JATENGPOS.CO.ID, KARANGANYAR – Pesona Gunung Lawu bagi pendaki memiliki kesan tersendiri, khususnya bagi yang suka dengan pemandangan alam dan sejarah Nusantara. Wukir Mahendra nama awal Gunung Lawu ini menyimpan sisa-sisa peradaban yang jauh sebelum Masehi.
Demikian disampaikan Wakil Ketua DPRD Karanganyar, Toni Hatmoko, yang sudah berkali-kali naik turun Gunung Lawu, setidaknya ia membutuhkan waktu 3 hari untuk naik turun Gunung Lawu. Politisi PKB ini paling senang naik Lawu melalui jalur Candi Cetha.
“Di Cetha selain jalur setapak masih alami, karena menurut sejarah gerbang menuju Wukir Mahendra itu Candi Cetha. Dari sana bisa mulai belajar sejarah, selanjutnya di pos 3 itu sudah bisa belajar sejarah sampai puncak Hargo Dalem,” ungkapnya pada wartawan, kemarin (7/4).
Disebutkan Toni, sapaan akrab penggemar keris lawas ini, di Lawu ada 3 puncak, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Puruso. Rata- rata pendaki paling ke Hargo Dalem apa Dumilah, yang Hargo Dumiling dan Puruso itu jarang karena tak ada jalurnya. Jalur itu alamnya masih asli, banyak binatang liarnya seperti, macan dan babi hutan.
“Jalan ke Hargo Puruso melewati pasar Dieng atau pasar setan kita juga sudah biasa. Banyak yang takut di sana. Kita biasa karena sudah terbiasa,” jelasnya.
Jalur itu bagi yang paham sejarah, dari Hargo Dumilah itu bentuknya punden berundak, ada bulak peperangan, dan di baliknya itu ada benteng Pendem.
“Sejarah yang saya tahu dari penelitian saat Lawu akan dibor untuk geotermal itu, peradaban Lawu sekitar 3.500 sebelum Masehi. Gunung itu masih aktif, kawahnya ada dua titik itu,” pungkasnya. (yas).





