JATENGPOS.CO.ID, YOGYAKARTA – Riset Group Hortikultura dan Agroforestri Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat. Sosialisasi budidaya dan pembagian bibit petai di Desa Kenayan, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Pengabdian masyarakat ini bermitra dengan kelompok Tani (KT) Catur Manunggal di desa Kenayan. Meskipun berlangsung secara luring, tetapi pelaksanaannya tetap mematuhi protokol kesehatan.
Tim Pengabdian Masyarakat Program Hibah Riset Group Non APBN UNS Tahun Anggaran 2022 Prodi Agroteknologi FP UNS ini diketuai oleh Prof. Bambang Pujiasmanto. Sementara itu, anggota tim pengabdian ini yaitu Prof. Sulandjari, Dr. Pardono, Dr. Puji Harsono, Dr. Eddy Triharyanto, Hery Widijanto, M.P.
Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait budidaya petai untuk meningkatkan pemanfaatan lahan pekarangan.
Seluruh peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pengabdian yang digelar pada 31 Maret 2022. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh anggota KT Catur Manunggal yang berjumlah 25 orang.
“Kami berharap semoga dengan adanya kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini dapat memberikan manfaat bagi warga dalam memanfaatkan lahan pekarangan maupun untuk budidaya petai,” harap Herman, ketua Kelompok Tani Catur Manunggal.
Herman berharap kegiatan ini dapat berlanjut karena bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan anggota kelompok tani.
Prof. Bambang menjelaskan bagaimana budidaya petai. Tanaman Petai tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga pegunungan, pete dapat tumbuh dengan baik di lokasi 800 mdpl. Daerah penanaman ini harus bersih dari gulma dan tanaman pengganggu. Tanaman petai dapat tumbuh baik di tempat terbuka di pH tanah 5,5-6,5.
Prof Bambang juga menerangkan cara okulasi, yaitu: 1) siapkan batang bawah hasil semai biji atau dari tanaman petai yang tumbuh liar, 2) kemudian masukan dalam polybag semai, 3) carilah tunas dari tanaman petai yang telah berbuah, 4) sayat batang hasil semai tersebut dengan ukuran tertentu, 5) kulit tunas yang berasal dari tanaman induk petai disayat juga dengan ukuran yang sama, 6) tempelkan sayatan tunas dengan semaian bawah lalu ikat dengan tali. Bibit yang minimal telah berumur 6 bulan dapat di pindah tanamkan pada lahan tanam.
Dalam kegiatan sosialisasi, Prof. Sulandjari menyampaikan bahwa petai atau pete menjadi salah satu kudapan favorit bagi sebagian orang. Petai memiliki banyak manfaat kesehatan yang baik untuk tubuh. Selain di Indonesia, petai mempunyai nama ilmiah Parkia speciosa juga terkenal di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Laos.
“Petai atau pete identik dengan bau khasnya. Bau tersebut dikarenakan kandungan asam amino di dalamnya. meskipun berbau, pete memiliki beragam manfaat kesehatan yang terkandung di dalamnya.” Kata Prof Sulandjari.
Sejumlah nutrisi terdapat pada petai seperti zat besi, vitamin C, protein, vitamin B2, karbohidrat, kalsium, fosfor, polifenol (mikronutrien antioksidan), phytosterol yang dapat menurunkan LDL, dan flavonoid (antioksidan). (Dea/bis/rit)














