30.1 C
Semarang
Rabu, 15 April 2026

Gelar Pelatihan di Lemah Ireng, INSTIPER-CIRAD Dorong Peningkatan Kualitas Kakao




JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER Bersama CIRAD memperkuat transformasi sektor kakao melalui program INDOKAKAO, inisiatif strategis Indonesia–Prancis dalam mendorong ketahanan pangan dan pengembangan komoditas berkelanjutan.

Sejak diluncurkan pada September 2025, INDOKAKAO berfokus pada penguatan budidaya kakao berkelanjutan, peningkatan rantai nilai, serta ketahanan ekologis sektor kakao nasional. INDOKAKAO mendorong pendekatan smart agroforestry—sistem budidaya yang mengintegrasikan kakao dengan pohon pelindung dan komoditas lain.

Untuk mempercepat adopsi program tersebut di lapangan, PSLB INSTIPER dan mitra menyelenggarakan pelatihan intensif pada tanggal 14 hinga 17 April 2026 di KP2 INSTIPER Desa Lemah Ireng, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, diikuti 30 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Peserta merupakan para penyuluh, fasilitator Perhutanan Sosial, pendamping LSM, hingga pemimpin kelompok tani dipersiapkan sebagai aktor kunci perubahan di tingkat tapak. Program ini mencerminkan komitmen kuat lintas mitra. CIRAD menghadirkan inovasi berbasis riset global, PSLB INSTIPER memastikan implementasi di lapangan, sementara dukungan mitra seperti PT Permodalan Nasional Madani (PNM) memperkuat aspek pembiayaan dan keberlanjutan usaha petani melalui berbagai program pemberdayaan.


“Lewat program INDOKAKAO, kami memastikan petani tidak hanya dilatih, tetapi didampingi agar inovasi benar-benar diterapkan dan berdampak pada peningkatan produktivitas,” ujar Direktur PSLB INSTIPER, Agus Setyarso, di sela kegiatan pelatihan, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, kegiatan ini didukung oleh para pakar dari CIRAD diantaranya Jean-Marc Roda, Regional Director at CIRAD representing INRAE & Agreenium for the South East Asia, Christian Cilas, Scientist at CIRAD, Philippe Vaast, Olivier Sounigo, dan ⁠Eko Ariawan, Officer Divisi Strategic Transformation dari PNM, serta peneliti dan praktisi dari Puslitjkoka Indonesia (ICCRI), Bappenas, serta fasilitator perhutanan sosial dari Kementerian Kehutanan.

Baca juga:  Kadisbupar Apresiasi IPAPIS Berbagi Ramadan, Bagikan 464 Paket Santunan Anak Panti Asuhan

Dalam kesempatan pelatihan bertema Smart Cocoa Agroforestry for Sustainable Livelihoods (Agroforestri Kakao Cerdas untuk Mata Pencarian Berkelanjutan) itu, Agus Setyarso menyampaikan menghadapi tantangan kebutuhan dalam negeri yang masih kurang, perlu menempatkan generasi muda menyukai usaha perkebunan ini dengan nyaman, bisa mempunyai penghasilan dari smart agroforestry.

“Jadi, smart itu tidak berarti bahwa kita cukup bergantung pada satu komoditas saja. Kakao saja, tetapi sebagaimana kita bisa lihat di latar belakang ini, dicampur dengan tanaman-tanaman lain. Seperti di lahan INSTIPER ini kita punya tanaman karet, punya sawit, punya teh, kolang-kaling, aren, pohon kepala dan lainnya,” jelasnya.

“Satu usaha pertanian itu tidak boleh bergantung pada bisnis satu komoditas. Tapi bisnis-bisnis campuran berbagai komoditas itu saling berjejaring, saling menutup, saling mengisi dan saling mendukung,” tambahnya.

Regional Director at CIRAD representing INRAE & Agreenium for the South East Asia, Jean-Marc Roda, mengatakan program ini untuk meningkatkan kualitas kakao dari Indonesia supaya diterima di pasar internasional. Kualitas kakao Indonesia meski berada di lima besar dunia, tapi masih kalah dengan Afrika Barat.

“Harapan kita dengan peningkatan kualitas, kita bisa meningkatkan high value supaya mendapatkan kakao yang bernilai tinggi (premium). Sehingga bisa meningkatkan pendapatan karena inti program ini untuk meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.

Baca juga:  18.200 Paket Sembako Bantuan Puan Maharani Dibagikan Warga Kabupaten Semarang
Para peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti pelatihan di KP2 Instiper Desa Lemah Ireng, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Rabu (15/4/2026). FOTO: MUIZ/JATENGPOS

Pakar peneliti CIRAD, Christian Cilas menjelaskan kualitas tanaman kakao dipengaruhi karakteristik lahan yang berbeda-beda. Seperti Bali tanaman kakao rentan diserang hama helo meltis. Peneliti akan mencarikan varietas kakao yang paling cocok bagi masing-masing daerah.

“Nanti ada bapak Philippe Vaast ahli agronostri CIRAD. Beliau punya hasil riset dari berbagai tempat di seluruh dunia, akan diaplikasikan kakao ini sebaiknya tumbuh di dekat tanaman apa, lahannya seperti apa. Agar hasilnya optimal sesuai kondisi masing-masing daerah,” ujarnya.

Perlu diketahui, pelatihan ini digelar menjawab permintaan pasar global terhadap kakao berkualitas tinggi dan berkelanjutan saat ini terus meningkat. Namun, Indonesia justru menghadapi tantangan serius, yakni produktivitas di tingkat petani masih stagnan dan belum mampu memnuhi kebutuhan pasar.

Saat ini produktivitas kakao Indonesia masih berada di kisaran 0,5–0,8 ton per hektare, jauh di bawah potensi optimal di atas 1,5 ton per hektare, menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan.

Kondisi ini menyebabkan kesenjangan antara supply dan demand: pasar tumbuh, tetapi produksi dan kualitas belum mampu mengimbangi. Lebih dari 90% kakao nasional dihasilkan oleh petani kecil yang menghadapi tantangan penuaan tanaman, serangan hama dan penyakit, serta keterbatasan akses pembiayaan dan teknologi, sebagaimana dicatat Badan Standardisasi Instrumen Pertanian. (muz)




TERKINI




Rekomendasi

...