MAKKAH. JATENGPOS.CO.ID- Keterlambatan bus pengangkut di Muzdalifah yang menyebabkan banyak jamaah pingsan dan satu orang meninggal itu, sebenarnya satu saja dari rangkaian haji. Banyak rangkaian haji dari awal hingga akhir yang sebenarnya sudah cukup bagus. Sayang, tercoreng perisitwa Mizdalifah dan buruknya fasilitas di Mina.
Bejan Syahidan, wartawan Jateng Pos, dari Makkah Almukarromah, melaporkan, saat jamaah haji gelombang 1 datang di Madinah, layanan semuanya relatif bagus. Hotelnya bagus. Rata-rata bintang 3 dan empat. Tempatnya di sekitaran masjid Nabawi saja. Tidak terlalu jauh. Sekitar 300-400 meter jalan kaki.
Cuma waktu berangkat dan pulang, seat atau tempat duduk pesawat Garuda tidak sesuai nomer penumpang. Istilahnya jamaah bisa duduk di mana saja. Tidak harus sesuai daftar manifest. Ini yang membuat agak kacau saat masuk pesawat. Ada penumpang yang ngotot duduk sesuai nomer, ada yang asal duduk. Ada yang mencari nomernya, tetapi tidak ada nomernya. Pramugari bilang ya sudah duduknya bebas saja.
Tapi sejak kedatangan di Madinah semua relatif oke. Bus penjemputan dari bandara ke hotel juga oke. Bahkan di bus disambut snack dan minum. Jamaah lansia yang membutuhkan bantuan juga dilayani para petugas. Meskipun tetap banyak yang tersesat. Selama arbain 8 hari di masjidil Haram juga lancar. Memang, kesan pertama yang mengagetkan adalah manu makan. Jauh dari yang kita bayangkan. Tetapi jamaah berusaha menerima (nanti kita bahas tersendiri detilnya seperti apa).
Pemberangkatan ke Makkah dari Madinah juga lancar. Bus bagus. Ambil miqot Bir Ali hingga tiba ke Makkah normal. Bahkan hotel-hotel tempat jamaah menginap di Makkah tergolong mewah. Baik hotel kawasan Misfalah, Sisah, Roudhoh, Aziziyah, Mambaz Jin, dll semuanya bintang 3 dan empat. Memang jaraknya ada yang 2 kilo dan terjauh 7 kilo dari masjidil Haram. Tetapi semuanya ada fasilitas bus gratis. Bus sholawat yang disiapkan pemerintah Saudi dan Indonesia. Siap mengantar dan menjemput jamaah ke masjidil Haram 24 jam. Tidak rebutan. Ada 19 ribu bus layanan haji Indonesia.
Ini sangat berbeda dengan hotel-hotel jamaah haji dari negara lain. Misalnya dari Nigeria dan Cina. Hotelnya rata-rata bintang 2 dan 3. Di gang-gang masuk. Mencari yang lebih murah. Tetapi semua hotel Indonesia di pinggir jalan raya. Di tengah kota-kota di Makkah. Akses mudah. Kanan-kiri hotel banyak toko. Ya makanan. Ya pusat oleh-oleh. Kecuali Malaysia. Hotelnya banyak dekat masjidil Haram. Di seputaran Zam Zam Tower. Keluar hotel sudah pelataran masjidil Haram. Maklum. Duitnya banyak. Ada subsidi silang antara jamaah orang kaya dan orang biasa.
Layanan hotel Indonesia juga bagus. Bersih. Air hangat. Kalau ada keluhan cepet ditangani. Setiap hotel ada musholla besar. Sehabis isya ada teh, kopi, jus, dan roti gratis. Pelayanya orang-orang Bangladesh dan Burma. Ramah-ramah. Umumnya jamaah nyaman di hotel. Padahal paling lama jamaah stay ya di hotel itu. Hampir satu bulan. Hari-hari kegiatan sholat ke masjidil Haram, balik hotel, makan tiga kali, tidur, lalu tidur lagi. Begitu seterusnya. Bayangkan kalau hotelnya tidak nyaman. Bisa jadi masalah besar.
Sampailah tiba saatnya Armuzna. Kegiatan inti haji. Yakni dimulai dari Wukuf di Arofah, ambil batu kerikil di Muzdalifah, lembar batu di Mina. Berangkat hingga wujuf di Arofah lancar. Maktab meskipun berhimpitan tidak ada masalah. Semua jamaah dapat tempat. Dapat kasur kecil. Makan lancar tiga kali. Fasilitas MCK banyak. Meski antri tidak ngadat. AC dingin. Layanan kesehatan berjalan terus.
Petugas haji selalu hadir. Bahkan sholat dan khotbah wukuf meski di maktab masing-masing berjalan khitmad. Banyak jamaah meneteskan air mata. Banyak yang menangis ketika wukuf habis duhur hingga magrib. Padahal empet-empatan di dalam tenda. Kecuali yang pengin sembunyi dari tangisnya. Mereka pilih keluar tenda. Munajat di bawah-bawah pohon. Menyendiri di lorong-lorong tenda. Semuanya menangis berlama-lama.
Menangisi dosanya. Menangis telah mendholimi diri sendiri. Menangis kepada Alloh. Dosanya sebesar gunung. Tetapi ampunan Alloh masih jauh lebih besar lagi. Berbuat zalim dan dosa selama hidupnya. Tetapi Alloh ampuni dalam sekejab di Arofah itu. Banyak hajat dan keinginan. Tetapi Alloh kabulkan di Arofah itu. Bahkan haji adalah Arofah. Tanpa wukuf di Arofah tidak sah hajinya . Semua jamaah yang sehat maupun sakitpun harus diboyong ke Arofah saat itu. Betapa istimewanya hari Arofah. Betapa besar rahmat Alloh kepada hambaNya.
Setelah magrib semua jamaah diboyong ke Muzdalifah. Perjalanan dengan bus 5 kilo meter lancar. Sejak pukul 7 malam sudah pada sampai. Mengambil batu kerikil di padang seluas sekitar 10 hektar itu. Yang sudah datang duluan lalu bergeser ke pintu keluar. Naik bus lagi menuju Mina. Semalaman massa bergerak ke Mina bergantian berjalan lancar. Barulah pagi harinya. Ribuan jamaah yang datang belakangan tidak mendapat bus dengan lancar.
Itulah awal mula insiden terjadi. Sejak jam 7 pagi hingga 12 siang mereka terlantar. Makin siang makin kepanasan. Padahal di situ tidak ada persediaan air. Tidak ada tenda. Bus datang terlambat. Banyak bus lewat tidak mau berhenti. Karena memang bukan jatahnya. Bus jatah Indonesia itulah yang terlambat datang. Dengan alasan jalanan macet. Akibatnya banyak yang dehidrasi bahkan pingsan. Infonya ada satu jamaah meninggal. Entah dari daerah mana. Tidak ada kabarnya.
Lalu ke Mina. Masalah pelik sebenarnya di Mina ini. Maktab tidak cukup untuk jamaah sehingga berdesakan dan sebagian tidur di luar tenda. Saat datang MCK macet. Tidak ada air sampai hari kedua. Begitu air mengalir malah bocor kemana-mana masuk maktab. AC tenda sering mati. Jatah makan rebutan. Banyak yang tidak dapat. Ini hanya terjadi di maktab Indonesia. Negara lain tidak ada masalah.
Tetapi tiga sampai empat hari lempar jumroh di Mina pun aman. Delapan kilo PP ke jamarot jalan kaki tidak ada kendala. Arus massa diatur dengan baik. Petugas setempat sangat banyak disebar. Panas terik tidak mengapa. Polisis selalu menyemprotkan air dingin ke wajah-wajah jamaah. Di sisi kanan kiri banyak kran air. Bisa diminum. Bisa buat mengguyur kepala. Bahkan disetiap terowongan Mina ada escalator. Banyak kipas angin. Jamaah yang capek tidak usah berjalan. Cukup naik escalator berjalan sendiri. Di jamarot juga tidak terjadi masalah. Padahal jutaan orang. Semua melempar jumroh dengan aman.
Balik dari Mina ke hotel di Makkah juga lancar. Bus siap sedia. Tiap kloter 350 orang semua terangkut bergantian. Tidak berlama-lama. Tidak seperti di Muzdalifah. Sampai di Makkah lalu towaf ifadoh. Rukun haji terakhir. Memang harus jalan kaki dari hotel ke masjidil Haram. Jaraknya 2 sampai lima kilo meter. Tetapi disiasati jalan kaki malam hari. Supaya tidak panas. Sampai towaf wadak (perpisahan) pun aman. Dua hari sebelum pulang di hotel masih dapat jatah makan. Hingga perpulangan ke bandara Jedah juga oke. Di bus dikasih nakan dan snack. Memang menunggu terbang 5 jaman. Tetapi diberi makan dan snak lagi sama Masyariq.
Yang dikeluhkan jamaah justeru aturan kelewat ketat dari Garuda. Di bandara diinformasikan yang boleh naik pesawat hanya koper tenteng dan tas pasport. Padahal jamaah pada membawa tas tambahan untuk oleh-oleh selain di koper besar. Akhirnya tas tambahan dibongkar. Barang-barang tersebut ditinggal di bandara. Ada botol zam zam, makanan, buah, barang dll. Padahal, saat melewati imigrasi dan x-ray, petugas bandara tidak mempermasalahkan. Kecuali sajam. Satu dua yang nekat membawa tas tambahan tetap aman. Koper hamil pun lolos. “Memang petugas kita yang terlalu over,”kata jamaah.
Terbang ke tanah air via Garuda juga lancar. Di dalam kabin tidak seribet yang diinfokan petugas haji. Bahkan boleh duduk di kursi yang diinginkan. Tidak harus sesuai nomer seat. Perjalanan 9 jam Jedah transit Medan dapat makan dua kali snack dan buah sekali. Perjalanan Medan-embarkasi Solo dua jam makan sekali. Secara umum sudah luar biasa bagus. Sayang ternodai kasus Muzdalifah dan buruknya layanan di Mina. (*)








