32.4 C
Semarang
Kamis, 14 Mei 2026

‘Pakeeettt…’, Saat Rindu Menemukan Jalannya Lewat JNE




“Pakeeettt…!”

 

Suara itu terdengar dari depan pagar sebuah rumah di kawasan Greenwood, Kota Semarang. Teriakan sederhana yang hampir setiap hari terdengar di banyak rumah, tetapi sore itu, Senin (11/5/2026), menghadirkan cerita kecil yang begitu hangat.

 

Dari dalam rumah, langkah kaki mungil berlari tergesa. Zavier (7) langsung membuka pintu dengan wajah berbinar, seolah sudah tahu siapa yang datang dan apa yang dibawanya.

 

Tanpa menunggu lama, bocah itu segera memeluk kardus besar yang baru diterimanya. Di matanya, paket tersebut bukan sekadar kiriman biasa.

 

Ia lalu duduk di lantai ruang tamu dan mulai membuka lakban dengan penuh semangat. Senyumnya semakin lebar saat isi di dalamnya mulai terlihat, aneka makanan kesukaannya yang sudah sangat familiar.

 

Ada camilan tradisional, keripik, hingga lauk rumahan khas kampung halaman. Semua dikirim langsung oleh sang kakek dari Purwokerto.

 

Bagi Zavier, paket itu selalu berhasil menghadirkan rasa bahagia yang sama setiap kali datang. Meski tak sering bertemu langsung, perhatian sang kakek terasa nyata lewat setiap kiriman.

 

Orang tua Zavier, Haris (48) menyebut, kebiasaan itu sudah berlangsung cukup lama. Paket dari kampung menjadi cara keluarga menjaga kedekatan di tengah jarak yang memisahkan.

 

“Setiap ada paket, anak saya pasti paling semangat. Biasanya memang dikirim lewat JNE, jadi sudah hafal suara kurir datang,” ujarnya sambil tersenyum.

 

Menurut Haris, layanan pengiriman kini bukan hanya soal mengantar barang, tetapi juga membantu menjaga hubungan keluarga tetap dekat.

 

“Dengan JNE, orang tua di kampung bisa tetap kirim makanan atau kebutuhan lain. Rasanya seperti perhatian itu ikut sampai ke rumah,” katanya.

– KIRIM PAKET – Biantoro (68), warga Purwokerto, mengirimkan paket makanan untuk cucunya di Semarang menggunakan layanan JNE, Minggu (10/5/2026), di Gerai JNE Purwokerto. FOTO : ANING KARINDRA/JATENG POS

 

Di ujung sana, di Purwokerto, sang kakek Biantoro (68) ternyata juga memiliki cerita tersendiri setiap kali menyiapkan paket untuk cucunya.

Baca juga:  PT Intanwijaya Bukukan Kinerja Positif

Sebelum paket dikirim, Biantoro biasanya memilih sendiri makanan yang akan dimasukkan ke dalam kardus.

 

Ia memastikan cucunya mendapatkan makanan favorit yang biasa diminta saat pulang kampung. Kadang ia menambahkan camilan lebih banyak saat tahu Zavier sedang libur sekolah. Sesekali ia juga menyisipkan pesan kecil di dalam paket.

 

“Kalau ingat cucu ya rasanya pengin kirim sesuatu. Biar dia senang walaupun jauh,” ujarnya.

 

Bagi Biantoro, mengirim paket sudah menjadi kebiasaan yang membuatnya merasa tetap dekat dengan keluarga di Semarang. Ia mengaku tenang karena kiriman bisa sampai dengan aman dan cepat.

 

“Sekarang enak, tinggal kirim lewat JNE, nanti cucu sudah bisa langsung menerima,” katanya.

 

Cerita tentang paket ternyata tidak hanya soal keluarga. Di sudut lain Kota Semarang, pengiriman juga menjadi denyut kehidupan bagi pelaku usaha.

 

Di kawasan Karangayu, Nina (42) memulai aktivitasnya sejak pagi. Rumahnya berubah menjadi tempat promosi sekaligus pusat pengemasan usaha makaroni goreng yang ia jalankan.

 

Hari Nina biasanya dimulai dari sesi live jualan di media sosial. Dengan ponsel di depan wajahnya, ia menawarkan berbagai rasa makaroni goreng, sambil menyapa pelanggan dari berbagai kota.

 

Pesanan yang masuk langsung dicatat satu per satu. Setelah live selesai, aktivitas berlanjut ke proses pengepakan.

 

Makaroni dibungkus, dimasukkan plastik, lalu disusun sesuai alamat tujuan. Paket-paket itu kemudian dikirim ke Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga luar Jawa.

 

“Kalau lagi ramai, paket bisa banyak sekali. Kadang saya antar langsung ke JNE, kadang dijemput kurir,” ujarnya.

 

Menurut Nina, kelancaran pengiriman menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan pelanggan.

 

“Saya pakai JNE karena jaringannya luas dan pengirimannya cepat. Pelanggan jadi lebih puas,” katanya.

Baca juga:  Pajak Sektor Usaha Ekonomi Digital Tembus Rp33,39 Triliun

 

Bagi Nina, logistik bukan sekadar layanan tambahan, tetapi sudah menjadi bagian inti dari usahanya. Tanpa pengiriman yang lancar, bisnis online akan sulit berkembang.

 

Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangerti Alam mengatakan, cerita seperti yang dialami keluarga Haris maupun Nina menjadi gambaran nyata peran logistik saat ini.

 

“Di balik setiap paket selalu ada cerita. Ada perhatian keluarga, ada usaha yang sedang tumbuh, dan ada kebutuhan masyarakat yang harus segera sampai,” ujarnya.

 

Ia menyebut, Semarang menjadi salah satu hub penting distribusi di Jawa Tengah dengan aktivitas pengiriman yang terus meningkat setiap hari.

Secara nasional, volume kiriman JNE telah mencapai sekitar satu juta paket per hari. Sementara di Semarang, operasional didukung hampir 600 sumber daya manusia dan lebih dari 100 armada pengiriman.

 

Berbagai layanan juga dihadirkan untuk menjawab kebutuhan pelanggan. Mulai dari YES (Yakin Esok Sampai), REG, OKE, hingga layanan penjemputan paket dan pengiriman dalam jumlah besar melalui JTR.

 

“Banyak UMKM sekarang memanfaatkan layanan pickup karena lebih efisien. Kami berusaha memastikan semua kebutuhan pelanggan bisa terlayani,” jelas Wahyu.

 

Menjelang malam, aktivitas pengiriman belum juga berhenti. Paket masih terus diproses dan diberangkatkan menuju berbagai kota.

 

Di rumah Zavier, sebagian makanan kiriman dari sang kakek sudah mulai dinikmati bersama keluarga. Sementara di Karangayu, Nina menutup hari dengan memastikan semua pesanan pelanggan telah terkirim.

 

Dua cerita berbeda itu bertemu dalam satu hal yang sama, paket yang bergerak membawa lebih dari sekadar barang. Ia membawa rindu, perhatian, harapan, dan kehidupan yang terus berjalan.

 

Dari satu teriakan sederhana, “Pakeeettt…!”, ribuan cerita terus bergerak setiap hari.(Aning Karindra)




TERKINI




Rekomendasi

...