JATENGPOS.CO.ID-Pendidikan di Jawa Tengah mendapat suntikan inspirasi baru setelah salah satu putera terbaiknya, Fakhrudin Sujarwo, S.Sos., M.Pd., mengikuti event bergengsi FY2025 ASEAN-Japan Exchange Program for Secondary School Educators. Guru Sosiologi dari SMA Negeri 1 Sambungmacan, Sragen, ini menjadi salah satu dari 12 pendidik Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program yang diselenggarakan oleh Japan Foundation bekerja sama dengan Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen.

Kunjungan yang berlangsung selama sembilan hari, dari tanggal 9 hingga 16 November 2025, ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman pendidik ASEAN tentang sistem pendidikan, kebudayaan, dan inovasi teknologi Jepang, yang kemudian diharapkan dapat diterapkan di sekolah asal. Fakhrudin sendiri merupakan figur yang populer di Jawa Tengah, selain sebagai guru, ia juga menjabat sebagai Duta Teknologi Kemendikdasmen dan Kapten belajar.id Provinsi Jawa Tengah.
Pengalaman paling berkesan bagi Fakhrudin adalah saat mengunjungi sekolah, termasuk Yonezawa Kojokan High School dan Haramachi Elementary School. Di sana, ia mengamati betapa tingginya budaya hormat dan respek siswa terhadap guru dan sesama siswa.
“Apa yang paling menginspirasi adalah budaya gotong royong yang mendarah daging, terutama dalam hal menjaga kebersihan. Siswa membersihkan lingkungan sekolah secara sadar dan mandiri, bukan karena dipaksa atau melalui sistem piket yang terstruktur ketat, tetapi sebagai bagian dari kemandirian dan kesadaran kolektif,” ujar Fakhrudin.
Integrasikan STEAM dan Inovasi Bioteknologi
Fokus kunjungan juga menyentuh aspek inovasi dalam pendidikan dan teknologi. Di Yamagata University, Fakhrudin diperkenalkan secara mendalam pada konsep STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics). Ia berkesempatan mengikuti demonstrasi langsung pembuatan ecoprint menggunakan bunga safflower sebagai pewarna, sebuah integrasi antara sains dan seni yang berakar pada kearifan lokal.
“Konsep STEAM yang dikembangkan di Universitas Yamagata ini sangat praktis dan mendetail, bahkan sampai pada integrasi pembuatan produk ramah lingkungan. Hal ini memicu saya untuk segera mengintegrasikan konsep STEAM ke dalam pembelajaran sosiologi, sekaligus mensosialisasikannya kepada komunitas belajar dan warga sekolah,” tambahnya.
Lebih lanjut, kunjungan ke Tsuruoka Science Park di Yamagata, yang dikenal sebagai klaster bioteknologi kelas dunia, menumbuhkan semangat berinovasi. Di sana, ia mempelajari tentang teknologi inovatif SPIBER dari METAGEN, yang berorientasi pada penciptaan solusi masalah. Fakhrudin merangkum bahwa kunci keberhasilan pendidikan Jepang terletak pada fondasi karakter yang kuat (disiplin dan gotong royong) yang berjalan beriringan dengan keterbukaan terhadap inovasi (STEAM dan riset bioteknologi).
Dengan pengalaman dan wawasan baru ini, diharapkan pendidikan karakter dan inovasi berbasis riset di Jawa Tengah dapat semakin ditingkatkan.



