PPK Ormawa FST Undip Kenalkan Perangkat Uji Tanah Sawah Dukung Pemupukan Presisi Petani Desa Brongkol


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Forum Studi Teknik (FST) Universitas Diponegoro (Undip) kembali melaksanakan rangkaian program SAHABAT TANI (Sistem Cerdas Pengendalian Hama Tikus Berbasis Ultrasonik dan Biopestisida dengan Energi Surya untuk Smart Farming Berkelanjutan Desa Brongkol) melalui kegiatan edukasi Pertanian Berkelanjutan.

Pada Kegiatan ini tim PPK Ormawa FST Undip memperkenalkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) kepada Kelompok Tani Makmur I dan Karang Taruna Desa Brongkol, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, sebagai salah satu upaya meningkatkan efektivitas pemupukan berbasis kondisi tanah.

Selain itu, kegiatan ini dihadiri mitra eksternal yaitu BPP Kecamatan Jambu, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bepperida) Kabupaten Semarang, Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang.

Dalam kegiatan tersebut, Tim PPK Ormawa FST Undip mengundang pembicara, Septrial Arafat S.P., M.P. selaku dosen Agroekoteknologi Undip. Beliau memberikan edukasi mengenai pentingnya analisis kondisi tanah sebelum musim tanam.

Peserta dikenalkan dengan penggunaan PUTS dan pH meter digital untuk mengukur kandungan Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), serta tingkat keasaman tanah (pH) secara sederhana dan cepat. Hasil pengukuran tersebut menjadi dasar dalam menentukan jenis maupun dosis pupuk sesuai kebutuhan lahan sehingga penggunaan pupuk tidak lagi hanya berdasarkan perkiraan.

Kegiatan ini bertujuan membantu petani memahami kandungan unsur hara serta tingkat keasaman (pH) tanah sehingga keputusan pemupukan dapat dilakukan secara lebih tepat, efisien, dan berkelanjutan.

Tim PPK Ormawa FST Undip menjelaskan bahwa pertanian berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya pertanian secara bijaksana.

Baca juga:  Hadapi Kondisi Chaos, Kapolres Semarang Tekankan Junjung Tinggi HAM

“Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong petani agar mulai menerapkan pemupukan berbasis kondisi nyata lahan, bukan hanya berdasarkan kebiasaan atau perkiraan. Dengan memanfaatkan PUTS dan pH meter, petani dapat menentukan kebutuhan pupuk secara lebih tepat sehingga penggunaan pupuk menjadi lebih efisien sekaligus menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang,” jelasnya.

Selama ini, sebagian besar petani masih menentukan jenis dan dosis pupuk berdasarkan pengalaman atau perkiraan kondisi tanah. Padahal, kondisi unsur hara dan tingkat keasaman tanah dapat berubah setiap musim tanam. Oleh karena itu, penggunaan PUTS menjadi solusi untuk membantu petani memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai kebutuhan lahan sehingga pemupukan dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Ketua Kelompok Tani Makmur I, Alex, mengapresiasi pendampingan yang diberikan oleh Tim PPK Ormawa FST Universitas Diponegoro. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai kondisi tanah di Desa Brongkol serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas lahan pertanian.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim PPK Ormawa Forum Studi Teknik Universitas Diponegoro atas pendampingan yang telah diberikan. Melalui hasil analisis tanah dan sosialisasi ini, kami menjadi lebih memahami kondisi unsur hara dan pH tanah di lahan kami. Harapannya, pendampingan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga petani mampu memperbaiki tata cara bertani dan meningkatkan hasil panen pada musim tanam berikutnya,” ujar Alex.

Tim PPK Ormawa FST Undip usai kegiatan Edukasi Pertanian Berkelanjutan di kantor Desa Brongkol, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. FOTO:IST/DOK.JATENGPOS

Sementara, Septrial Arafat yang juga dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip menyampaikan, bahwa pengukuran kandungan N, P, K, dan pH tanah merupakan langkah penting sebelum musim tanam dimulai. Menurutnya, data hasil pengukuran menjadi dasar penerapan prinsip 4T (Tepat Jenis, Tepat Dosis, Tepat Waktu, dan Tepat Cara) dalam pemupukan sehingga penggunaan pupuk lebih efisien, produktivitas meningkat, dan kualitas tanah tetap terjaga.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Salatiga di Kabupaten Semarang Bawa Misi Toleransi 

“Tingkat kepentingan pengukuran N, P, K, dan pH tanah sebelum tanam hukumnya sangat krusial. Pengukuran ini menjadi “peta navigasi” atau resep utama untuk menerapkan Prinsip 4T (Tepat Jenis, Tepat Dosis, Tepat Waktu, dan Tepat Cara) dalam pemupukan. Seperti penggunaan pH meter digital dalam mengetahui tingkat keasaman tanah secara akurat. Jika pH < 5,5 (asam), unsur P, Ca, dan Mg akan terikat/terkunci sehingga tidak bisa diserap akar. Selain itu ada Kit PUTS dalam  mengetahui status riil hara N, P, K, dan pH tanah sehingga dosis pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanah setempat.” jelasnya.

Senada dengan itu, DLH Kabupaten Semarang melalui Bidang Peningkatan Kapasitas Lingkungan Didup menyampaikan harapan agar program ini dapat menjangkau lebih banyak pihak dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

“Harapan kami, program seperti ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pihak sehingga manfaatnya semakin luas. Semoga sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dapat terus terjalin untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ucapnya.

Melalui edukasi pertanian berkelanjutan ini, Tim PPK Ormawa FST Indup berharap petani Desa Brongkol semakin terbiasa memanfaatkan teknologi seperti PUTS dan pH meter digital sebagai dasar pengambilan keputusan dalam budidaya tanaman.

Dengan penerapan pemupukan presisi dan pengelolaan tanah yang tepat, program SAHABAT TANI diharapkan mampu mendukung terwujudnya smart farming yang produktif, berkelanjutan, serta memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani Desa Brongkol. (tim/muz)


TERKINI

Rekomendasi

...