JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Praktisi kedokteran regeneratif sekaligus Ketua Umum PREDIGTI, dr. H. Agus Ujianto, M.Si., Med., Sp.B., FISQua., menilai dunia kedokteran saat ini tengah memasuki fase transisi dari pendekatan farmakologis menuju regenerasi biologis. Salah satu teknologi yang dinilai paling aplikatif adalah terapi Fresh Mononuclear Cell (MNC) dari sumsum tulang yang dipadukan dengan secretome.
Menurut Agus Ujianto, terapi tersebut menawarkan pendekatan pengobatan yang lebih presisi, efisien, dan memiliki tingkat keamanan tinggi. Teknologi itu juga disebut mampu mendukung kualitas hidup pasien melalui mekanisme regenerasi alami tubuh.
“Penggunaan Fresh Mononuclear Cell sumsum tulang merupakan bagian dari pengembangan kedokteran masa depan yang mengedepankan pemulihan biologis alami manusia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keunggulan utama MNC terletak pada kemampuan homing atau targeting organ secara presisi. Sel tersebut mampu mendeteksi area tubuh yang mengalami kerusakan maupun peradangan sebelum bergerak menuju lokasi target melalui aliran darah.
Dalam prosesnya, MNC bekerja melalui efek parakrin dengan membawa secretome berupa eksosom dan sitokin yang membantu komunikasi antarsel. Mekanisme itu dinilai mampu mempercepat pemulihan jaringan sekaligus menekan inflamasi kronis.
Agus menyebut, penggunaan MNC segar juga lebih unggul dibanding metode kultur sel laboratorium. Hal itu karena sebagian besar MNC berada dalam fase G0 atau fase istirahat yang dinilai paling stabil dan minim risiko mutasi genetik.
“Sel dalam fase G0 memiliki potensi regeneratif alami yang tetap terjaga sehingga siap bekerja optimal ketika mencapai organ target,” katanya.
Ia menambahkan, sel hasil kultur laboratorium sering mengalami kelelahan biologis akibat pembelahan paksa di luar tubuh. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kemampuan homing maupun fungsi regeneratif sel sebelum diberikan kepada pasien.
Dalam aspek keamanan, Agus menegaskan terapi Fresh MNC berbeda dengan Embryonic Stem Cells (ESC) yang kerap dikaitkan dengan risiko keganasan. MNC sumsum tulang berasal dari sel dewasa autologus sehingga dianggap memiliki profil keamanan lebih tinggi.
Selain itu, pendekatan MNC dinilai lebih konstruktif dibanding imunoterapi agresif seperti sel NK maupun sel T. Jika imunoterapi fokus pada eliminasi ancaman, maka MNC bekerja melalui proses rekonstruksi jaringan dan imunomodulasi.
“Terapi ini bekerja sebagai pabrik biologis alami tubuh yang membantu regenerasi tanpa memicu badai sitokin,” jelasnya.
Dari sisi prosedur, pengambilan sumsum tulang dilakukan melalui aspirasi di area tibia atau tulang kering. Metode tersebut disebut minimal invasif dan memungkinkan regenerasi sumsum berlangsung kembali dalam waktu singkat.
Dalam satu kali prosedur aspirasi yang ideal dilakukan satu hingga dua kali per tahun, dokter dapat memperoleh ratusan juta sel mononuclear. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk mendukung perbaikan multiorgan secara simultan.
Agus menjelaskan, proses regenerasi biologis berlangsung bertahap mulai dari peningkatan kebugaran dan penurunan inflamasi pada minggu pertama hingga kedua. Selanjutnya, fase proliferasi aktif terjadi pada minggu keempat hingga kedelapan sebelum mencapai konsolidasi optimal pada sekitar minggu ke-12.
“Fresh MNC yang dikombinasikan dengan secretome menjadi salah satu pilar utama terapi sel masa depan berbasis kekuatan biologis manusia sendiri,” tandasnya.(aln)













