JATENGPOS.CO.ID, WONOGIRI – Selembar kain putih menjadi awal dari sebuah kisah tentang perjuangan, harapan, dan keberanian. Di Desa Pucung, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, para penyandang disabilitas mencipratkan warna di atas kain, mengubah keterbatasan menjadi karya yang bernilai.
Tidak ada pola yang selalu sempurna. Ada warna yang melebar, berbelok, bahkan jatuh tanpa aturan. Namun, dari cipratan-cipratan itulah lahir motif batik yang memiliki karakter sekaligus menyimpan cerita tentang kehidupan para pembuatnya.
Kisah tersebut hadir melalui Batik Ciprat Karya Barokah. Kelompok ini menjadi ruang bagi para penyandang disabilitas untuk menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya, apalagi menjadi beban bagi keluarga maupun lingkungan.
Perjalanan itu bermula pada 2017. Saat itu, lebih dari 60 penyandang disabilitas di Desa Pucung belum memiliki ruang yang cukup untuk berkembang dan sebagian masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat maupun keluarga.
Ketua Yayasan Batik Ciprat Karya Barokah, Yoyok Ernowo, menuturkan gagasan pemberdayaan tersebut berawal dari perhatian Kepala Desa Pucung terhadap kondisi para penyandang disabilitas.
“Kepala Desa Pucung melihat ada 60 lebih penyandang disabilitas yang pada waktu itu masih belum diberdayakan, masih dianggap beban,” tuturnya.
Dari kegelisahan tersebut, muncul upaya untuk memberikan keterampilan yang dapat menjadi ruang ekspresi sekaligus pemberdayaan. Membatik kemudian dipilih sebagai jalan untuk membuka kesempatan baru.
Pada 2018, enam penyandang disabilitas mengikuti pelatihan membatik selama dua hari dengan pendampingan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Wonogiri. Pelatihan itu menjadi langkah awal mereka mengenal proses membatik sekaligus membangun kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.
Namun, mengajarkan keterampilan kepada para anggota bukan perkara mudah. Para pendamping juga harus belajar memahami cara berkomunikasi, terutama karena sebagian anggota tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan menggunakan bahasa isyarat yang berbeda.
“Kita belajar komunikasinya otodidak, apa adanya. Kita membaca apa yang disampaikan lewat isyarat tangan, kemudian ekspresi, dan sebagainya,” kata Yoyok.
Komunikasi kemudian tumbuh melalui proses panjang. Sedikit demi sedikit, pendamping dan anggota belajar memahami satu sama lain melalui gerakan tangan, ekspresi wajah, hingga kebiasaan sehari-hari.
Dari enam orang pada awalnya, kelompok tersebut berkembang menjadi 23 anggota pada 2019. Kini, sebanyak 10 orang masih aktif berkarya dan terus menghasilkan Batik Ciprat dengan ciri khas cipratan warna yang menjadi identitas mereka.
*Menjawab Keraguan dengan Karya*
Perjalanan Karya Barokah tentu tidak selalu berjalan mulus. Di tengah proses berkembang, muncul pula keraguan dan pandangan miring dari sebagian masyarakat terhadap kegiatan yang dilakukan para penyandang disabilitas tersebut.
Namun, keraguan itu justru menjadi pemantik untuk terus membuktikan bahwa mereka mampu. Bukan dengan perdebatan, melainkan melalui karya yang bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya.
“Harus kita jawab dengan karya-karya, dengan kegiatan-kegiatan yang bisa membuktikan bahwa kegiatan ini memang sangat bermanfaat bagi teman-teman penyandang disabilitas,” ujar Yoyok.
Kain-kain yang awalnya hanya menjadi media belajar kemudian berubah menjadi bukti perjuangan. Dari tangan para penyandang disabilitas, Batik Ciprat Karya Barokah perlahan dikenal lebih luas.
Mereka berkesempatan bertemu berbagai tokoh dan meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya Platinum Category pada Indonesian CSR Award (ICA) 2024 dan Gold Category Award pada Indonesian SDGs Awards (ISDA) 2023.
Memasuki Agustus 2026, perjuangan tersebut kembali mendapatkan pengakuan. Batik Ciprat Karya Barokah berhasil menembus jajaran finalis penghargaan Padma Mitra Award.
*PLN Peduli Hadir Memperkuat Ruang Tumbuh*
Di balik perjalanan panjang tersebut, dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Karya Barokah. Salah satunya datang melalui PLN Peduli lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Sejak 2022, PLN Peduli berkomitmen memperkuat ruang tumbuh Batik Ciprat Karya Barokah. Dukungan diberikan tidak hanya dalam bentuk fasilitas produksi, tetapi juga sarana dan prasarana, workshop, ruang display, hingga alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat batik.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah, Bramantyo Anggun Pambudi, mengatakan pemberdayaan tidak cukup dilakukan dengan niat baik. Menurutnya, dibutuhkan ruang, fasilitas, pendampingan, akses, dan kesempatan agar masyarakat yang diberdayakan dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Untuk itulah PLN hadir memperkuat perjuangan Batik Ciprat Karya Barokah,” tuturnya.
Dukungan tersebut menjadi lebih dari sekadar bantuan fasilitas bagi para penyandang disabilitas Karya Barokah. Ada kepercayaan yang ikut tumbuh bahwa karya mereka layak dilihat, kemampuan mereka layak dihargai, dan masa depan mereka layak diperjuangkan.
Semangat itulah yang membuat Batik Ciprat Karya Barokah memiliki makna lebih dari sekadar produk kerajinan. Setiap kain menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi para penyandang disabilitas.
Sebab, di balik setiap cipratan warna, terdapat tangan yang mungkin pernah dianggap tidak mampu. Ada seseorang yang dahulu dipandang sebagai beban, tetapi kini mampu menghasilkan karya yang membawa nama desanya lebih jauh.
Kisah Batik Ciprat Karya Barokah menjadi gambaran bahwa kemerdekaan tidak hanya tentang perayaan dan pengibaran bendera. Kemerdekaan juga hadir ketika setiap orang mendapatkan ruang untuk tumbuh, berkarya, dan menentukan masa depannya.
Tidak semua kehidupan dimulai dengan warna yang sempurna. Namun ketika diberikan ruang dan kesempatan, bahkan cipratan warna yang sederhana pun dapat berubah menjadi karya yang berarti.(aln)








