Ketahanan Pangan sebagai Bela Negara: Dari Pekarangan Menuju Kemandirian Desa 


Belajar dari pemberdayaan perempuan di Desa Toriyo, Sukoharjo

Oleh: Anis SuryaningsihS.Pd., M.Sc (Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret)

JATENGPOS. CO. ID, SOLO- Pangan sering kali baru terasa penting ketika harga meningkat, pasokan terganggu, atau masyarakat mulai kesulitan mendapatkannya. Padahal, pangan merupakan fondasi kehidupan sekaligus bagian penting dari ketahanan nasional. Karena itu, ketahanan pangan tidak semestinya hanya dipahami sebagai urusan pemerintah. Rumah tangga dan komunitas memiliki peran yang tidak kalah penting.

Pandangan tersebut semakin kuat bagi saya setelah terlibat langsung dalam program SIGAP PANGAN di Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat dengan skema pendanaan BIMA dari Direktorat Jenderal Riset, Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026, berdasarkan Kontrak Nomor 416.1/UN27.22/PT.01.03/2026.

Program ini melibatkan Kelompok Ngudi Makmur yang beranggotakan 20 ibu rumah tangga. Mereka memiliki pengalaman budidaya sayuran, sumber air, serta semangat gotong royong. Namun, pemanfaatan lahan masih terbatas, budidaya masih konvensional, dan sebagian hasil panen dijual segar sehingga nilai tambah belum optimal.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar soal kemampuan menanam. Di dalamnya terdapat persoalan teknologi, keterampilan, biaya produksi, pengelolaan usaha, pengolahan hasil, pemasaran, dan kesadaran mengenai kemandirian pangan.

Dari Pekarangan Menuju Kemandirian

Masyarakat tidak hanya diberikan pengetahuan budidaya, tetapi juga diperkenalkan teknologi sederhana sesuai kondisi lokal, salah satunya pupuk organik cair berbahan urine kelinci. Pada Juni 2026, pelatihan dilakukan dengan melibatkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah. Sejumlah peralatan pertanian juga diserahkan untuk mendukung praktik budidaya.

Di sinilah Bela Negara menjadi lebih konkret. Bela Negara dapat diwujudkan melalui kemampuan memanfaatkan sumber daya lokal, mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar, dan membangun kemandirian.

Ibu-ibu yang menanam sayuran mungkin tidak merasa sedang melakukan aktivitas kebangsaan. Namun, ketika kegiatan tersebut membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, mengurangi pengeluaran, dan berpotensi berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif, mereka sesungguhnya turut memperkuat ketahanan masyarakat.

Perempuan dan Smart Village

Perempuan bukan sekadar konsumen pangan. Mereka dapat menjadi aktor penting dalam membangun kemandirian pangan ketika memperoleh akses terhadap pengetahuan, teknologi, sarana produksi, dan ruang untuk mengembangkan kapasitas kelompok.

Ketahanan pangan juga dapat menjadi pintu masuk menuju Smart Village. Desa cerdas bukan semata-mata desa yang memiliki internet atau aplikasi digital, tetapi desa yang mampu mengenali persoalan, memanfaatkan sumber daya lokal, menggunakan teknologi secara tepat, dan melibatkan masyarakat.

Dalam konteks Toriyo, teknologi tidak harus mahal dan rumit. Budidaya lahan sempit, pupuk organik, pencatatan usaha, pengolahan pangan, dan pemasaran digital merupakan inovasi yang dapat memperkuat kapasitas masyarakat.

Teknologi mengikuti kebutuhan, bukan sebaliknya.

Bela Negara yang Tidak Berhenti pada Seremoni

Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor pemahaman peserta meningkat dari 64,3 pada pre-test menjadi 78,8 pada post-test, atau naik 22,55 persen. Peningkatan terjadi pada seluruh aspek yang diukur. Namun, capaian tersebut belum mencapai target 30 persen.

Hal ini mengingatkan bahwa pemberdayaan tidak dapat diukur hanya dari keberhasilan pelatihan. Peningkatan pengetahuan harus bergerak menjadi perubahan perilaku. Tanaman harus berhasil dipanen, hasilnya memiliki nilai tambah, produk dipasarkan, kelompok memiliki pencatatan usaha, dan seluruh proses akhirnya mampu berjalan mandiri.

Bela Negara tidak cukup hanya diajarkan. Ia harus dipraktikkan.

Ketika pekarangan menghasilkan pangan, perempuan memperoleh keterampilan, sumber daya lokal dimanfaatkan, dan teknologi memperkuat usaha masyarakat, di situlah Bela Negara memperoleh makna nyata.

Bela Negara tidak selalu membutuhkan panggung besar. Ia bisa dimulai dari sebidang pekarangan, sekelompok ibu, dan satu meja makan keluarga. Dari sana, ketahanan keluarga tumbuh, ketahanan masyarakat menguat, dan ketahanan bangsa dibangun. (*)


TERKINI

Rekomendasi

...