JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjadi saksi kembalinya para talenta kreatif dalam ajang pameran alumni bertajuk Pojok Merdeka #1. Acara yang berlangsung pada 4-6 Mei 2026 di kampus ini menampilkan 39 karya dari 45 alumni lintas generasi dan disiplin ilmu.
Ketua Alumni FSRD UNS, Dr. Yulius Widi Nugroho, mengungkapkan bahwa pameran ini merupakan wadah akomodasi bagi seluruh jurusan. Meski awalnya diinisiasi oleh komunitas ilustrator, Pojok Merdeka berkembang menjadi ruang pamer bagi pelukis, fashion designer, animator, hingga desainer game.
“Tujuannya adalah calling back, mengumpulkan kembali para alumni dengan acara yang prestisius. Ada karya yang sifatnya single, ada juga yang kolaborasi hingga empat orang untuk memproduksi produk fesyen massal. Ini akan menjadi prototipe untuk penyelenggaraan rutin setiap tahun,” ujar Yulius.
Konsep unik diusung oleh panitia dengan memadukan unsur reuni dan pameran profesional. Ketua Panitia, Bramasta Aji, menjelaskan bahwa pendekatan non-formal sengaja diambil mengingat banyak alumni yang kini telah menduduki posisi strategis di industri kreatif.
“Kami memulai dari kekaryaan. Ketika mereka berkumpul melalui karya, mereka akan berjejaring sendiri. Kami sadar sebuah produk tidak bisa tercipta dari satu disiplin ilmu saja, butuh kolaborasi berbagai kompetensi,” jelas Bramasta.
Selain pameran, kegiatan ini juga menghadirkan program Alumni Mengajar. Sejumlah nama besar seperti Aditya Permadi yang pernah menangani brand global seperti Nike dan terlibat dalam proyek Hasbro serta Jakarta Toys Fair, turut hadir memberikan wawasan nyata kepada mahasiswa. Juga ada Jalu Pambarep, hingga Ninggar Mayang dan Sandi Kristian.
Dekan FSRD UNS, Dr. Deny Tri Ardianto, menyambut positif kegiatan ini sebagai jawaban atas isu relevansi kurikulum dengan industri. Ia menegaskan bahwa alumni FSRD UNS telah membuktikan eksistensinya, tidak hanya di tingkat nasional namun juga internasional.
“Kantor mereka mungkin di sini, tapi klien dan jaringannya ada di Jepang, Singapura, hingga New York. Bahkan ada yang terlibat dalam proyek Marvel. Ini adalah bukti konkret bagi mahasiswa bahwa wilayah seni rupa sangat aktif dalam industri kreatif global,” tegas Deny.
Terkait tantangan kecerdasan buatan (AI), Deny berpesan agar mahasiswa tidak merasa terancam. Ia menilai AI hanyalah alat (tools), sementara kualitas rasa dan pemikiran manusia tetap menjadi keunggulan utama.
“Kita yang harus men-drive AI, bukan sebaliknya. Melalui pameran dan kuliah umum ini, alumni berbagi strategi membangun portofolio dan jaringan. Ini menjadi stepping stone bagi adik-adik mahasiswa agar memiliki pijakan kuat sebelum lulus,” pungkasnya. (dea/rit)













