28 C
Semarang
Senin, 23 Februari 2026

Berakar Lokal, Berpijak Global: Menanam Deep Learning untuk Masa Depan Pendidikan Dasar

Oleh: Nur Fitri Fatimah (Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan UNS dan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Baitul Fallah Karanganyar, Jawa Tengah)

JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Di tengah kompleksitas persoalan sosial, ekologis, dan moral global, pendidikan dasar menghadapi tantangan mendasar: apakah sekolah hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, atau justru ruang pembentukan kesadaran, karakter, dan kebijaksanaan generasi masa depan. Pembaruan kurikulum abad ke-21 menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup mengajarkan apa yang harus diketahui anak, tetapi juga bagaimana berpikir, bersikap, dan memaknai kehidupan.

Dalam konteks inilah pendekatan deep learning menemukan relevansinya. SD Muhammadiyah Baitul Fallah (SD MBF) menerjemahkan gagasan ini melalui kurikulum deep learning berbasis pertanian—sebuah ikhtiar pendidikan yang membumi, kontekstual, sarat nilai, dan sekaligus berpandangan global.

Pilihan ini bukan sekadar inovasi kurikulum, melainkan pernyataan sikap tentang pendidikan dasar yang dekat dengan realitas hidup, berakar pada nilai, dan menyiapkan masa depan.
Secara pedagogik, deep learning dimaknai sebagai pembelajaran yang mendorong pemahaman konseptual mendalam, keterkaitan lintas disiplin, kemampuan berpikir kritis, serta refleksi pengalaman belajar untuk diterapkan dalam kehidupan nyata (Fullan et al., 2018).

Pendekatan ini menolak pembelajaran dangkal yang berorientasi hafalan dan capaian jangka pendek. Di SD MBF, deep learning menjadi jiwa kurikulum. Guru berperan sebagai perancang pengalaman belajar, sementara siswa menjadi subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui eksplorasi, dialog, dan refleksi, sejalan dengan teori konstruktivisme dan inquiry-based learning (Bransford et al., 2000).

Baca juga:  Welfare State ala Jawa Tengah 

Keunikan SD MBF terletak pada keberaniannya menjadikan pertanian sebagai ekosistem pembelajaran utama. Kebun sekolah bukan sekadar pelengkap, melainkan pusat integrasi kurikulum lintas mata pelajaran. Pendekatan ini sejalan dengan Phenomenon-Based Learning yang berkembang di Finlandia, di mana pembelajaran dimulai dari fenomena nyata yang kompleks sehingga mendorong integrasi berbagai disiplin ilmu (Sahlberg, 2015; Silander, 2015).

Dalam praktiknya, pertanian menjadi fenomena pembelajaran yang utuh. Tanaman dipelajari sebagai objek sains dan ekologi, lahan sebagai ruang matematika terapan, proses bertani sebagai sumber literasi dan refleksi, serta alam sebagai ayat-ayat kauniyah dalam pendidikan keislaman. Melalui aktivitas menanam, merawat, mengamati, hingga memanen, siswa belajar secara langsung dan bermakna, sejalan dengan prinsip experiential learning (Darling-Hammond, 2017).
Pertanian juga mengajarkan bahwa belajar adalah proses bertahap yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tanaman tidak tumbuh dalam semalam—demikian pula pengetahuan dan karakter. Proses ini menumbuhkan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan berkembang melalui usaha dan ketekunan (Dweck, 2006). Di sinilah deep learning bekerja secara utuh, menyentuh ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Baca juga:  Budidaya Jahe Merah dalam Karung Sebagai Solusi Keterbatasan Lahan

Praktik pembelajaran SD MBF berdialog dengan praktik pendidikan unggul dunia. Dari Jepang, diadopsi budaya refleksi dan kedalaman proses melalui praktik serupa lesson study (Lewis, 2002). Dari Singapura, diperkuat keterampilan abad ke-21: berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas (MOE Singapore, 2020). Dari Cina, diambil penguatan literasi sains dan pemahaman sistem alam, namun dipadukan dengan pendekatan humanis dan spiritual (Zhao, 2012).
Bagi SD MBF, deep learning tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Pertanian menjadi media internalisasi nilai amanah, tanggung jawab, kerja keras, kepedulian lingkungan, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Pendidikan dasar diposisikan sebagai fondasi pembentukan manusia seutuhnya, sejalan dengan pandangan UNESCO (2021).

Keberhasilan kurikulum ini sangat ditentukan oleh peran guru sebagai arsitek pembelajaran. Melalui budaya refleksi, diskusi pedagogik, dan kolaborasi, sekolah tumbuh sebagai learning organization (Hargreaves & O’Connor, 2018).

Melalui kurikulum deep learning berbasis pertanian, SD Muhammadiyah Baitul Fallah menegaskan diri sebagai sekolah dasar unggulan yang berakar lokal dan berpijak global. Di ladang kecil sekolah ini, benih ilmu, karakter, dan kesadaran ekologis tengah ditanam—sebagai ikhtiar peradaban untuk menyiapkan generasi masa depan tanpa kehilangan jati diri. (*)

 



TERKINI

Rekomendasi

...