Pulung Langse Tradisi Tutup Suran di Makam Ki Ageng Balak


JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO — Pemerintah Kabupaten Sukoharjo berkomitmen untuk terus mengembangkan potensi wisata religi di kompleks Makam Ki Ageng Balak, Desa Mertan, Kecamatan Bendosari.

Selain sebagai upaya pelestarian nilai sejarah dan adat, pelestarian cagar budaya ini diproyeksikan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat lokal dan menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Hal tersebut mengemuka dalam pelaksanaan Upacara Ritual Pulung Langse yang digelar pada Minggu (12/7) pagi. Agenda tahunan yang menjadi denyut budaya lokal ini terbukti sukses menarik ratusan peziarah dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Ngawi, Madiun, Magelang, hingga Bengkulu.

Rangkaian ritual diawali dengan kirab gunungan hasil bumi mengelilingi area makam sebanyak satu kali. Gunungan berupa sayur dan buah tersebut kemudian diperebutkan oleh warga sebagai simbol pembagian berkah dan rasa syukur atas kesuburan tanah.


Prosesi dilanjutkan dengan pertunjukan tari Gambyong dan ritual inti berupa penggantian serta pembagian potongan kelambu (langse) makam lama oleh sesepuh desa kepada para pengunjung.

Baca juga:  Lagi, Dua Calhaj Jateng Meninggal di Madinah, 9 Jamaah Dirujuk ke RS Solo

Plt Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sukoharjo, Herdis Kurnia Wijaya, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas konsistensi masyarakat Desa Mertan (Kecamatan Bendosari) dan Desa Kenokorejo (Kecamatan Polokarto) dalam menjaga tradisi ini.

“Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Mertan dan Kenokorejo bisa menyelenggarakan upacara ini setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Herdis.

Lebih lanjut, Herdis menegaskan bahwa Makam Ki Ageng Balak memiliki daya tarik spiritual dan budaya yang sangat strategis. Sektor wisata religi ini dinilai potensial untuk diintegrasikan ke dalam sektor industri pariwisata daerah karena memiliki pangsa pasar yang loyal dan rutin berkunjung.

“Ritual ini telah menjadi event budaya yang menarik wisatawan setiap tahunnya. Maka penting bagi kita menjadikannya bagian dari industri pariwisata lokal,” jelasnya.

Optimalisasi Makam Ki Ageng Balak sebagai objek wisata religi dapat meningkatkan volume kunjungan peziarah secara signifikan. Peningkatan arus wisatawan ini diharapkan berimplikasi langsung terhadap penyerapan retribusi daerah serta menghidupkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan makam demi kesejahteraan masyarakat.

Baca juga:  Bhabinkamtibmas Sukoharjo Datangi Warga Lacak TB Paru

Tradisi di penghujung bulan Suro atau di sebut tutup suran ini dipercaya memberikan berkah bagi yang mempercayainya. Langse (kelambu) makam yang di pulung atau diambil untuk diganti kemudian dicuci dan dipotong-potong diperebutkan masyarakat yang dianggap sebagai berkah. Seperti disampaikan Agus Bagong (55), peziarah asal Magelang yang rela menempuh perjalanan jauh demi momentum ini.
​”Ini acara yang kami tunggu-tunggu tiap tahun. Kami percaya, selain nilai spiritual, ikut Pulung Langse membawa berkah dan ketenangan batin,” ujar Agus.

Masyarakat pun berharap tradisi ini tetap digelar dan menjadi potensi wisata spiritual budaya di Sukoharjo yang tetap lestari. Terlebih Sukoharjo menjadi salah satu kabupaten yang menyimpan banyak lokasi wisata spiritual seperti Makam Majasto, Petilasan Keraton Kartasura, Gunung Taruwongso dan lainnya. (dea/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...