Keluarga Sutrimo Penjaga Rumah mantan Jampidsus Melapor, Pasrah Jika Makamnya Dibongkar


JATENGPOS.CO.ID, BANYUMAS- Kematian Sutrimo (42) penjaga rumah mantan Jampidsus Fabrie Andriansyah menjadi sorotan publik di tengah bergulirnya penyidikan kasus yang menjerat Febrie. Sorotan atas kematian  warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, itu, akhirnya berbuntut laporan polisi.

Keluarga yang awalnya ikhlas menerima kepergian Sutrimo, memilih melapor ke Polresta Banyumas setelah dihantam kabar simpang siur yang beredar luas. Laporan resmi itu tercatat dalam Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) Nomor: STTLP/79/VIII/2026/SPKT/POLRESTA BANYUMAS/POLDA JAWA TENGAH, dan dibuat Sabtu (8/8/2026) malam.

Kuasa hukum keluarga, Aan Rohaeni, menegaskan laporan ini bukan karena keluarga menemukan kejanggalan sejak awal. Justru sebaliknya.

“Prinsipnya keluarga cuma minta kepastian hukum terkait meninggalnya saudara Sutrimo. Wajar atau tidak, cuma itu saja,” kata Aan seusai mendampingi keluarga.Menurut Aan, keluarga sempat melihat jenazah saat tiba di rumah.


Kondisinya bersih dan sudah dikafani. Kain kafan sempat dibuka dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan. “Kondisinya bersih. Sudah dikain kafan,” ujar Tukim, kakak tiri Sutrimo.

“Enggak ada. Makanya dari keluarga langsung mengikhlaskan karena ya namanya orang kampung. Keadaan jenazah bersih. Jadi enggak ada kecurigaan apa-apa,” lanjutnya.

Baca juga:  Ketua RT di Banyumas Harus Mendata Warga Terkonfirmasi COVID-19

Lalu kenapa melapor? Jawabannya karena gaduh.”Karena berita simpang siur ke sana-ke sini, mengganggu lingkungan sekitar buat keluarga juga lingkungan masyarakat di Desa Wlahar. Jadi keluarga ingin kepastian,” jelas Aan.

Keputusan melapor ini juga bukan mendadak. Keluarga menggelar rapat selama 2 hari berturut-turut sebelum akhirnya sepakat mendatangi polisi.

Salah satu pertanyaan besar yang muncul adalah kemungkinan autopsi. Abi, salah satu keluarga, mengatakan pihaknya akan kooperatif jika penyidik memang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Kalau dari keluarga sebenarnya enggak merelakan buat digali lagi. Cuma kalau memang dari negara dibutuhkan untuk autopsi demi kepastian itu, mau tidak mau diikuti,” kata Abi.

Aan juga meminta publik dan media menahan diri membuat kesimpulan. Ia memohon ruang untuk keluarga, terutama ibu Sutrimo yang disebut masih sangat terpukul.

“Saya lihat ibunya sangat syok. Jadi mohon maaf setelah ini kami mungkin tidak akan memberikan konfirmasi apa pun. Karena semuanya sudah kami serahkan kepada penyidik,” ujarnya.

“Kita berdoa, semoga sebenarnya kematiannya wajar,” imbuh Aan.

Dari informasi keluarga, saat jenazah tiba di rumah, yang diterima antara lain KTP Sutrimo, uang santunan Rp 20 juta, serta surat-surat keterangan dari rumah sakit. Ponsel milik Sutrimo disebut tidak diterima.

Baca juga:  BPBD Sebut Wilayah Terdampak Kekeringan di Cilacap Bertambah Menjadi Tujuh Desa

Kasus ini sebelumnya juga tengah didalami Ditreskrimum Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Selatan. Sutrimo ditemukan meninggal di depan klinik kecantikan Mordent di Jalan Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Polisi telah melakukan olah TKP ulang dan mengumpulkan keterangan dari keluarga, pengemudi ambulans, petugas rumah sakit, serta rekam medis korban. Beredar informasi korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

Bahkan disebut-sebut Sutrimo merupakan kepala rumah tangga mantan Jampidsus Kejagung Febrie Adriansyah. Namun polisi belum memastikan kebenarannya.

“Masih didalami,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, Minggu (26/7/2026).

Ia juga mempersilakan keluarga melapor jika merasa ada kejanggalan.

“Kita juga memberikan imbauan apabila memang keluarga korban merasa ada kejanggalan terhadap meninggalnya saudara S, ini bisa membuat laporan kepada Polda Metro Jaya,” tuturnya.

Kini bola ada di tangan penyidik. Keluarga hanya menunggu satu hal tentang kepastian penyebab kematian korban. (dtc/muz)


TERKINI

Rekomendasi

...