‘Di Masjid Hatiku Terikat’ Kenangan Fadholi Tahun 1982 Jadi Penyemangat Takmir Masjid se-Kabupaten Semarang


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Aula kantor Aspirasi Drs. Fadholi di Pabelan, Kabupaten Semarang, Sabtu (8/8/2026) siang itu terlihat penuh. Ratusan ketua takmir dan pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) se-Kabupaten Semarang duduk rapi. Mereka hadir dalam Sarasehan MPR RI bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Semarang bertema “Peran Takmir Masjid dalam Menjaga Keutuhan NKRI”.

Suasana khidmat sekaligus semangat menyelimuti aula saat anggota Komisi V DPR RI, Drs. Fadholi., M.I.Kom menyampaikan sambutannya. Tiba-tiba membuka lembaran kenangan 44 tahun lalu. Suaranya bergetar tapi matanya berbinar. Ia mengajak hadirin bernostalgia mengenang masa mudanya sebagai aktivis masjid.

“Tahun 1982 saya sebagai Ketua Remaja Masjid se-Kota Madya Salatiga,” kenang Fadholi.


Waktu itu ia masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA). Di bawah kepemimpinannya, ada 65 kelompok pengajian remaja. Setiap Ahad pagi, masjid-masjid di Salatiga ramai anak muda mengaji.

“Kita waktu itu punya komunitas. Ada sekitar 15 masjid yang setiap minggu bergiliran mengadakan pengajian Ahad pagi. Itu terus berjalan dengan baik, luar biasa,” ujarnya.

Yang paling ia ingat adalah semangat anak-anak muda saat itu. Sampai-sampai ia membuatkan kaos khusus untuk komunitasnya. “Saya masih ingat, waktu itu saya membuat kaos bertuliskan ‘Di Masjid Hatiku Terikat’. Luar biasa. Alhamdulillah,” ucap Fadholi sambil tersenyum.

Kenangan itu jadi tamparan halus dengan kondisi saat ini. Ia prihatin, masjid sekarang megah, fisiknya kokoh, tapi isinya kebanyakan bapak-bapak berusia di atas 50 tahun.

“Kesadaran beribadah di usia 50 ke atas itu sudah biasa. Godaan sudah tidak ada. Wong arep bayar wis ora kuat,” canda Fadholi disambut tawa hadirin.

Baca juga:  Desa Jadi Indikator Kemajuan Daerah, Ganjar Titip PR Pembangunan Masih Panjang

Ia lalu melempar tantangan bagaimana jika di setiap masjid di Kabupaten Semarang bisa dihidupkan lagi pengajian Ahad pagi atau minimal 1-2 kali seminggu khusus pemuda.

“Kalau di setiap masjid itu ramai pemuda untuk bisa ngaji di situ, itu adalah salah satu era perkembangan masjid untuk bisa memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat,” katanya.

Fadholi menegaskan, membangun masjid secara fisik di masyarakat sudah tidak diragukan. Tapi membangun “ruh Islam” di hati generasi muda itulah yang menjadi PR besar.

“Masjid banyak, mushola banyak. Tetapi yang sekarang kita harus bangun adalah ruh Islam itu bagaimana agar bisa merefleksi di dalam kegiatan sehari-hari. Kalau pemuda kita ini lewat, maka masa depannya ini pasti akan susah,” tegasnya.

“Kalau remaja, SMA, mahasiswa sudah tidak ada lagi di masjid, eksistensi keislaman itu akan mulai pudar. Ini sangat berbahaya. Ini keprihatinan kita bersama karena kita semuanya punya anak dan punya cucu,” tambahnya.

Ia menekankan gerakan masjid harus terorganisir dengan baik. Karena ‘Al haqqu bil ridho, batil bil batil’ sesuatu hal yang baik tidak direncanakan dengan baik, tidak diatur dengan baik, tidak ada manajemen yang baik, maka akan kalah dengan batil yang diorganisir dengan baik.

Fadholi juga mengapresiasi Kemenag dan jajaran yang sudah punya program Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) untuk mengatur kemakmuran masjid. Inti dari semua itu, menurutnya, adalah silaturahmi dan ukhuwah.

“Makna dari silaturahmi ini adalah kita bersama karena kita satu saudara. Kita bersama karena kita sama-sama hamba Allah. Ini kalau kemudian ada sentuhan emosional satu sama lain itu luar biasa. Jika kemudian ada salah satu anggota DMI yang lagi kesusahan, minimal yang lain ikut mendoakan bersama-sama,” ucapnya.

Baca juga:  Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Polda Jateng Gelar Doa Bersama Lintas Agama

Fadholi juga menyoroti minimnya pendidikan agama di perguruan tinggi umum, bahkan di SMA juga pendidikan agama hanya sekilas saja. Karena itu ia berharap masjid bisa mengisi kekosongan itu lewat kajian-kajian ringan untuk pemuda.

“Salah satu programnya adalah bagaimana mengaktifkan kegiatan pengajian atau taklim. Kajian-kajian yang enggak usah berat-berat tapi menarik generasi muda,” harapnya.

Di akhir sambutan, Fadholi menutup dengan mengingat nasihat dari gurunya, KH. Mahfudz Ridwan, tokoh ulama sepuh NU dan pendiri Ponpes Edi Mancoro Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang.

“Saya ingat pesan dari guru saya, mbah KH Mahfudz Ridwan menyampaikan, ibadah itu kalau kenikmatan dunia, hanya nikmatnya saja saat melaksanakan. Ia mencontohkan orang yang ngerasani tetangga, nikmatnya hanya pada saat itu. Tetapi kalau amal akhirat, amal langsung kepada Allah biasanya waktu melaksanakan berat,” ungkapnya.

Contohnya, bangun malam menjalankan ibadah tahajud, berat tapi nikmatnya pasti mendapatkan pahala Allah. Fadholi kemudian menutup dengan optimisme.

“Saya yakin dan saya berdoa dan saya husnuzon bahwa insyaallah semuanya yang hadir ini adalah calon-calon penghuni surga. Maka marilah kita ajak sanak saudara kita untuk bisa bersama-sama masuk surga dengan melalui kegiatan-kegiatan keibadahan yang sangat luar biasa,” pungkasnya.

Sarasehan dihadiri Ketua DMI Kabupaten Semarang KH Zaenal Abidin, Kepala Kemenag Kabupaten Semarang H. Ta’yanul Birri Bagus Nugroho, Camat Bringin Masyhudi, serta perwakilan pengurus DMI dari seluruh kecamatan se-Kabupaten Semarang. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...