTI) di Vietnam.

Baca juga:  29.916 Calon Haji Asal Jateng Batal Berangkat ke Tanah Suci

 

Pemprov Jateng mengirimkan tim untuk mengikuti agenda yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Vietnam. Selain mempromosikan potensi daerah, tim juga menjajaki kerja sama antarpemerintah dengan Provinsi Quang Ninh serta mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra bisnis.

 

Dari rangkaian pertemuan tersebut, sejumlah perusahaan menyampaikan komitmen melalui nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) maupun surat pernyataan minat (letter of intent/LoI).

 

Salah satu rencana investasi terbesar berasal dari perusahaan garmen berskala besar dengan nilai sekitar Rp 4,6 triliun. Perusahaan tersebut direncanakan memulai pembangunan atau groundbreaking pada Desember 2026.

 

Selanjutnya, perusahaan asal Vietnam yang bergerak di bidang sepatu, tas kulit, dan minyak wangi berencana memperluas usahanya di Jawa Tengah. Perusahaan yang sebelumnya telah beroperasi di Jepara itu menjajaki ekspansi ke daerah lain dengan nilai investasi sekitar Rp 2,9 triliun.

 

Adapun perusahaan asal Tiongkok berencana merelokasi usahanya ke Jawa Tengah dengan nilai investasi sekitar Rp 2,17 triliun.

 

“Di bidang pemerintahan dapat, promosi pariwisata dapat, investor totalnya dapat Rp 9,7 triliun. Sudah ada yang tanda tangan kontrak, ada juga yang baru letter of intent,” kata Urip.

 

Dengan demikian, nilai investasi yang dijajaki tersebut masih memiliki tahapan realisasi berbeda. Proyek yang telah menandatangani kontrak tentu memerlukan tindak lanjut yang berbeda dari proyek yang masih berupa pernyataan minat.

Baca juga:  Ahmad Luthfi Usulkan Aplikasi Layanan Publik Diintegrasikan Secara Nasional

 

Selain menjajaki investasi, Pemprov Jateng juga berencana mengadaptasi pola pengembangan kawasan industri yang diterapkan Vietnam. Salah satu pendekatannya adalah menyiapkan kebutuhan dasar industri sejak awal agar investor tidak harus menghadapi sendiri persoalan lahan, infrastruktur, perizinan, hingga rantai pasok bahan baku dan tenaga kerja.

 

Menurut Urip, pemerintah perlu mengambil peran lebih aktif dalam menyiapkan kawasan sehingga proses investasi dapat berjalan lebih terarah.

 

Dari 12 daerah yang telah menyatakan minat dan mengajukan usulan kawasan industri baru, Pemprov Jateng akan mengkaji tiga hingga empat lokasi untuk menerapkan pola tersebut. Brebes menjadi salah satu daerah yang dipertimbangkan.

 

“Kami akan mencoba mereplikasi pola di Vietnam di Jawa Tengah. Dari 12 daerah yang berminat dan sudah mengajukan kawasan industri baru, ada tiga sampai empat titik yang akan kami coba dengan formula seperti di Vietnam. Salah satunya Brebes,” ujarnya.

 

Masuknya investasi baru diharapkan tidak berhenti pada nilai komitmen di atas kertas. Realisasi proyek akan menjadi penentu sejauh mana investasi tersebut mampu memperluas kegiatan industri, membuka kesempatan kerja, dan menggerakkan perekonomian daerah.

 

Karena itu, selain menjaga kepercayaan investor, tantangan berikutnya bagi pemerintah daerah adalah memastikan proyek-proyek tersebut benar-benar berjalan dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat Jawa Tengah. (*)


TERKINI

Rekomendasi

...