Satu Peserta Meninggal, Pemkab Karanganyar Hentikan Napak Tilas Joko Songo


JATENGPOS.CO.ID, KARANGANYAR – Napak Tilas Joko Songo ke-31 dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-109 Kabupaten Karanganyar berakhir duka. Satu peserta meninggal dunia setelah mengeluh kelelahan dan muntah di tengah perjalanan.

Peserta tersebut adalah Califfa Marwa Nabila, siswi SMKN 1 Karanganyar, warga Jumantono. Ia mengikuti napak tilas dengan rute Mojoroto, Mojogedang-Karangpandan-Matesih-Buper Delingan sejauh 20 kilometer.

Califfa baru berjalan sekitar 4 kilometer dari titik start. Sesampainya di kawasan hutan karet di timur Pondok Pesantren MTA, ia mengeluh kecapekan dan muntah.

Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) langsung memberikan penanganan pertama. Di dalam ambulans, Califfa kembali muntah. Ia kemudian dibawa ke homestay pangkalan di wilayah Jumok, Delingan, untuk beristirahat.

Karena kondisinya belum stabil, Califfa langsung dibawa ke RSUD Karanganyar sekitar pukul 13.00 WIB. Setelah mendapatkan penanganan intensif, ia dinyatakan meninggal dunia pukul 19.10 WIB.

Sekretaris Daerah (Sekda) Karanganyar Kurniadi Maulato mengatakan, kegiatan yang seharusnya selesai pada Jumat itu dihentikan lebih awal sebagai bentuk penghormatan.

“Tentu ini kita evaluasi. Jumat harusnya selesai. Tapi kita hentikan hari ini, untuk menghormati. Upacara penutupan kita laksanakan, semua menangis itu dan lokasi sudah dibersihkan,” ujar Kurniadi, Kamis (5/11/2026).

Sementara itu, ibu almarhumah, Martalia Anggun, mengaku anaknya sebenarnya sudah sakit sebelum kegiatan dimulai. Seminggu sebelumnya, Califfa menjalani latihan penuh setiap hari dengan jarak yang terus bertambah hingga fisiknya drop.

Baca juga:  Royal Ethno Carnival Meriahkan Ambal Warsa Ke-346 Kartasura

“Per hari sekian kilo, nanti nambah sekian kilo, nambah sekian kilo gitu tiap harinya. Jadi fisiknya sudah drop duluan, kecapekan,” kata Martalia.

Ia mengaku sudah mengingatkan anaknya untuk beristirahat. Namun, Califfa tetap nekat ingin mengikuti kegiatan tersebut.

” Sudah saya ingatkan istirahat saja dulu. Cuma anaknya nekat. Saya juga tidak bisa melarang kalau anaknya ingin sendiri,” ujarnya.

Pada Selasa malam sebelum berangkat, Martalia sempat berkomunikasi melalui WhatsApp. Saat itu Califfa mengaku kondisinya sudah membaik, meski masih muntah setiap makan. Ia pun berpesan agar anaknya makan sedikit demi sedikit.

Pembina kegiatan juga menyampaikan kondisi Califfa pada Rabu pagi sudah bagus dan fit sebelum berangkat. Namun, di tengah perjalanan, kondisinya kembali drop.

Martalia dikabari sekitar pukul 14.00 WIB saat anaknya sudah berada di rumah sakit. Saat tiba di IGD, kondisi Califfa sudah kritis, setengah sadar, berbicara tidak jelas, dan gerakannya tidak terkontrol. Denyut jantungnya di atas normal, seperti orang sehabis berlari.

Califfa sempat dipindahkan ke IGD dan direncanakan dirujuk ke RSUD dr. Moewardi. Dokter telah memberikan obat untuk menormalkan denyut jantung, tetapi kondisinya tidak membaik.

Baca juga:  Turnamen E-Sport Piala Kapolresta Surakarta Jaring Atlet Muda

“Saya sempat pulang sebentar mengambil perlengkapan. Di perjalanan kembali ke rumah sakit, saya ditelepon, anak saya mau dipasangi alat bantu napas. Sampai di IGD, sudah pucat. Saya pegang sudah dingin, sudah kaku,” kenang Martalia.

Perawat menyampaikan jantung Califfa sudah dipacu sebanyak lima kali dan diberi obat-obatan, tetapi tidak ada reaksi. Dokter menyebut kondisi tersebut diduga akibat dehidrasi berat.

Martalia menegaskan anaknya tidak memiliki riwayat penyakit. Sebelumnya, Califfa sempat diare dan tidak nafsu makan, diduga karena masuk angin dan kelelahan akibat latihan.

“Anaknya fisiknya kuat, memang suka ikut kegiatan. Mungkin karena ini sudah sakit duluan, memang kondisinya sudah drop,” ujarnya.

Di mata keluarga, Califfa dikenal sebagai anak baik, penurut, dan berprestasi. Semasa SMP, ia aktif di Dewan Penggalang dan meraih banyak prestasi.

Ia mengungkapkan, Bupati Karanganyar, Rober Christanto juga sudah menjenguk saat di RSUD, utusan dari Pemkab Karanganyar juga sudah menyampaikan tali asih dan bela sungkawa.

Martalia berharap penyelenggara lebih memperhatikan kondisi kesehatan peserta ke depan. Peserta yang sakit diminta beristirahat dan tidak dipaksa mengikuti kegiatan.

“Harus lebih memperhatikan kesehatan. Kalau ada yang sakit, suruh istirahat saja, jangan boleh ikut,” pungkasnya. (yas/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...