JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Duka mendalam dirasakan umat Katolik di seluruh dunia atas wafatnya Bapa Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik dalam usia 78 tahun, pada Senin, 21 April 2025.
Kepergian beliau begitu mengejutkan, mengingat dua hari sebelumnya masih menyapa umat dalam perayaan Paskah di Vatikan. Vatikan telah menetapkan masa berkabung selama sembilan hari.
Sebagai bentuk penghormatan dan doa, SD Pangudi Luhur St. Timotius Solo mengadakan rangkaian kegiatan spiritual untuk mengenang jasa dan teladan Bapa Paus Fransiskus.
Kepala SD Pangudi Luhur St Timotius Solo, Marsono Adi Wiryono menjelaskan kegiatan dimulai pada Selasa (22/4), seluruh siswa melaksanakan doa bersama di kelas masing-masing, dilanjutkan dengan kegiatan literasi dan diskusi bertema “Mengenal Bapa Paus Fransiskus”.
Puncaknya pada Rabu (23/4), diadakannya perarakan doa yang melibatkan seluruh 1.025 siswa dari SD Pangudi Luhur St. Timotius.
Perarakan dimulai dari sekolah menuju Gereja St. Antonius Purbayan, diiringi lagu-lagu berkabung oleh tim koor sekolah. Dua siswa membawa foto besar Bapa Paus Fransiskus di bagian depan, bersama Bruder Andrias Purwanto FIC—Koordinator SD Pangudi Luhur Solo—serta dua prodiakon.
Empat siswi bertugas menabur bunga sepanjang rute perarakan, sementara ratusan siswa lainnya melambai-lambaikan bunga kertas berwarna-warni sebagai simbol cinta dan penghormatan.
Setibanya di Gereja St. Antonius, acara dilanjutkan dengan Misa yang dipimpin oleh Romo Antonius Bagas Prasetya Adi Nugraha, S.J., sebagai bentuk doa bersama serta perayaan Paskah bagi para siswa.
“Kegiatan ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Bapa Paus, tetapi juga sebagai upaya untuk menanamkan nilai empati dan kepedulian dalam diri siswa. Kami ingin anak-anak belajar bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan yang patut dihormati. Ini juga jadi momen pendidikan karakter yang kuat,” imbuh Marsono.
Marsono menambahkan, kegiatan literasi yang dilakukan sehari sebelumnya juga bertujuan untuk memperkenalkan peran Paus kepada para siswa sesuai dengan tingkatan usia mereka. Mulai dari pengenalan tentang siapa itu Paus, di mana beliau tinggal, hingga diskusi mengenai proses pemilihan Paus baru.
“Kami sesuaikan materinya berdasarkan fase belajar. Kelas bawah diajak mengenal secara sederhana, sementara kelas atas sampai ke diskusi mengenai struktur kepemimpinan Gereja Katolik,” imbuhnya.
Meskipun diliputi duka, peristiwa ini menjadi momen reflektif sekaligus pembelajaran iman dan empati bagi siswa. SD Pangudi Luhur berharap, semangat dan teladan Bapa Paus Fransiskus tetap hidup dalam hati anak-anak sebagai generasi penerus yang cinta damai dan penuh kasih.(dea)








