Kemarau, Lansia Diimbau Cukupi Kebutuhan Air Putih


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mengimbau masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia (lansia), untuk meningkatkan konsumsi air putih selama musim kemarau. Langkah antisipasi ini dinilai sangat penting untuk mencegah dehidrasi yang berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan serius.

Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam, menjelaskan bahwa kelompok lansia dan anak-anak merupakan yang paling rentan mengalami dehidrasi saat cuaca panas. Banyak lansia kerap tidak menyadari tubuhnya kekurangan cairan karena penurunan sensitivitas rasa haus.

‘’Pada musim kemarau, tubuh lebih mudah mengalami kekurangan cairan. Kami mengimbau masyarakat usia di atas 50 tahun agar minum air putih minimal 1,5 hingga 2 liter per hari atau sekitar delapan gelas,’’ ujar dr. Hakam, baru-baru ini.

Baca juga:  Warung Kelontong di Pasar Brayung Dibobol Maling

Menurut dr. Hakam, dehidrasi pada lansia tidak boleh disepelekan. Gejala awal seperti pusing, lemas, dan kram otot dapat memburuk dengan cepat. Lebih jauh, kekurangan cairan secara signifikan dapat memperparah kondisi pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta.


‘’Kalau kekurangan cairan, penyakit metabolik bisa lebih mudah muncul. Tekanan darah bisa meningkat, kadar gula darah juga dapat lebih tinggi,’’ jelasnya.

Untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, DKK Kudus juga menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi sayur dan buah segar. Selain itu, warga diminta mewaspadai potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat perubahan suhu ekstrem, di mana siang hari terasa sangat terik namun malam hari berubah menjadi sangat dingin.

Baca juga:  Manajemen Persiku Lunasi Bonus Pemain Musim Lalu

Sebagai langkah preventif jangka panjang, DKK Kudus tengah mematangkan rencana pemeriksaan kandungan gula pada produk minuman yang dijual di berbagai usaha kuliner dan kedai modern di Kabupaten Kudus. Program sampling ini ditargetkan berjalan bertahap mulai Agustus hingga September 2026.

Petugas nantinya akan memeriksa produk dari coffee shop hingga pelaku UMKM untuk diklasifikasikan ke dalam kategori kandungan gula tinggi, sedang, atau rendah. Informasi ini akan dibuka kepada publik sebagai panduan konsumsi yang aman.

‘’Harapannya masyarakat menjadi lebih bijak dalam memilih minuman. Ini bagian dari upaya promotif dan preventif agar penyakit tidak muncul akibat pola konsumsi yang kurang sehat,” pungkas dr Hakam. (han/rit)


TERKINI


Rekomendasi

...