SUKOHARJO – Kabupaten Sukoharjo kembali mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan andalan Jawa Tengah. Bertempat di BPP Mojolaban, Selasa (13/1/2026), Bupati Sukoharjo Etik Suryani resmi mengukuhkan 99 orang Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Tuladha Tani.
Langkah ini menjadikan Sukoharjo sebagai pionir, mengingat belum semua kabupaten memiliki lembaga penyuluh yang lahir dari inisiatif petani inovator itu sendiri.
Kepala Dinas Pertanian Sukoharjo, Bagas Windaryatmo, menjelaskan bahwa pembentukan PPS ini merupakan strategi cerdas untuk mengatasi keterbatasan jumlah ASN penyuluh (PPL). Per 1 Januari 2026, 79 PPL di Sukoharjo telah beralih status menjadi pegawai pusat, sehingga kolaborasi dengan tenaga swadaya menjadi kunci.
“Kami kumpulkan para petani inovator ini, kami lembagakan dan kelola bersama agar menjadi kekuatan besar untuk mendorong kemajuan pertanian. Mereka memiliki kemampuan luar biasa, mulai dari membuat herbisida sendiri, ramuan pengusir tikus, hingga cara menetralkan asam tanah,” jelas Bagas.
Dalam kesempatan tersebut, Bagas juga mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi nasional. Berdasarkan survei dan pemetaan independen Kementerian Pertanian, gelar Petani Teladan Indonesia berhasil diraih oleh petani asal Sukoharjo, Heri Sunarto.
“Ini prestasi yang tidak bisa diintervensi. Heri Sunarto memang layak. Mari kita belajar bersama agar seluruh petani Sukoharjo bisa menjadi teladan di Indonesia,” tambahnya.
Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, dalam sambutannya menekankan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar seremonial. Ia meminta 99 PPS yang tersebar di 12 kecamatan tersebut untuk langsung terjun ke lapangan bersinergi dengan PPL ASN.
PPS ini adalah para senior yang sudah paham karakter tanah dan cuaca di lapangan. Harapan saya, mereka bisa memberikan ilmu nyata kepada petani lain. PPL punya program, PPS punya pengalaman, kalau bersinergi hasilnya pasti luar biasa,” tegas Etik.
Bupati juga menitipkan pesan khusus mengenai kerukunan antar kelompok tani. Ia meminta para penyuluh tidak terjebak dalam persaingan yang tidak sehat atau membeda-bedakan kelompok.
“Sing penting rukun, jangan ada sekat antar kelompok. Kalau kompak bersatu, Sukoharjo bisa jadi percontohan nasional. Ingat, ini bukan cuma foto-foto lalu selesai, saya akan monitor kerja nyatanya di lapangan,” pungkas Bupati. (dea/rit)



