ESDM Jateng Pacu Transisi Energi : Petani Hemat Rp 80 Juta hingga Target Pembangkit Hijau 200 MW

JATENGPOS. CO ID, SEMARANG — Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah terus memacu transisi energi melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) secara masif. Langkah strategis ini tidak hanya menyasar sektor industri modern, melainkan juga difokuskan pada sektor pertanian guna memperkuat ketahanan pangan daerah.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Agus Sugiharto, Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Kamis (2/7).

Salah satu program prioritas yang tengah berjalan adalah konversi pemanfaatan energi pada pompa air pertanian. Petani yang semula bergantung pada genset berbahan bakar solar bersubsidi, kini mulai dialihkan menggunakan solar system atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

“Kami lebih mendorong ke ketahanan pangan di sektor pertanian. Petani-petani yang sebelumnya menggunakan genset dengan solar subsidi, kita mulai konversi ke tenaga surya,” ujar Agus.

Dalam dua tahun terakhir, proyek percontohan ini telah sukses diterapkan di enam lokasi, meliputi Cilacap, Kebumen, Purbalingga, Pekalongan, Brebes, dan Banyumas.

Peralihan ke teknologi hijau ini terbukti memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi para petani. “Ada penghematan yang luar biasa. Per 10 hektar lahan pertanian, penghematan penggunaan BBM bisa mencapai sekitar Rp80 juta. Ini sekaligus mengurangi ketergantungan para petani terhadap solar subsidi,” tambahnya.

Baca juga:  Peringati HUT ke-16, Kader Satria Jateng Diminta Jaga Soliditas Hadapi Pilkada 2024

Selain sektor pertanian, tren penggunaan panel surya juga mulai menjamur di sektor manufaktur. Dinas ESDM mencatat banyak industri di Jawa Tengah yang kini mulai memasang solar panel secara mandiri pada fasilitas produksi mereka. Langkah ini diambil guna memenuhi tuntutan pasar global terkait implementasi ekonomi hijau (green economy).

“Banyak industri yang sekarang dipersyaratkan untuk masuk ke green economy. Mereka mulai memasang solar panel untuk kegiatan produksinya agar tidak hanya mengandalkan listrik PLN yang pasokannya masih kombinasi antara EBT dan fosil,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Ketenagalistrikan Dinas ESDM Jawa Tengah, Mahendra Dwi Atmoko menegaskan bahwa potensi EBT di Jawa Tengah sangat besar, terutama yang bersumber dari tenaga air dan panas bumi. Pemerintah melalui PT Indonesia Power saat ini tengah merencanakan proyek ambisius berupa pembangunan PLTS Apung (Floating Solar PV) dengan memanfaatkan area bendungan.

Baca juga:  Ahmad Luthfi Kunjungi Polda, Kodam, dan Kejaksaan

“Sudah direncanakan pembangunan PLTS Apung dengan kapasitas masing-masing 100 Megawatt (MW) di Kedung Ombo dan Gajah Mungkur. Jadi, total dari dua lokasi tersebut akan menghasilkan hampir 200 MW listrik bersih,” ungkap Dwi Atmoko.

Selain PLTS Apung, ekspansi besar-besaran juga dilakukan pada sektor panas bumi (geotermal). Proyek groundbreaking Unit 2 di Dieng dipastikan akan menambah pasokan daya sebesar 55 MW, melengkapi kapasitas eksisting yang saat ini telah mencapai 70 MW. Dinas ESDM juga tengah mempertemukan investor asal Malaysia dan Brunei Darussalam dengan PT Geo Dipa Energi untuk menjajaki potensi panas bumi di kawasan Ungaran-Telomoyo.

Sesuai dengan misi Astacita kedua pemerintah pusat terkait ketahanan energi, pangan, dan air, Dinas ESDM Jawa Tengah berkomitmen untuk terus menekan penggunaan energi fosil yang kian menipis seperti batu bara dan minyak bumi (black energy).

“Ke depan, kita harus lebih masif lagi. Pembangkitan listrik harus diarahkan ke energi yang lebih hijau dan ramah lingkungan, baik itu dari ombak, angin, matahari, air, maupun panas bumi,” pungkasnya. (Prast/jan)


TERKINI

Rekomendasi

...