Dinarpus Kudus Gandeng Gol A Gong Dongkrak Minat Baca


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Kudus menggelar rangkaian Safari Literasi Jawa, dengan menghadirkan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, Selasa-Rabu (18-19/8). Kegiatan ini menjadi magnet baru untuk mendongkrak minat baca masyarakat di tengah gempuran era digital.

Kepala Dinarpus Kabupaten Kudus, Mutrikah, menegaskan bahwa perpustakaan modern harus adaptif terhadap perkembangan zaman. Saat ini, Dinarpus tidak lagi sekadar menjadi tempat penyediaan buku cetak, melainkan ruang kreatif yang interaktif.

‘’Kami ingin memberikan warna baru, bahwa di perpustakaan sekarang ada kegiatan inovatif yang menjadi magnet masyarakat,’’ ujar Mutrikah.

Sambungnya, untuk menghidupkan suasana, Dinarpus Kudus merangkul berbagai elemen masyarakat. Mulai dari lembaga pendidikan, komunitas budaya, pariwisata, penulis, dunia usaha, hingga kelompok penyandang disabilitas.

‘’Rangkaian acara pun kami kemas menarik, memadukan bimbingan teknis (bimtek) literasi, talkshow proses kreatif buku, pembacaan puisi, musik akustik, hingga bazar buku dan kuliner,’’ jelasnya.

Baca juga:  Operasional SPBU 44.593.22 Kudus Dihentikan Sementara

Hadirnya Gol A Gong di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kudus ini, membawa misi besar untuk memotivasi warga agar gemar membaca dan menulis. Pria yang tengah menjalani tur Safari Literasi Jawa ke 29 kota ini, pun mengapresiasi padatnya agenda literasi di Kudus. Selain mengisi talkshow, ia juga memberikan pelatihan menulis fiksi mini di SMP Negeri 1 Jati pada Rabu (19/8).

Dalam kesempatannya, Gol A Gong mematahkan stigma negatif tentang potret literasi nasional. Berdasarkan pengalamannya berkeliling nusantara, ia bersaksi bahwa antusiasme membaca masyarakat Indonesia sebenarnya sangat tinggi.

‘’Saya saksi hidup bahwa masyarakat Indonesia itu minat bacanya tinggi. Hanya negara belum sanggup memenuhi hasrat itu,’’ tegas Gol A Gong.

Baca juga:  Polres Kudus Pastikan Paket di Rumah Pendeta Aman

Menurutnya, hambatan utama literasi di Indonesia bukanlah kemalasan, melainkan faktor eksternal. Di antaranya adalah ketimpangan akses, keterbatasan sarana prasarana, serta pasokan buku yang belum merata, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.

Oleh karena itu, ia mendorong penguatan ekosistem literasi lokal mandiri. Ia mencontohkan tren positif di berbagai daerah, di mana para guru, siswa, dan komunitas kini aktif memproduksi buku sendiri tanpa ketergantungan pada penerbit besar.

‘’Melalui sinergi kuat antara pemerintah daerah, komunitas, dan fasilitas perpustakaan yang memadai, masa depan literasi di Kudus diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga produktif menghasilkan karya,’’ pungkasnya. (han/rit)


TERKINI


br>

Rekomendasi

...