Hasil Riset Iropin, Angka Kelainan Refraksi pada Anak Melonjak


JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO — Ikatan Refraksionis Optisien Indonesia (Iropin) menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran optometris sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia. Langkah strategis ini diambil merespons melonjaknya angka kelainan refraksi yang mengancam anak-anak usia sekolah.

Ketua Iropin periode sebelumnya, Nova Joko Pamungkas, mengungkapkan riset Iropin tahun 2025 terhadap 2.100 siswa SD hingga SMA di lima provinsi menunjukkan prevalensi kelainan refraksi mencapai 30,8 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan dari riset sebelumnya yang berada di kisaran 24,7 persen.

“Hal ini menandakan tiga dari sepuluh anak di Indonesia mengalami masalah penglihatan yang berpotensi mengganggu proses belajar mengajar,” katanya.

Baca juga:  Dugaan 12 Siswi Dicabuli Kepsek-Guru, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

Guna menekan angka tersebut, Iropin mendorong pembentukan dan penguatan fasilitas vision center atau pusat layanan penglihatan di tingkat puskesmas. Langkah ini akan melibatkan sinergi antara optometris, perawat, hingga kader kesehatan.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-4 dan Musyawarah Nasional ke-8 Iropin di Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (25/9).

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyambut positif usulan tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menyatakan sebanyak 883 puskesmas di wilayahnya memiliki potensi besar untuk difasilitasi menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan mata secara promotif dan preventif.

“Sinergi dengan dokter mata dan pemerintah sangat penting. Usulan ini sangat luar biasa dan akan segera kami sampaikan kepada Bapak Gubernur,” tuturnya.

Baca juga:  Peringati HUT ke - 76 TNI, Polres Sukoharjo Persembahkan Lagu Sinergitas dan Soliditas TNI Polri

Sementara itu, Ketua Iropin periode 2026–2031, Mohammad Husein, menekankan pentingnya pelaksanaan skrining tajam penglihatan sedini mungkin di tengah maraknya penggunaan gawai pada anak.

“Kami juga terus menjalin kerja sama erat dengan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia guna menekan risiko kebutaan di masyarakat,” ujarnya.

Ketua Panitia, Nasim Fajriyah, mencatat agenda ilmiah tersebut sukses diikuti sebanyak 820 peserta dari berbagai daerah. Sebagai bagian dari penguatan kapasitas anggota yang kini mencapai 6.300 orang di seluruh Indonesia, Iropin turut menggelar seminar internasional bertajuk Marking New Milestone: The First International Skills Scientific Meeting of Iropin. (dea/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...