Menikmati Akhir Libur Sekolah dengan ‘Camping’ di Bukit Pengusen


JATENGPOS.CO.ID, PATI – Udara dingin tak menyurutkan langkah anak-anak berlarian di antara deretan tenda warna-warni di Bukit Pengusen, Desa Gulangpongge, Kecamatan Gunungwungkal, Pati.

Minggu (12/7) pagi, kepulan asap kayu berpadu aroma gurih tempe goreng dari tungku sederhana. Riuh tawa keluarga melebur jadi satu, menutup momen libur sekolah dengan berkemah di ketinggian.

Bukit Pengusen berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (MDPL). Kesejukan khas dataran tinggi yang ditawarkan tanpa medan ekstrem membuat tempat ini jadi favorit keluarga.

Bagi orang tua, akhir pekan ini jadi kesempatan pamungkas memanjakan anak sebelum kembali ke rutinitas sekolah.


Salah satunya Sumartono, warga Juwana yang membawa istri, anak, saudara, hingga keponakan.

“Kami sengaja datang ke sini untuk mengajak anak-anak dan keponakan menikmati hari terakhir libur sekolah sebelum besok mereka masuk kelas lagi. Di Juwana kan hawanya panas karena dekat laut, jadi begitu sampai di sini, anak-anak langsung senang bisa merasakan udara gunung yang sejuk. Fasilitasnya juga ramah untuk keluarga yang membawa anak kecil,” tuturnya.

Baca juga:  Belasan Perpustakaan Desa di Kudus Lolos Program TPBIS Perpusnas

Lonjakan pengunjung diakui Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Gulangpongge, Arif Budi Sulistyo. Pemandangan sunrise langsung dari pintu tenda disebut jadi magnet kuat.

“Untuk musim libur sekolah kali ini cukup ramai. Setiap akhir pekan ada 20 lebih tenda yang diinapi pengunjung di sini,” ungkap Arif.

Pengelola menyediakan sekitar 20 unit tenda siap pakai. Tarifnya Rp65.000 untuk kapasitas 4 orang dan Rp95.000 untuk 6 orang. Wisatawan juga bisa bawa tenda sendiri dengan biaya tempat Rp25.000 per tenda.

Fasilitas penunjang seperti parkir luas, toilet bersih, musala, kafe, hingga jaringan listrik di puncak membuat orang tua merasa aman membawa anak.

Menariknya, Bukit Pengusen juga punya nilai edukasi. Nama “Pengusen” berasal dari kata “pengungsian”.

Baca juga:  Polisi Selami Dugaan Perampasan Barang Pedagang Dandangan

“Pengusen itu dari asal kata pengungsian. Tadinya itu tempat pengungsian dari tentara Belanda waktu penjajahan Jepang,” kisah Arif.

Meski bangunan petilasan sudah tidak ada, lahan tanah kas desa yang dikelola Bumdes dan Pokdarwis sejak 2018 ini kini jadi ruang wisata yang memberi berkah.

Agar semakin menarik, pengelola sudah merencanakan penambahan fasilitas ramah anak.

“Nantinya kita akan ada beberapa wahana yang mau dibangun, termasuk nanti untuk revitalisasi kolam renang. Jadi ketika nanti habis kamping, bisa langsung main-main air di sini,” kata Arif.

Saat matahari meninggi, anak-anak mulai mengemas barang. Kehangatan pagi di Bukit Pengusen diharapkan jadi suntikan energi baru sebelum kembali ke bangku sekolah.(Ida/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...