JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Ruang operasi memang menyelamatkan nyawa, tapi juga sering jadi sumber rasa takut. Deg-degan, gelisah, sampai sulit tidur semalam sebelum dibedah. Melihat fenomena itu, Febriyanto Tatali, perawat RS Permata Hati Palangka Raya, menghadirkan solusi sederhana tapi berdampak besar.
Melalui tugas akhir Karya Kinerja S1 Keperawatan jalur RPL di Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran, Febriyanto menciptakan inovasi komunikasi teraupetik bernama SMART SAPA (Senyum, Ajak Bicara, Pahami, dan Dampingi) sebagai upaya menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi di ruang operasi.
Sebagai perawat yang setiap hari bersinggungan langsung dengan pasien pre operasi, Febriyanto melihat sendiri bagaimana kecemasan bisa mengganggu jalannya perawatan.
“Kecemasan pre operasi yang tidak tertangani dengan baik dapat berdampak pada ketidakstabilan tanda-tanda vital pasien, memperpanjang waktu pemulihan, bahkan berpotensi mempengaruhi kelancaran jalannya prosedur pembedahan itu sendiri,” jelas Febriyanto kepada Jateng Pos.
Dari pengamatannya di lapangan, banyak pasien datang ke ruang operasi dengan wajah tegang. Ada yang gelisah, berkeringat dingin, tidak bisa tidur di malam sebelumnya, bahkan memilih diam dan enggan diajak bicara oleh petugas medis.
Berangkat dari kondisi tersebut, ia pun berinisiatif menyusun sebuah pendekatan komunikasi yang sederhana namun bermakna, yang dapat diterapkan oleh seluruh petugas kesehatan sejak pasien tiba di ruang persiapan operasi hingga menjelang tindakan dimulai.
Empat Pilar SMART SAPA: Senyum menjadi langkah paling awal dan sederhana yang diterapkan petugas. Senyuman tulus dari perawat maupun tim medis lainnya dipercaya mampu menciptakan kesan pertama yang hangat dan bersahabat, sehingga pasien merasa lebih diterima dan tidak sendirian menghadapi situasi yang menegangkan.
Ajak bicara merupakan tahap selanjutnya, di mana petugas secara aktif mengajak pasien berbincang ringan, baik seputar kondisi pasien, keluarga, maupun hal-hal di luar topik operasi. Pendekatan ini bertujuan mengalihkan fokus pasien dari rasa cemas serta membangun kedekatan emosional antara petugas dan pasien.
Pahami menekankan pentingnya petugas mendengarkan dan menggali apa yang sesungguhnya dirasakan dan dikhawatirkan oleh pasien. Setiap pasien memiliki sumber kecemasan yang berbeda-beda, sehingga pemahaman yang tepat terhadap kondisi psikologis pasien menjadi kunci untuk memberikan dukungan yang sesuai kebutuhan.
Dampingi menjadi tahap akhir sekaligus wujud nyata kehadiran tim medis di sisi pasien. Pendampingan dilakukan sejak pasien berada di ruang tunggu operasi, saat pemasangan alat monitor, hingga menjelang proses anestesi dimulai, agar pasien tidak merasa ditinggalkan sendirian pada momen-momen yang paling menegangkan.
Selama proses penyelesaian tugas akhir (Karya Kinerja), Febriyanto Tatali mendapatkan bimbingan intensif dari pembimbing utama; Ns. Suwanti, S.Kep.,MNS, dalam penyusunan karya kinerja keperawatan ini. Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien, dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi SMART SAPA. Pengukuran tingkat kecemasan pasien diukur menggunakan APAIS (Amsterdam Perioperative Anxiety and Information Scale).
Sejak diterapkan, inovasi SMART SAPA dilaporkan memberikan dampak positif terhadap kondisi psikologis pasien pre operasi. Banyak pasien mengaku merasa lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih siap secara mental menghadapi tindakan operasi setelah mendapatkan pendekatan komunikasi ini.
Selain berdampak pada pasien, program ini juga mempererat hubungan saling percaya antara tenaga medis dan pasien, yang pada akhirnya turut mendukung kelancaran seluruh rangkaian prosedur pembedahan.
Metode ini mudah diterapkan, hemat biaya, dan dapat dijadikan standar dalam asuhan keperawatan pasien dengan gangguan kecemasan di rumah sakit. Inovasi ini dapat diaplikasikan kepada pasien khususnya yang akan mejalani tindakan operasi di semua rumah sakit.
Febriyanto Tatali menyatakan bahwa ia sangat bersyukur sekali bisa melanjutkan studi di Prodi S1 keperawatan UNW yang telah terakreditasi Unggul dan mendapatkan pendampingan yang sangat baik selama studi dan khususnya saat menyelesaikan tugas akhir. (ril/muz)






