Pemkab Kudus Bedah Ulang Sejarah Hari Lahir Kudus , Mengacu Prasasti Menara


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Pemkab Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar Seminar Rekonstruksi Hari Jadi Kabupaten Kudus bertajuk “Menemukan Titik Awal Untuk Meneguhkan Identitas dan Menata Arah Peradaban Kudus”, Senin (27/7).

Kegitan ini diambil meninjau kembali Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 1990 yang dinilai perlu disesuaikan dengan temuan sejarah terbaru manuskrip Sejarah yang tersimpan di Yayasan Menara Kudus.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menegaskan perubahan ini harus didasarkan pada kajian komprehensif. Pemerintah tidak ingin berspekulasi tanpa adanya dukungan bukti fisik yang kuat.

‘’Kita bedah lagi bersama para ahli dan sejarawan. Harus ada dukungan artefak atau benda peninggalan yang otentik, agar ketemu tanggal yang paling tepat,’’ ujar Sam’ani.


Baca juga:  Konser NDX AKA Gemparkan Alun-alun Kudus

Jika seminar menghasilkan kesepakatan baru, Sam’ani menegaskan pemerintah segera bertindak. Hasil tersebut akan dikirim ke DPRD menjadi Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda). Pihaknya juga merencanakan peluncuran tagline baru bagi Kabupaten Kudus setelah regulasi ini disepakati.

‘’Nanti setelah semua disepakati akan kami tindaklanjuti,’’ tegasnya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Abdul Halil, dalam laporannya menyebut fokus utama bedah sejarah ini yaitu peneliti akan menguji Prasasti Mihrab Masjid Al-Aqsa Kudus sebagai sumber primer. Dalam kajian dilakukan secara lintas ilmu secara ketat. Pihaknya melibatkan ahli epigrafi, arkeologi, hingga astronomi kalender untuk menghitung kronologi waktu.

‘’Tujuannya adalah memperoleh penguatan akademik yang bisa dipertanggungjawabkan,’’ jelas Halil.

Baca juga:  Cegah Kerumunan, Enam Pasar Tiban di Kudus Ditutup hingga 7 Juni 2021

Diketahui, Seminar Rekonstruksi Hari Jadi Kabupaten Kudus turut dihadiri lima narasumber dan pemateri. Terdiri Abdul Jawat Nur selaku akademisi dan peneliti bahasa, komunikasi, dan budaya.

Kemudia Musadad selaku akademisi dan peneliti arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Lalu KH Saifuddin Luthfi sebagai Ahli Astronomi Kalender Islam dan Kaligrafi. Serta Inajati Adrisijanti, Guru Besar Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan Revianto Budi Santosa sebagai akademisi dan Peneliti dari Universitas Islam Indonesia. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...