Bawang Putih Tawangmangu jadi Andalan Baru Ketahanan Pangan Nasional


JATENGPOS.CO.ID, KARANGANYAR – Bawang putih varietas lokal asal Tawangmangu diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Komoditas khas lereng Gunung Lawu itu dinilai memiliki produktivitas tinggi dan kualitas yang mampu bersaing dengan produk impor.

Potensi tersebut ditunjukkan dalam kegiatan Panen Raya Bawang Putih Nasional bersama Kapolri yang digelar di lahan pertanian Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Rabu (19/8).

Wakil Kepala Polda Jawa Tengah, Brigjen Pol. Dr. Latif Usman, S.I.K., M.Hum., mengatakan Jawa Tengah memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya komoditas bawang putih.

“Jawa Tengah ini menjadi salah satu penyokong utama bawang putih nasional. Kontribusinya mencapai sekitar 63 persen dari kebutuhan bawang putih nasional,” kata Latif.

Pengembangan bawang putih tidak hanya dipusatkan di Tawangmangu. Sejumlah daerah lain seperti Batang, Tegal, Pekalongan, Temanggung, dan Semarang juga menjadi sentra. Sementara Tawangmangu diarahkan sebagai sentra utama sekaligus pusat pengembangan bibit karena kondisi agroklimatnya sangat cocok.

Baca juga:  Mobilitas Masih Tinggi Kapolri Minta PPKM Diperketat

Dalam kesempatan itu, Polda Jawa Tengah juga mendorong peningkatan produktivitas petani melalui fasilitasi kebutuhan pertanian, mulai dari pupuk hingga alat dan mesin pertanian atau alsintan.

“Yang paling penting adalah bagaimana kebutuhan petani bisa kita fasilitasi, sehingga produktivitas terus meningkat dan Jawa Tengah tetap menjadi penyokong pangan nasional,” tegas Latif.

Ketua Gapoktan Ngudi Rezeki sekaligus Taruna Tani Maju, Bejo Supriyanto, menyebut petani Tawangmangu kini mengandalkan varietas lokal unggulan bernama Tawangmangu Baru.

Varietas ini memiliki produktivitas sekitar 15 ton per hektare pada kondisi cabut basah. Angka itu lebih tinggi dibanding varietas lain yang rata-rata hanya 10 ton per hektare.

“Keunggulannya produktivitas bisa mencapai 15 ton per hektare cabut basah. Umbinya juga lebih besar dan aromanya kuat sehingga bisa bersaing dengan produk impor,” ujar Bejo.

Baca juga:  Pemkot Surakarta Daftarkan 12.259 Calon Pertama Penerima Vaksin

Pengembangan varietas lokal ini menjadi modal penting untuk mendukung target pemerintah mewujudkan swasembada bawang putih pada 2028-2029.

Saat ini penanaman masih dilakukan secara mandiri oleh petani. Harga pokok produksi bawang putih cabut basah berada di kisaran Rp12.000 per kilogram, sementara harga benih mencapai Rp46.000 per kilogram.

Di Kelurahan Kalisoro, potensi lahan bawang putih mencapai 30 hingga 40 hektare yang dikelola enam kelompok tani di bawah Gapoktan Ngudi Rezeki. Penanaman dimulai sejak Mei 2026 dan memasuki masa panen bertahap pada Agustus hingga September.

Menurut Bejo, cuaca kemarau justru menguntungkan karena bawang putih membutuhkan kondisi panas dan minim hujan agar umbi tumbuh optimal. “Tantangan utamanya memang cuaca, tetapi kondisi sekarang cukup mendukung,” katanya.

Polda Jawa Tengah mencatat kegiatan tanam serentak telah mencakup sekitar 11,8 hektare. Sementara target panen raya bawang putih hingga September 2026 diproyeksikan mencapai 110 hektare.(yas/rit)


TERKINI


br>

Rekomendasi

...