30 C
Semarang
Sabtu, 28 Maret 2026

Gelar Budaya FIB UNS, Fadli Zon: Indonesia Negara Peradaban dan “Mega Diversity”




JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Auditorium GPH Haryo Mataram Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjadi saksi perjumpaan lintas generasi dalam acara Gelar Budaya dan Reuni Akbar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS, Kamis (26/3).

Mengusung tema “Merajut Pelangi Budaya Nusantara,” kegiatan ini dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Prof. (Hon) Dr. Fadli Zon, M.Sc.

Momen ini menjadi ajang konsolidasi alumni lintas angkatan, mulai dari era Fakultas Sastra (FS), Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR), hingga FIB. Fokus utamanya adalah memperkuat kolaborasi dalam melestarikan kekayaan budaya nasional di tengah tantangan zaman.

Dalam orasi kebudayaannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar Nation State, melainkan Sovereign State atau Negara Peradaban. Ia menyoroti kekayaan budaya yang disebutnya sebagai Mega Diversity, mencakup 1.340 etnis dan 718 bahasa daerah.


Baca juga:  FPTI Karanganyar Jaring Bibit Atlet Menuju Porprov 2026

“Ekspresi budaya kita dari Sabang sampai Merauke sangat kaya dan dalam. Kita memiliki potensi besar untuk menjadi Ibu Kota Kebudayaan Dunia,” ujar Fadli Zon di hadapan ratusan alumni dan mahasiswa.

Fadli juga memaparkan temuan arkeologis di Gua Metandur, Sulawesi Tenggara, yang diperkirakan berusia 67.800 tahun, sebagai bukti kuat posisi Indonesia sebagai salah satu peradaban tertua di dunia. Ia mendorong agar kekayaan ini dikelola menjadi soft power melalui strategi Indonesia Wave.

Rektor UNS, Prof. Hartono, menekankan bahwa budaya merupakan nafas pendidikan dan pondasi karakter manusia. Sejalan dengan visi UNS sebagai pusat pengembangan IPTEK internasional yang berlandaskan nilai luhur budaya, UNS telah mendirikan Badan Pengembangan Budaya UNS pada tahun 2025 yang berada langsung di bawah koordinasi Rektor.

Baca juga:  Ikut Berperan Pemulihan Pandemi, 234 SC Fokus Giat Sosial dan Olahraga

“Pendidikan harus mampu membangun kohesi sosial tanpa mencabut manusia dari akar budayanya,” tegas Prof. Hartono.

Senada dengan hal tersebut, anggota Komisi II DPR RI sekaligus perwakilan alumni FIB UNS, Moh. Toha, menyambut positif visi kementerian. Ia menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, praktisi, dan legislatif dalam hal dukungan fiskal maupun program digitalisasi.

“Digitalisasi atau upaya ‘nguri-uri’ budaya secara modern adalah kunci agar kekayaan kita tetap relevan dengan zaman,” pungkasnya. Acara ini dimeriahkan dengan pameran karya alumni serta bazar UMKM mahasiswa, mempertegas ekosistem budaya yang hidup di lingkungan kampus. (dea/rit)




TERKINI




Rekomendasi

...