34.7 C
Semarang
Rabu, 29 April 2026

Percepat Pengentasan Stunting, Heri Pudyatmoko Tekankan Pendidikan Gizi di Tingkat Keluarga




JATENGPOS.CO.ID SEMARANG – Meski prevalensi terus menurun, tantangan menyelesaikan akar masalah gizi atau stunting masih menjadi prioritas di Provinsi Jawa Tengah. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko menekankan pentingnya sinergi dari hulu ke hilir melalui pendidikan gizi yang kuat di tingkat keluarga.

Heri menilai, pendekatan hulu ke hilir harus dimulai dari kesadaran keluarga, bukan hanya intervensi saat balita sudah terkena stunting.

Diketahui, prevalensi stunting Jawa Tengah berhasil turun menjadi 17,1 persen pada tahun 2024, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional 19,8 persen.

Penurunan ini merupakan capaian signifikan sejak 2018 yang masih berada di angka 31,2 persen. Namun, secara absolut masih terdapat ratusan ribu balita yang membutuhkan perhatian serius.


“Sinergi hulu ke hilir berarti kita harus bekerja dari hulu: pendidikan gizi bagi remaja putri, ibu hamil, hingga orang tua balita. Semua harus teredukasi dengan baik,” tegas Heri Pudyatmoko.

Baca juga:  Santri Didorong Tampil sebagai Pelopor Dakwah Digital

Menurutnya, pendidikan gizi di tingkat keluarga adalah intervensi paling strategis dan berkelanjutan.

Heri mendorong agar DPRD dan Pemprov Jateng memperkuat kolaborasi dengan seluruh stakeholder. Mulai dari puskesmas, kader posyandu, sekolah, hingga tokoh agama dan masyarakat.

“Jangan biarkan program berhenti di tingkat pemerintah saja. Harus sampai ke rumah tangga,” ujarnya.

Selain itu, Heri melihat stunting sebagai ancaman jangka panjang terhadap kualitas SDM Jawa Tengah. Anak yang mengalami stunting berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas di masa dewasa.

“Ini soal integritas kita sebagai pemimpin. Apakah kita serius membangun generasi yang sehat dan unggul,” katanya.

Ia mengatakan, penguatan program pendampingan keluarga berisiko stunting harus dilakukan melalui kunjungan rumah (home visit) secara rutin. Setiap keluarga harus mendapat edukasi tentang ASI eksklusif, MP-ASI yang bergizi, sanitasi dan pola asuh yang baik.

Baca juga:  Kinerja Ekspor Jateng Meningkat, Heri Pudyatmoko Minta Perkuat Sektor Unggulan

“Pendidikan gizi bukan sekadar penyuluhan, tapi perubahan perilaku yang nyata,” tambah Heri.

Heri juga menyoroti perlunya melibatkan sektor pendidikan. Remaja di sekolah dan mahasiswa bisa menjadi agen perubahan dengan menyebarkan pengetahuan gizi di lingkungan masing-masing.

“Pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum pernikahan dan kehamilan,” pesannya.

Sinergi hulu ke hilir yang berfokus pada pendidikan keluarga, kata Heri, diyakini lebih efektif daripada sekadar distribusi makanan tambahan. Pendekatan ini menyasar akar masalah: kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang gizi.

Heri Pudyatmoko optimistis bahwa dengan kerja bersama yang solid, Jawa Tengah bisa mencapai target penurunan stunting yang lebih ambisius di tahun 2026 dan seterusnya.

“Kita harus bekerja dengan penuh integritas dan tanggung jawab. Ini investasi untuk masa depan anak-anak Jateng yang lebih sehat, cerdas, dan produktif,” pungkasnya. (sgt)

 




TERKINI




Rekomendasi

...