JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Pagi belum sepenuhnya hangat ketika Sungai Banjir Kanal Barat mulai berdenyut. Dentuman aba-aba, hentakan dayung, dan teriakan penyemangat memecah aliran air yang biasanya tenang di jantung Kota Semarang.
Di sungai inilah, Lomba Dayung Nasional Piala Bergilir Menteri Pekerjaan Umum 2026 digelar pada 10–11 Januari. Sebanyak 511 pendayung dari berbagai penjuru Indonesia turun gelanggang, membawa semangat kompetisi sekaligus harapan prestasi.
Ajang yang diselenggarakan Politeknik Pekerjaan Umum (PU) ini menjadi salah satu kompetisi olahraga air terbesar di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum. Nomor Dragon Boat Racing (DBR) dan Stand Up Paddle (SUP) dipertandingkan, menghadirkan duel kekuatan fisik, teknik, dan kekompakan tim.
Peserta datang dari beragam latar belakang. Mulai atlet klub dayung, pelajar dan mahasiswa, hingga atlet dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian PU. Di atas perahu, sekat-sekat latar belakang itu melebur, berganti irama dayung yang harus seirama menuju garis akhir.
Bagi sebagian peserta, kejuaraan ini bukan sekadar perlombaan. Lomba ini menjadi ruang belajar, tempat menempa mental bertanding, sekaligus panggung awal bagi calon atlet masa depan cabang olahraga dayung.
Kejuaraan ini terselenggara melalui kolaborasi Politeknik PU dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Dukungan juga datang dari Pengurus Besar PODSI, PODSI Jawa Tengah, serta PODSI Kota Semarang.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pekerjaan Umum, Apri Artoto, secara resmi membuka lomba ini. Ia menekankan bahwa olahraga dayung lebih dari sekadar adu cepat di atas air.
“Tidak ada perahu yang melaju karena satu orang yang kuat. Dayung mengajarkan kerja sama, disiplin, ketangguhan, dan konsistensi,” ujar Apri.
Menurut Apri, nilai-nilai tersebut sejalan dengan karakter sumber daya manusia yang terus dibangun di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum. Ketangguhan fisik, mental, dan integritas menjadi fondasi penting bagi generasi muda.
Sementara itu, Direktur Politeknik Pekerjaan Umum Semarang, Brawijaya, melihat lomba ini sebagai investasi jangka panjang pembinaan olahraga air. Terlebih, Sungai Banjir Kanal Barat dinilai memiliki potensi besar sebagai venue latihan dan kompetisi.
“Banjir Kanal Barat kami siapkan sebagai pusat pembinaan olahraga dayung di Jawa Tengah. Lomba ini akan kami jadikan agenda rutin tahunan,” kata Brawijaya.
Ia mengingatkan bahwa cabang olahraga dayung telah membuktikan diri sebagai salah satu lumbung prestasi Indonesia. Pada ajang SEA Games terakhir di Thailand, dayung menjadi penyumbang medali emas terbanyak bagi kontingen Merah Putih.
“Dayung menyumbang sembilan medali emas. Ini potensi besar yang harus dijaga dan diperkuat lewat pembinaan berkelanjutan, termasuk dari lingkungan pendidikan tinggi,” ujarnya.
Di lintasan lomba, atmosfer kompetisi terasa kental. Setiap nomor menghadirkan tensi berbeda, dari Dragon Boat Racing Mix 500 meter kategori umum dan pelajar–mahasiswa, hingga Dragon Boat Racing Open 500 meter kategori UPT Kementerian PU. Nomor Stand Up Paddle 200 meter putra dan putri juga tak kalah menyita perhatian penonton.
Sorak sorai terdengar setiap kali perahu mendekati garis finis. Bagi sebagian tim, kemenangan menjadi target utama. Namun bagi yang lain, mampu menyelesaikan lomba dengan kompak sudah menjadi pencapaian tersendiri.
Para juara berhak membawa pulang Piala Bergilir Menteri Pekerjaan Umum, Piala Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Piala Kepala BPSDM Kementerian Pekerjaan Umum, hingga Piala Direktur Politeknik Pekerjaan Umum.
Kejuaraan ini dijadwalkan berakhir pada Minggu (11/1/2026). Ketika lomba usai dan sungai kembali tenang, Banjir Kanal Barat meninggalkan jejak penting: sungai tak hanya mengalirkan air, tetapi juga semangat sportivitas, kerja sama, dan harapan lahirnya pendayung-pendayung masa depan Indonesia.(aln)







