34 C
Semarang
Kamis, 7 Mei 2026

Mengapa Relawan BGN di Atas 50 Tahun Tetap Layak Berkarya? 




Oleh: Gouw Ivan Siswanto, S.H., M.Th.(Senior FO Gus Yasin Institute)

JATENGPOS. CO. ID, Kota Semarang – Di tengah semangat pembangunan nasional dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, keberadaan relawan dalam berbagai program sosial dan kemanusiaan memiliki peranan yang sangat penting. Salah satu isu yang mulai menjadi perhatian publik adalah adanya pembatasan usia kerja relawan dalam lingkungan BGN hingga usia 50 tahun. Kebijakan ini memunculkan pertanyaan besar : apakah seseorang yang telah berusia di atas 50 tahun sudah tidak lagi produktif, tidak energik, dan tidak mampu memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa?

Fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak tokoh nasional dan internasional yang tetap aktif, produktif, bahkan mencapai puncak kepemimpinan di usia lanjut. Hal ini membuktikan bahwa produktivitas tidak semata-mata ditentukan oleh angka usia, melainkan oleh semangat, pengalaman, kesehatan, disiplin, serta dedikasi seseorang terhadap pekerjaannya.

Salah satu contoh nyata adalah Presiden kita Prabowo Subianto yang tetap tampil energik, aktif, dan penuh semangat meskipun telah berusia di atas 70 tahun. Beliau masih mampu menjalankan tugas kenegaraan dengan jadwal yang sangat padat, melakukan kunjungan kerja, bertemu masyarakat, memimpin rapat strategis, hingga melakukan perjalanan internasional. Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa usia lanjut bukan hambatan untuk tetap berkarya dan mengabdi kepada bangsa.

Pengalaman Adalah Aset Besar Bangsa

Relawan yang berusia di atas 50 tahun umumnya memiliki pengalaman hidup dan pengalaman kerja yang jauh lebih matang dibanding generasi muda. Mereka telah melewati berbagai tantangan kehidupan, memahami dinamika sosial masyarakat, serta memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang lebih tenang dan bijaksana.

Dalam program-program sosial seperti pelayanan masyarakat, dapur umum, pendidikan, kesehatan, hingga program pangan dan gizi, pengalaman menjadi faktor yang sangat penting. Banyak pekerjaan justru membutuhkan ketelatenan, kesabaran, komunikasi yang baik, serta kemampuan mengelola konflik kemampuan yang biasanya semakin kuat seiring bertambahnya usia.

Baca juga:  Ayo Belajar Buku Agenda Berbasis Google Form!

Membatasi usia relawan hanya sampai 50 tahun berpotensi menghilangkan sumber daya manusia yang kaya pengalaman dan loyalitas tinggi. Padahal, relawan senior sering kali menjadi tulang punggung stabilitas organisasi karena mereka bekerja bukan hanya untuk penghasilan, tetapi juga untuk pengabdian dan rasa tanggung jawab sosial.

Produktivitas Tidak Ditentukan Oleh Umur

Pandangan bahwa usia lanjut identik dengan penurunan produktivitas sudah mulai ditinggalkan di banyak negara maju. Saat ini, harapan hidup masyarakat meningkat, pola hidup sehat semakin baik, dan banyak orang tetap aktif bekerja hingga usia 60–75 tahun.

Bahkan dalam dunia profesional, banyak tokoh sukses yang mencapai puncak kariernya di usia matang, karena pada fase tersebut seseorang memiliki:

* kematangan emosional,

* kemampuan memimpin,

* jaringan sosial yang luas,

* disiplin kerja tinggi,

* serta kemampuan menyelesaikan masalah secara bijaksana.

Tidak sedikit relawan senior yang justru memiliki tingkat loyalitas lebih tinggi dibanding generasi muda. Mereka datang tepat waktu, mampu menjaga etika kerja, serta memiliki komitmen jangka panjang terhadap organisasi.

Semangat Pengabdian Tidak Mengenal Usia

Bangsa Indonesia sejak dahulu dibangun oleh semangat gotong royong lintas generasi. Orang tua, anak muda, tokoh masyarakat, guru, pensiunan, hingga para profesional semuanya memiliki ruang untuk mengabdi.

Membatasi usia relawan secara terlalu ketat dapat menimbulkan kesan bahwa usia lanjut tidak lagi dibutuhkan. Padahal, banyak masyarakat senior yang masih sehat, aktif, dan ingin tetap bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dalam budaya Indonesia, sosok senior justru sering menjadi panutan dan sumber kebijaksanaan. Kehadiran relawan senior dapat menjadi teladan moral dan inspirasi bagi generasi muda dalam hal kedisiplinan, ketekunan, dan semangat melayani masyarakat.

Banyak Negara Justru Memperpanjang Usia Produktif

Baca juga:  Modelling The Way Tingkatkan Pemahaman Salat

Berbagai negara maju saat ini justru memperpanjang usia kerja karena menyadari bahwa masyarakat modern hidup lebih sehat dan lebih panjang umur. Banyak perusahaan dan lembaga sosial tetap memanfaatkan tenaga kerja senior karena:

* memiliki pengalaman tinggi,

* minim konflik,

* lebih stabil secara emosional,

* dan mampu menjadi mentor bagi generasi muda.

Konsep “active aging” atau penuaan aktif kini menjadi kebijakan global. Lansia tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai aset sosial yang tetap dapat berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Evaluasi Kinerja Lebih Penting Daripada Batas Usia

Daripada menjadikan usia sebagai satu-satunya tolok ukur, sistem evaluasi berbasis kemampuan dan kesehatan jauh lebih adil. Seseorang yang berusia 60 tahun tetapi sehat, disiplin, dan mampu bekerja dengan baik tentu lebih layak dipertahankan dibanding seseorang yang lebih muda namun tidak memiliki komitmen kerja yang baik.

Karena itu, pendekatan yang lebih bijaksana adalah:

* melakukan pemeriksaan kesehatan berkala,

* evaluasi kinerja secara objektif,

* penempatan kerja sesuai kemampuan fisik,

* serta memberikan ruang pengabdian berdasarkan kompetensi, bukan sekadar usia.

Usia hanyalah angka. Yang menentukan nilai seseorang adalah semangat, integritas, pengalaman, dan kemauan untuk terus mengabdi. Bangsa Indonesia membutuhkan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi senior yang masih sehat dan produktif.

Keteladanan Prabowo Subianto yang tetap aktif dan energik di usia lebih dari 70 tahun menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan semangat pengabdian tidak dibatasi umur. Banyak tokoh bangsa, pemimpin dunia, ulama, akademisi, dan relawan sosial tetap memberikan kontribusi luar biasa di usia lanjut.

Karena itu, kebijakan pembatasan usia relawan sebaiknya dipertimbangkan kembali dengan pendekatan yang lebih manusiawi, objektif, dan berkeadilan. Sebab selama seseorang masih sehat, mampu bekerja, dan memiliki semangat melayani masyarakat, maka ia tetap layak diberi kesempatan untuk berkarya bagi Indonesia.(*)




TERKINI




Rekomendasi

...